Live score

sekolah ternak

puskesmas sumberrejo

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

benihtoto

advanced building ltd

7 brenovation

whatsapp marketing yusoftware

Kakinada Institute of Engineering and Technology

Projects | LJR28 Realty

Featured Trips & Itineraries - Gulliver Trips

Import & Export of premium Beverages

limonuk

Alert Care Ltd

Professional Service for Your Assets

Best Drop and Scratch Protection

The Best Valentine’s Gifts 2026

Комплексные поставки промышленного сырья

Барс - Каталог прицепов

ZBM Collections

IT SOLUTIONS & SERVICES

TEKNAS

ormastoto

Ketimbang PPN, Pemerintah Lebih Baik Tangani Pengemplang Pajak untuk Naikkan Penerimaan - Jahangir Circle News

Jahangir Circle News

berita dari seluruh kalangan dunia

Sains

Ketimbang PPN, Pemerintah Lebih Baik Tangani Pengemplang Pajak untuk Naikkan Penerimaan

REPUBLIK. Untuk meningkatkan penerimaan negara, lebih baik menyasar wajib pajak daripada memungut pajak lebih banyak dari masyarakat dibandingkan membebani wajib pajak yang membayar pajak, ujarnya. 

Read More : Sah, Kevin Diks Bisa Bermain Lawan Jepang

“Pemerintah sangat membutuhkan uang untuk menutupi perluasan defisit anggaran. Yang paling mudah bagi pemerintah adalah menaikkan PPN. Namun, ada pendapatan lain yang dirahasiakan, yaitu pendapatan pemerintah dari sektor pertambangan, yang masih banyak. haram,” kata Nailul, Kamis (28/11/2024). 

Nailul, Wakil Ketua Dewan Gerindra Hashim S. Djojohadikusumo yang juga adik Presiden Prabowo Subianto mengatakan, bisnis sawit akan menghasilkan ratusan triliun rupiah. seorang wajib pajak yang tidak membayar pajak. 

“Ada lawan yang pernah bilang ada pajak Rp 300 triliun, kenapa diback up? Daripada menaikkan pajak pertambahan nilai.” 

Nailul pun mengkritisi ucapan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaita soal kebijakan kenaikan PPN yang menurutnya pasti akan tertunda. Menurut Naylul, pernyataan tersebut tidak menunjukkan kemauan pemerintah terhadap kebijakan kontroversial tersebut. 

“Saya tidak melihat apa yang dikatakan Luhut sebagai indikasi jelas bahwa pajak akan dinaikkan atau dihapus. Pemerintah butuh waktu sampai masalah ini berkurang, tanpa berdampak pada lapangan. Kebijakan kenaikan pajak harusnya dihapuskan. terlambat, karena kenaikan PPN ini berdampak buruk bagi perekonomian,” kata Naylul.

Read More : Masih Bersihin Luka Pakai Alkohol? Dengarkan Nasihat dari Dr Gia Pratama

Jika kenaikan PPN menjadi 12 persen diterapkan maka pertumbuhan ekonomi bisa turun menjadi 4,9 persen, ujarnya. Bahkan dunia usaha bereaksi negatif terhadap kenaikan PPN karena khawatir akan menurunkan permintaan. 

Sebab, kenaikan PPN sebesar satu persen dapat menyebabkan kenaikan harga barang minimal sebesar 9 persen. Dunia usaha akan meresponsnya dengan membebankan harga yang lebih tinggi kepada konsumen akhir. Permintaan bisa saja menurun, ujarnya. 

 

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *