Live score

sekolah ternak

puskesmas sumberrejo

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

benihtoto

advanced building ltd

7 brenovation

whatsapp marketing yusoftware

Kakinada Institute of Engineering and Technology

Projects | LJR28 Realty

Featured Trips & Itineraries - Gulliver Trips

Import & Export of premium Beverages

limonuk

Alert Care Ltd

Professional Service for Your Assets

Best Drop and Scratch Protection

The Best Valentine’s Gifts 2026

Комплексные поставки промышленного сырья

Барс - Каталог прицепов

ZBM Collections

IT SOLUTIONS & SERVICES

TEKNAS

ormastoto

Ekonom Yakini Prospek Pasar Obligasi RI Cerah - Jahangir Circle News

Jahangir Circle News

berita dari seluruh kalangan dunia

Teknologi

Ekonom Yakini Prospek Pasar Obligasi RI Cerah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kepala Riset Pendapatan Tetap Mandiri Securitas Handi Unionto optimis pasar obligasi Indonesia memiliki prospek cerah ke depan. Pasalnya kinerjanya selama ini cukup tangguh.

Read More : Pemberdayaan Konten Lokal Melalui SnackVillage

“Meski imbal hasil US Treasury meningkat 60 basis poin dalam dua bulan terakhir, namun spread imbal hasil kita mengecil,” kata Anto dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (20/11/2024).

Ia menyebutkan ada tiga faktor yang mendorong ketahanan pasar obligasi Indonesia.

Pertama, porsi kepemilikan obligasi kini didominasi oleh investor domestik, khususnya investor ritel. Jika dulu obligasi bergantung pada investor institusi, kini kontribusi investor ritel memberikan insentif baru yang cukup signifikan.

“Sebagai catatan, porsi kepemilikan asing juga turun dari 40% menjadi 15%,” ujarnya menjelaskan mengapa korelasi antara imbal hasil Treasury AS dan obligasi kita menurun karena pasar lebih banyak didukung oleh faktor internal.

Kedua, indikator perekonomian dalam negeri yang positif tercermin pada posisi cadangan devisa, pengelolaan fiskal yang hati-hati, dan inflasi yang relatif rendah.

“Jika kita menggabungkan semua indikator ini, kita berada di urutan keempat negara berkembang yang resisten terhadap kenaikan dolar AS dan imbal hasil obligasi Treasury AS,” ujarnya.

Ketiga, terkait persoalan fiskal lagi-lagi, terdapat risiko efisiensi anggaran tidak mencapai target pemerintah. Diasumsikan kebutuhan pembiayaan pemerintah tercukupi sehingga lelang Surat Utang Negara (SBN) akan lebih fokus pada penggalangan surplus pembiayaan dan sisa surplus pembiayaan neraca (SILPA).

Read More : JAHANGIR CIRCLE iPhone 16 Pro dan Pro Max Dirilis, Ini Spesifikasi dan Harganya

“Mudah-mudahan hal ini dapat mengurangi potensi risiko penawaran kami di pasar obligasi pada tahun 2025. Kami melihat ini sebagai sesuatu yang positif ke depan,” ujarnya.

Ke depan, Anto menilai Indonesia menawarkan return nominal yang menarik dibandingkan risiko kredit dan inflasi hanya sebesar 1,71% year-on-year. Hal ini menjadikan Indonesia lebih menarik dibandingkan negara berkembang lainnya.

“Kami masih mempertahankan pandangan positif. Risiko terbesar dari sudut pandang global adalah jika ternyata Federal Reserve tidak menurunkan suku bunganya. “Tapi sejauh ini kalau kita lihat datanya, potensi penurunan suku bunga AS masih besar,” ujarnya.

 

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *