Artikel Rosé Blackpink Kenang Masa Trainee, Akui Kesepian Tapi Bertahan pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Sepertinya aku sudah menunggu seumur hidupku untuk merilis album ini. Padahal aku bermimpi untuk merilis album suatu hari nanti, tapi aku tidak pernah menyangka itu akan terwujud. Saat aku memulai proses ini tahun lalu, aku benar-benar meragukan diriku sendiri,” ujarnya dalam laman Allkpop miliknya (25/11/2024), seperti dilansir Senin (25/11/2024).
Lahir di Selandia Baru dan pindah ke Australia pada usia 8 tahun, Rosé menjadi trainee di YG Entertainment pada tahun 2012 setelah lulus audisi pada usia 15 tahun. Ketika dia mengingat kembali masa-masa magangnya, dia menggambarkan masa-masa itu sebagai masa-masa yang sangat terisolasi.
“Kesepian yang harus saya tanggung adalah sesuatu yang tidak dapat saya pahami sepenuhnya. Itu traumatis sampai syok, tapi saya bertahan,” ujarnya.
Terlepas dari kesulitan ini, Rosé bertahan dan debut dengan Blackpink pada tahun 2016. “Beberapa tahun pertama secara pribadi sangat sulit, namun seiring berjalannya waktu saya mulai beradaptasi dan belajar bagaimana menavigasi dunia baru ini,” katanya.
Rosé mencatat bahwa budaya penggemar K-pop membawa tantangan tambahan. Ia menjelaskan, “Kami dilatih untuk selalu menampilkan diri kami dengan sempurna, terutama ketika berinteraksi dengan penggemar secara online. Kami dibuat untuk terlihat seperti gadis yang sempurna bagi orang lain.”
Selama wawancara, Rosé menjadi emosional ketika ditanya tentang pelecehan yang dihadapi artis wanita secara online. “Saya menganggap diri saya orang yang kuat dan saya tidak ingin bereaksi secara emosional, tetapi ketika itu terjadi saya merasa sangat-sangat buruk,” ujar member Blackpink yang berduet dengan Bruno Mars itu.
Rosé juga berbicara tentang pelipur lara yang ia temukan dalam penulisan lagu, menggambarkannya sebagai cara untuk memproses emosi dan melindungi dirinya sendiri. “Menulis lagu adalah sebuah berkah di saat saya sangat membutuhkannya. “Saya akan membawa masalah besar ke dalam prosesnya, menuangkannya ke dalam sebuah lagu, dan kemudian masalah itu akan hilang dari hati saya,” ujarnya.
Artikel Rosé Blackpink Kenang Masa Trainee, Akui Kesepian Tapi Bertahan pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Terlalu Enak, Pelajar di Korea yang Mau Ujian Ogah Dengerin Lagu ‘APT’ pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Lirik yang menarik dan berulang seperti “apateu” (Bahasa Korea untuk “apartemen”) dalam melodi lagu yang membuat ketagihan membuatnya menjadi sensasi global. Lagu tersebut menduduki puncak tangga lagu Global Top 50 Spotify dan banyak digunakan dalam video pendek di media sosial. Namun, lagu ini sudah menjadi lagu yang tidak boleh digunakan oleh siswa yang sedang mempersiapkan ujian penting.
Dulu, “U R Man” (2008) milik SS501, “Ring Ding Dong” milik SHINee (2009) dan “Dumb Dumb” milik Red Velvet (2016) juga dianggap menimbulkan kecemasan di kalangan siswa yang mempersiapkan ujian. Bahkan lagu anak-anak seperti “Baby Shark” (2015) dan beberapa jingle komersial yang menarik mengalihkan perhatian siswa yang mencoba fokus pada persiapan ujian.
– Bahkan saat ujian, aku khawatir lagu itu akan tersangkut di kepalaku. tapi bagi kami, ketika ujian penting seperti itu, mungkin ada perasaan cemas,” kata siswa tersebut, Korea JoongAng Daily, Jumat (1/11/2024).
“Saya tidak sengaja melihat lagu” terlarang “ini di Internet, dan sekarang saya belum melupakannya. Itu membuatku gila. Bagaimana caranya berhenti,” kata siswa lainnya.
Berbagai komunitas online yang digunakan pelajar untuk berbagi informasi persiapan ujian memiliki tradisi memposting tautan “cair” yang memutar lagu-lagu terlarang tersebut. Namun bagi yang melakukan hal tersebut secara berlebihan, bisa berakibat pada suspensi akun.
Fenomena di mana melodi sebuah lagu diputar terus menerus di otak seseorang disebut earworm. Bagi masyarakat umum, earworm membantu menenangkan pikiran yang stres, namun bagi pelajar, earworm sering kali mengganggu.
Lim Myungo, pakar psikologi di Dankuk University, menjelaskan bahwa jiwa manusia lebih rapuh dari yang sebenarnya, sehingga suara yang sederhana dan berulang-ulang dapat dengan mudah memicu kecenderungan emosional. Menurut Myongo, generasi muda, terutama yang kurang pengalaman, lebih rentan terkena cacing telinga.
“Mendengarkan musik klasik yang menenangkan, meditasi ringan, latihan pernapasan atau peregangan dapat membantu menenangkan pikiran cemas. Cara efektif untuk mengatasi stres adalah dengan mengembangkan rutinitas pribadi sebelum ujian tiruan,” katanya.
Artikel Terlalu Enak, Pelajar di Korea yang Mau Ujian Ogah Dengerin Lagu ‘APT’ pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>