Live score

sekolah ternak

puskesmas sumberrejo

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

benihtoto

advanced building ltd

7 brenovation

whatsapp marketing yusoftware

Kakinada Institute of Engineering and Technology

Projects | LJR28 Realty

Featured Trips & Itineraries - Gulliver Trips

Import & Export of premium Beverages

limonuk

Alert Care Ltd

Professional Service for Your Assets

Best Drop and Scratch Protection

The Best Valentine’s Gifts 2026

Комплексные поставки промышленного сырья

Барс - Каталог прицепов

ZBM Collections

IT SOLUTIONS & SERVICES

TEKNAS

ormastoto

Obesitas Picu Risiko Kanker Rahim Lebih Tinggai, Waspada! - Jahangir Circle News

Jahangir Circle News

berita dari seluruh kalangan dunia

Kesehatan

Obesitas Picu Risiko Kanker Rahim Lebih Tinggai, Waspada!

Republik Jakarta – Kanker serviks atau kanker endometrium merupakan pertumbuhan sel abnormal yang terjadi pada lapisan rahim. Penyakit ini seringkali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, sehingga sering kali baru terdiagnosis pada stadium lanjut. Salah satu faktor risiko yang semakin mendapat perhatian adalah obesitas.

Read More : Mengenal Psoriasis, Penyakit Autoimun yang tak Boleh Disepelekan

Obesitas (suatu kondisi di mana seseorang mengalami kelebihan berat badan secara signifikan) dikaitkan dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker, termasuk kanker serviks. Dr Adin Trirahmant, dokter spesialis obstetri dan ginekologi RS Sarjit mengatakan, selain gangguan menstruasi kronis, tamoxifen dan gen, obesitas juga menjadi faktor risiko kanker serviks dan endometrium.

Dalam siaran Kementerian Kesehatan Jakarta, Senin (18/11/2024), Pak Adin menyampaikan bahwa kanker serviks merupakan salah satu jenis kanker yang banyak menyerang perempuan, dan kanker serviks serta kanker ovarium ini merupakan yang ketiga. . Dia mengatakan kanker endometrium terutama menyerang wanita pascamenopause.

Menurutnya, ada beberapa faktor risiko yang bisa menyebabkan kanker serviks. Terkait obesitas, dr Adin mengatakan kelebihan lemak dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan peningkatan estrogen sehingga dapat memicu hiperplasia, yaitu proses penebalan dinding rahim.

“Jadi kalau kita mau lihat ini yang belum kanker, kadang orang punya masalah menstruasi yang berlebihan sebelum terkena kanker, mungkin di masa reproduksinya. Kita mungkin lihat berat badannya. Kalau itu kanker, Kalau kelebihan berat badan karena Anda kelebihan berat badan, katanya, “Saran dokter tentu saja menurunkan berat badan dan menjaga berat badan ideal. Maka siklusnya akan berbalik di kemudian hari.”

Ia mengatakan obesitas juga mempengaruhi siklus menstruasi. Oleh karena itu, penting untuk melakukan perubahan gaya hidup untuk mencegah kanker serviks di kemudian hari.

Adapun faktor risiko lainnya salah satunya adalah tamoxifen, ujarnya. “Tamoxifen itu pengobatan kanker payudara, tapi ada risikonya, misalnya pada orang yang masih punya rahim, karena tamoxifen merangsang hiperplasia endometrium. Ada, tapi tidak selalu, risikonya,” ujarnya.

Read More : Bagaimana Kesadaran Masyarakat Terhadap Kesehatan Mental Meningkat

Di sisi lain, ia mengatakan faktor genetik misalnya mutasi pada gen BRCA. Gejala yang umum terjadi adalah keluhan perdarahan pascamenopause. Oleh karena itu, penting untuk memeriksakan diri ke dokter jika menemukan hal tersebut, ujarnya. Kanker serviks dapat dideteksi dengan USG dan biopsi.

Pasien yang belum memasuki masa menopause namun mengalami kelainan serupa sebaiknya juga memeriksa diri sendiri kelainan apa yang dialaminya. Hiperplasia pada wanita yang belum menopause biasanya disebabkan oleh faktor hormonal, kata Adin.

“Saat ini belum ada deteksi dini kanker serviks, seperti deteksi dini kanker serviks,” ujarnya.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *