Artikel CELIOS: Kenaikan Upah Minimum 10 Persen Berpotensi Dongkrak PDB Hingga Rp 122 Triliun pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Di tengah perlambatan pertumbuhan konsumsi rumah tangga, CELIOS (Pusat Studi Ekonomi dan Hukum) merilis laporan bertajuk Skenario Kenaikan Upah Minimum pada Perekonomian Nasional 2025, yang menguraikan skenario kemungkinan dampak kenaikan upah minimum terhadap perekonomian Indonesia.
Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif CELIOS, mengatakan dalam beberapa tahun terakhir, kenaikan upah minimum yang cenderung rendah pasca pemberlakuan UU Cipta Kerja berdampak pada daya beli pekerja kelas menengah. “Ada hubungan antara rendahnya upah minimum dan menyusutnya kelas menengah. Dalam 10 tahun terakhir, pemerintah tidak pernah menjadikan upah minimum sebagai kebijakan counter-cyclical. Padahal, upah minimum yang lebih baik akan mendorong konsumsi rumah tangga dan menguntungkan pelaku usaha serta pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, kata Bhima.
Dari simulasi yang dilakukan CELIOS, Bhima menjelaskan kenaikan upah minimum sebesar 10 persen berpotensi meningkatkan konsumsi rumah tangga sebesar Rp67,23 triliun. Peningkatan konsumsi ini diharapkan dapat memberikan dampak positif, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM) yang terkena dampak langsung dari peningkatan daya beli pegawai.
Nailul Huda, Chief Financial Officer CELIOS, memaparkan hasil model ekonomi mereka yang menunjukkan dampak signifikan kenaikan upah minimum terhadap PDB nasional. “Kenaikan upah minimum sebesar 10% bisa mendorong PDB menjadi Rp 122,2 triliun pada tahun 2025, sedangkan jika menggunakan rumus PP 51/2023 pengaruhnya relatif kecil, hanya sekitar Rp 19,32 triliun,” jelas Huda menggunakan kata-kata tersebut. PP 78/2015 yang Menggabungkan pertumbuhan ekonomi dan inflasi diperkirakan akan berdampak pada PDB sebesar Rp 106,3 triliun.
Selain berdampak pada PDB, kenaikan upah minimum juga diyakini bisa menciptakan lapangan kerja baru. Menurut Huda, kenaikan upah minimum sebesar 10 persen diperkirakan akan menambah 1,19 juta lapangan kerja, jauh lebih tinggi dibandingkan formula PP 51/2023 yang hanya membuka 188 ribu lapangan kerja baru.
Dampak lain dari kenaikan upah minimum adalah surplus dunia usaha yang diperkirakan mencapai Rp71,08 triliun. Surplus ini berasal dari peningkatan penggunaan rumah tangga yang mempercepat peredaran uang dalam perekonomian. Peningkatan konsumsi ini dinilai sangat penting bagi keberlangsungan usaha kecil dan menengah yang sangat bergantung pada daya beli masyarakat.
Huda juga menambahkan, kenaikan upah minimum sebesar 10 persen mampu membantu menurunkan angka kemiskinan hingga 8,94 persen, dibandingkan formulasi sebelumnya yang membantu menurunkan kemiskinan hanya sebesar 0,01 persen. Kajian teknokratis terhadap beberapa skenario yang dilakukan lembaga penelitian hendaknya menjadi acuan bagi pemerintah agar tidak salah langkah dan memperburuk kondisi perekonomian, kata Huda.
Direktur Kebijakan Publik CELIOS, Media Wahyudi Askar, menekankan perlunya organisasi independen untuk menetapkan upah minimum dengan peran seperti Low Pay Commission di Inggris. “Kami menyarankan pemerintah segera membentuk organisasi independen yang diawasi oleh serikat pekerja dan pengusaha, tidak hanya mengacu pada data BPS,” kata Wahyu.
Momentum putusan Mahkamah Konstitusi, menurut CELIOS, dapat dijadikan game changer untuk merangsang permintaan domestik melalui instrumen pengupahan. Kenaikan upah minimum pada tahun 2025 akan menentukan arah pertumbuhan ekonomi Indonesia, apakah mampu tumbuh di atas 5% atau semakin terhimpit akibat melemahnya konsumsi rumah tangga.
Artikel CELIOS: Kenaikan Upah Minimum 10 Persen Berpotensi Dongkrak PDB Hingga Rp 122 Triliun pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Ekonom Soroti Pembenahan Struktur Kementerian di Pemerintahan Prabowo-Gibran pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Hari ini, Senin, 21/10/2024, telah dilantik 109 orang terpilih menjadi anggota kabinet Pravo periode 2024-2029. Merupakan kabinet paling tebal pada masa Orde Baru hingga Reformasi
Masalahnya, sekarang kabinetnya sangat besar dan banyak menteri dari berbagai partai politik yang punya kepentingan khusus, kata Wahoo, Senin (21/10/2024).
Ia mencermati, situasi ini berpotensi menimbulkan perselisihan internal sehingga sulit menyelaraskan semua kelompok dalam satu visi dan arah. Wahu mengatakan, “Wakil menteri bukan orang biasa, ada pula wakil menteri yang merupakan pimpinan partai”.
Ia berharap kedepannya tidak ada gerakan politik. Aturannya jelas. Wakil Menteri membantu Menteri dalam pekerjaannya.
Jangan sampai keduanya saling menyuburkan tanah. Artinya peningkatan kedudukan ekonomi. Kemudian wakil menteri mengambil langkah untuk menjadi menteri.
Bahaya, apalagi di kementerian yang wakil menterinya banyak, makanya kita tidak ingin masyarakat melihat akuarium yang berisi 109 ikan, ikan kecil, ikan besar, ikan-ikan itu berkomunikasi. .
Itu tugas Pravo. Presiden perlu melengkapi dan menyempurnakan struktur kementerian ini. Tidak ada yang mudah
Untuk memperjelas tugas dan fungsi masing-masing Administrasi tidak mencakup Jika ya, Anda bisa fokus pada akselerasi
Wahoo berkata, “Pekerjaannya sulit bahkan memakan waktu. Pak Pravo baru berusia 5 tahun. Ini harus menjadi prioritas pertama pemerintah ini.”
Nama-nama yang masuk dalam kabinet Merah Putih banyak yang merupakan orang-orang tua, mereka adalah menteri OK di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Empat di antaranya, Airlangga Hartarto, Bahlil Lahadalia, Sri Mulani Indravati, Eric Thohir.
Artikel Ekonom Soroti Pembenahan Struktur Kementerian di Pemerintahan Prabowo-Gibran pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Indonesia Minat Gabung BRICS, Ini Catatan dari Celios pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Sugiono mengirimkan surat ketertarikan untuk bergabung dalam aliansi yang terdiri dari lima negara besar, Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS). Saat ini Indonesia telah resmi mendaftar keanggotaannya. Ketertarikan ini tidak pernah diungkapkan secara eksplisit pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo karena beberapa alasan. Mulai dari kurang urgensinya, perbedaan sistem politik, ketidakstabilan hubungan antar negara anggota BRICS hingga upaya menyeimbangkan hubungan Indonesia dengan negara-negara Barat.
Namun tidak dapat dipungkiri bahwa dinamika politik kepemimpinan baru ini menempatkan Indonesia pada posisi yang kurang strategis jika ingin bergabung dengan aliansi BRICS. Menurut Direktur Eksekutif Center of Economic and Legal Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, terdaftarnya resmi Indonesia di BRICS semakin mempertegas ketergantungan negara ini terhadap Tiongkok.
Padahal, tanpa BRICS, dalam hal investasi dan perdagangan Indonesia, pangsa Tiongkok akan sangat besar. Impor Indonesia dari Tiongkok melonjak 112,6 persen dalam sembilan tahun terakhir, dari 29,2 miliar dolar AS pada tahun 2015 menjadi 62,1 miliar dolar AS pada tahun 2015. 2015. 2023. “Sedangkan investasi dari China melonjak 11 kali lipat pada periode yang sama. Indonesia juga tercatat sebagai penerima pinjaman Belt and Road Initiative terbesar dibandingkan negara lain pada tahun 2023,” kata Bhima, ditulis dalam keterangan resmi CELIOS, Sabtu (26/10/2024).
Selain kekhawatiran akan duplikasi kerja sama bilateral dengan Tiongkok, proyek-proyek yang didanai oleh pemerintah Tiongkok dan sektor swasta di Indonesia telah menimbulkan berbagai permasalahan. Terutama yang berkaitan dengan lingkungan dan pekerjaan. Ini masih pekerjaan rumah yang belum selesai.
Kecelakaan kerja yang berulang kali terjadi di IMIP menunjukkan bahwa standarisasi dan pengawasan Tiongkok terhadap proyek investasi masih lemah. Meski Indonesia ingin meningkatkan kualitas nilai tambah barang, namun hal ini harus dibarengi dengan investasi yang lebih berkualitas. Diversifikasi sumber investasi yang dapat membantu Indonesia naik kelas menjadi strategi utama.
“Ketergantungan pada Tiongkok juga membuat perekonomian semakin rapuh. Di saat perekonomian Tiongkok diproyeksikan menyusut sebesar 3,4 persen dalam empat tahun ke depan berdasarkan World Economic Outlook IMF, terdapat kekhawatiran bahwa aksesi Indonesia ke BRICS justru akan melemah. Kinerja perekonomian Kondisi ini idealnya dijawab dengan memperkuat diversifikasi “negara mitra di luar BRICS,” kata Bhima.
Direktur Kantor China-Indonesia CELIOS Muhammad Zulfikar Rakhmat mengatakan sejauh ini belum ada urgensi bagi Indonesia untuk bergabung dengan kelompok ekonomi BRICS. Sebab, kehadiran China dalam kelompok tersebut dikhawatirkan akan mempengaruhi independensi Indonesia dalam menyikapi berbagai isu krusial. “Salah satunya menanggapi manuver Tiongkok di kawasan Laut Cina Selatan,” kata Zulfikar.
Selain itu, peneliti CELIOS Yeta Purnama menambahkan, baru-baru ini, saat Indonesia merayakan pelantikan presiden, sebuah kapal Tiongkok membuat heboh memasuki wilayah hukum di Natuna Utara. Tidak ada tanggapan segera dari Presiden
Indonesia mengenai hal ini.
“Ini bukti bahwa pemerintah ragu-ragu dengan keinginannya untuk bergabung dengan BRICS,” kata Yeta.
Di sisi lain, negara anggota BRICS seperti Tiongkok dan India mengalami konfrontasi yang intens di tiga wilayah perbatasan kedua negara. Ini termasuk, Himachal Pradesh, Uttarakhand, dan Arunachal Pradesh. Menurut Zulfikar, konflik ini berpotensi mengganggu stabilitas hubungan Tiongkok dan India, sekaligus berdampak pada kemitraan dalam aliansi BRICS.
Keputusan Indonesia bergabung dengan BRICS juga berpotensi mempengaruhi masuknya Indonesia ke dalam OECD (Organization for Economic Cooperation and Development). Peluang Indonesia untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan melalui kemitraan dengan kelompok ini akan semakin kecil.
Menurut Yeta, dibandingkan BRICS, urgensi Indonesia untuk bergabung dengan OECD jauh lebih tinggi. Hal ini sejalan dengan upaya Indonesia untuk menjadi negara maju. Kelompok OECD memiliki keanggotaan yang lebih besar sehingga dianggap lebih penting karena Indonesia perlu mendiversifikasi mitranya ke lebih luas selain Tiongkok.
“Energi dan fokus pemerintahan baru, jika harus bergabung dengan banyak kolaborasi multilateral, akan sangat mahal, termasuk biaya keanggotaan. Jauh lebih efisien jika fokus pada kemitraan yang sudah ada.”
Artikel Indonesia Minat Gabung BRICS, Ini Catatan dari Celios pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>