Live score

sekolah ternak

puskesmas sumberrejo

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

benihtoto

advanced building ltd

7 brenovation

whatsapp marketing yusoftware

Kakinada Institute of Engineering and Technology

Projects | LJR28 Realty

Featured Trips & Itineraries - Gulliver Trips

Import & Export of premium Beverages

limonuk

Alert Care Ltd

Professional Service for Your Assets

Best Drop and Scratch Protection

The Best Valentine’s Gifts 2026

Комплексные поставки промышленного сырья

Барс - Каталог прицепов

ZBM Collections

IT SOLUTIONS & SERVICES

TEKNAS

ormastoto

Penyelamatan Sritex, Bantalan untuk Pekerja yang Terkena PHK adalah Kunci - Jahangir Circle News

Jahangir Circle News

berita dari seluruh kalangan dunia

Bisnis

Penyelamatan Sritex, Bantalan untuk Pekerja yang Terkena PHK adalah Kunci

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Perusahaan tekstil PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri Niaga (PN) Semarang. Hal itu tertuang dalam putusan perkara nomor 2/Pdt.Sus-Homologasi/2024/PN Niaga Smg. Shritex dinyatakan pailit karena penagihan utang jumbo sebesar US$1,6 miliar atau Rp 25,01 triliun. 

Read More : Cara Mengelola Keuangan Bisnis Dengan Efektif

Presiden Indonesia Prabowo Subianto fokus pada kebangkrutan Sritex dengan memerintahkan empat menterinya untuk menyelamatkan perusahaan tersebut. Ekonom Institute of Economic Development and Finance (INDEF) Isha Magfiruha Rachbin berpendapat bahwa ada kebutuhan untuk melakukan hal ini bagi seluruh industri tekstil.

“Jadi tidak hanya menyasar satu perusahaan saja, penyelamatan dilakukan dengan memberikan selimut kepada para pekerja yang terkena PHK, karena dampaknya terhadap daya beli akan membuat mereka jatuh miskin jika tidak memiliki penghasilan,” Isha. kata Republica. , Senin (28/10/2024).

Hal itu dilakukan untuk menjamin penerapan China-ASEAN Free Trade Area (ACFTA), sebelum merebaknya penyakit Covid-19 yang menurunkan daya saing industri tekstil Indonesia (TPT). Indonesia menghadapi defisit perdagangan dengan Tiongkok, yang mendominasi pasar tekstil global dengan produk yang lebih baik dan daya saing yang lebih tinggi. 

Ketidakmampuan bersaing juga dapat memperburuk perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Situasi ini mendorong produk garmen Tiongkok masuk ke pasar Indonesia. Dikonfirmasi terpisah, Chief Economist PT Mire Asset Securitas Indonesia Rully Arya Wisnubroto memperkirakan salah satu solusi menyelamatkan Sritex adalah dengan menjual aset untuk melunasi utang. 

Dengan adanya permohonan pailit yang diajukan oleh PT Indo Bharat Rayon yang dikabulkan oleh Pengadilan Negeri Semarang dan Sritex kini mengajukan permohonan ke Mahkamah Agung yang akan memutuskan diterima atau ditolaknya permohonan kasasi. Ditolak, maka putusan Pengadilan Negeri tetap sah, mengurus, menjaminkan dan menjual harta kekayaan perseroan untuk melunasi utangnya. Proses kepailitan akan dilanjutkan melalui kurator yang bertanggung jawab, ujarnya.

Jika Anda ingat masa lalu Sritex didirikan pada tahun 1966 dan berhasil mengekspor produknya ke banyak negara termasuk seragam militer. Shritex telah unggul dalam pembuatan seragam militer di berbagai belahan dunia. 

Read More : Cerita Sukses Startup Bisnis Lokal Yang Mendunia

Sepeninggal HM Lukminto pada tahun 2014, perusahaan dilanjutkan oleh kedua putranya, Ivan Setiawan Lukminto dan Ivan Kurniawan Lukminto, generasi kedua dari keluarga tersebut. Di bawah kepemimpinan saudara-saudaranya ini, Shritex tetap kokoh dan mampu mempertahankan nama besarnya di pasar global.

Kenyataannya, wabah Covid-19 tidak terlalu mengganggu operasional pabrik. PT Sritex terbukti mampu mendistribusikan 45 juta masker hanya dalam waktu tiga minggu. Selain itu, situasi Shritex yang terus mengekspor produknya ke Filipina masih menular.

Perusahaan ini memiliki beberapa lini produk mulai dari produksi pemintalan, tenun, finishing dan garmen. Dengan adanya kelompok usaha ini, proses produksi menjadi lebih cepat dan efisien.

Namun, meski produksi dan penjualan terus berlanjut, Shretex mendapati utangnya terus meningkat selama bertahun-tahun. Berdasarkan laporan keuangan terakhir, utang Sritex sekitar Rp 25 triliun. Di sisi lain, kerugian perseroan mencapai Rp 402,66 miliar hingga pertengahan tahun ini. Kewajiban dan kerugian tersebut meningkat akibat melambatnya penjualan akibat penyebaran pandemi Covid-19 dan ketatnya persaingan produk tekstil dan produk tekstil (TPT) antar negara. 

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *