Artikel Naik, Harga MinyaKita Tembus Rp 17.058 per Liter pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Untuk MinyaKita sendiri naik 1,05 persen menjadi sekitar Rp 17.058 per liter,” kata Bambang dalam rapat koordinasi inflasi yang dipantau secara online bersama Kementerian Dalam Negeri di Jakarta, Senin (18/11/2024).
Bambang mengatakan, harga minyak goreng dalam kemasan grosir mengalami kenaikan sebesar Rp 17.119 per liter. Menurut Bambang, harga minyak curah bergantung pada harga minyak sawit mentah (CPO).
Minyak goreng meningkat di 188 kota, dimana penyumbang terbesarnya adalah minyak curah di 146 kabupaten/kota, minyakita di 82 kabupaten/kota, dan minyak premium di 79 kabupaten/kota.
Selain itu, ada 32 daerah yang diistimewakan diintervensi karena harga MinyaKita di atas Rp 18.000 per liter, khususnya di Indonesia Timur.
Satgas Pangan POLRI melalui Direktorat Jenderal Pengawasan Konsumen dan Pengaturan Perdagangan (PKTN), Kementerian Perdagangan, akan melakukan pengawasan menyeluruh dan menindak tegas pengecer yang tidak menjual sesuai HET, kata Menteri. Peraturan Dunia Usaha (Permendag) Tahun 2024 No. 18.
“Khusus MinyaKita bisa kita ambil tindakan. Menurut kami dari pihak retailer banyak yang menjual lebih dari HET. Jadi dalam beberapa minggu ini akan kita lakukan agar mereka menjual sesuai HET,” kata Bambang.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (Dirgen PDN) Kementerian Perdagangan, Moga Simatupang, menyebutkan harga Minyakita naik hingga Sh17.000 per liter karena terciptanya rantai distribusi yang panjang. Pengecer tidak mengambil sumber langsung dari distributor.
Dengan lamanya pengiriman maka kemungkinan besar pengecer akan melakukan perdagangan sehingga harga jual di masyarakat menjadi lebih tinggi.
Meski peredaran MinyaKita diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan 18/2024, namun tidak menutup kemungkinan adanya transaksi antar pengecer di pasar. Hal ini mengingat permintaan MinyaKita sangat tinggi, kata Moga.
Artikel Naik, Harga MinyaKita Tembus Rp 17.058 per Liter pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Pemerintah Sebut Program B40 tak Ganggu Produksi Minyak Goreng, Cuma Butuh CPO Segini pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Rencananya program tersebut akan dilaksanakan pada tahun depan. “Kalau (minyak kelapa dibutuhkan untuk makanan) aman. Jadi seharusnya tidak ada masalah, katanya kepada wartawan di Jakarta, Senin (18/11/2024).
Menurut Dida, meski produk minyak goreng terjamin; Secara khusus, daya beli masyarakat sangat berfluktuasi karena banyak faktor, dan harga pasar bisa sangat berfluktuasi.
Dida menambahkan, kebijakan B40 tidak akan berdampak pada ekspor minyak sawit Indonesia. Ia menambahkan, pemerintah saat ini sedang mencari standar yang tepat untuk mengendalikan penggunaan minyak sawit, memenuhi produksi biodiesel dan kebutuhan pangan, serta mengendalikan ekspor.
Sebab, kelapa sawit merupakan salah satu produk ekspor dan berkontribusi terhadap pembangunan negara.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), total produksi minyak sawit Indonesia pada tahun 2023 adalah 54,84 juta ton, termasuk minyak zaitun sebesar 50,07 juta ton dan CPKO sebesar 4,77 juta ton. Pada periode yang sama, ekspor minyak sawit senilai US$30,32 miliar dan ekspor sebesar 32,22 juta ton.
Artikel Pemerintah Sebut Program B40 tak Ganggu Produksi Minyak Goreng, Cuma Butuh CPO Segini pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Strategi PTPN IV PalmCo Akselerasi Pengembangan Energi Terbarukan pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Dukungan yang diberikan PTPN terhadap penggunaan biodiesel yang memungkinkan penghematan konsumsi bahan bakar fosil ditunjukkan dengan rencana pembangunan pabrik biodiesel dan meningkatkan produksi minyak sawit mentah nasional melalui peningkatan produktivitas kelapa sawit dari petani kecil.
“Sebagai proyek strategis nasional dan sesuai arahan pemegang saham, PTPN diminta berkontribusi terhadap ketahanan pangan dan energi nasional. Oleh karena itu, salah satu dari tiga program strategis yang disiapkan adalah percepatan pengembangan energi terbarukan,” di Jakarta pada Rabu (06/11) kata Jatmiko Santosa, Direktur Utama PTPN IV PalmCo
Menurut dia, PTPN IV saat ini sedang mengkaji rencana pembangunan pabrik biodiesel di KEK Sei Mangkei Sumut dengan kapasitas 450.000 ton RBDPO per tahun. “Saat ini kami sedang melakukan investigasi. Rencananya pabrik biodiesel tersebut akan dioperasikan oleh anak perusahaan PTPN, PT Industries Nabati Lestari.”
Dia berkata
Selain itu, menurut Jatmiko, timnya berencana membangun beberapa pabrik biogas dengan total kapasitas 3 juta mmbtu dan bio-CNG sekitar 1,3 juta mmbtu di tahun-tahun mendatang. “Semua ini diharapkan dapat mendorong percepatan pengembangan energi terbarukan yang tentunya berdampak baik bagi lingkungan,” tegasnya.
Jatmiko juga mengungkapkan keikutsertaan PTPN dalam perencanaan program B35, B40 bahkan program B50. PTPN memiliki anak perusahaan, PT Riset Perkebunan Nusantara, yang telah berhasil menguji B50 pada kendaraan dengan unit operasinya, Pusat Penelitian Kelapa Sawit.
“Sejak April 2019 hingga Juli 2024, kendaraan B50 kami menempuh jarak lebih dari 170.000 kilometer tanpa kerusakan berarti. Artinya, bukan tidak mungkin B50 digunakan di kendaraan, apalagi B40,” kata Zatmiko.
Namun, ia mengatakan tantangan mendasar yang dihadapi ekspansi biodiesel adalah terkait kecukupan produksi minyak sawit dalam negeri. Untuk setiap peningkatan lima persen campuran biodiesel, dibutuhkan sekitar 2,81 juta KL CPO. Secara nasional, B40 membutuhkan 16,08 juta kiloliter, sedangkan B50
Dibutuhkan 20,11 juta KL RBDPO (CPO Derivative).
“Tentunya kami yakin kebijakan B40 atau B50 yang dilakukan pemerintah akan tetap fokus pada peningkatan konsumsi dalam negeri, khususnya pada industri oleokimia dan minyak goreng. Sehingga pasokan minyak sawit mentah untuk pangan tidak terganggu dan terus bertambah. katanya.
Palmco berpendapat bahwa untuk memenuhi kebutuhan kedua sektor tersebut, perkebunan kelapa sawit rakyat yang mencakup 40 persen luas perkebunan kelapa sawit nasional namun rata-rata produktivitasnya masih rendah yaitu sekitar 3,4 ton CPO per hektar per tahun, harus ditingkatkan. . . Hal ini untuk menjamin kecukupan pasokan minyak sawit mentah nasional untuk pangan dan energi.
Artikel Strategi PTPN IV PalmCo Akselerasi Pengembangan Energi Terbarukan pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel ESDM Sebut Perlu Sembilan Pabrik Biodiesel Tambahan untuk Produksi B50 pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Makanya kita perlu membangun lebih banyak lagi, sekitar tujuh sampai sembilan pabrik, atau kemudian menambah kapasitas pabrik yang sudah ada, kata Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Edi Wibowo di Indonesia Palm Oil Conference 2024. ( IPOC ) di Bali, Kamis (7/11/2024).
Disampaikannya, penambahan pabrik pengolahan CPO ini akan menutup gap kebutuhan konversi ke B50 yang membutuhkan biodiesel sebanyak 19,7 juta kilogram, sedangkan total produksi saat ini hanya 15,8 juta kilogram.
Artinya ada sekitar 3,9 juta kiloliter yang hilang, ujarnya.
Selain itu, Edi mengatakan kebutuhan produksi ini juga dapat dijadikan peluang investasi, mengingat untuk merealisasikan tambahan investasi modal B50 sebesar 360 juta dolar AS.
“Sebenarnya ada peluang investasi juga ketika pemerintah harus mengeluarkan hampir 360 juta dolar AS untuk tambahan investasi,” kata Edi.
“Kalau pabriknya tetap, mungkin nanti akan terekspos, itu soal penerapan B50,” lanjutnya.
Artikel ESDM Sebut Perlu Sembilan Pabrik Biodiesel Tambahan untuk Produksi B50 pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Kementan Siapkan Formula Agar Program B50 tak Ganggu Ekspor Sawit pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Tujuannya untuk mengetahui berapa kebutuhan produksi CPO tanpa mengganggu tahap ekspor,” kata Heru saat berada di Batavia, Senin (diselenggarakan). ). . 28 Oktober 2024).
Ia mengatakan, Program B50 merupakan kerja sama antarkementerian, dimana Kementerian Pertanian mengelola produksi hulu, sedangkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengelola aspek hilir. Heru menegaskan, ekspor CPO akan tetap menjadi prioritas utama karena CPO merupakan salah satu produk ekspor utama Indonesia yang memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian negara.
Kementerian Pertanian optimistis potensi peningkatan output CPO masih sangat besar. Saat ini rata-rata hasil sawit masih di angka 3 ton/ha atau setara dengan CPO. Namun jumlah tersebut masih bisa meningkat menjadi 5-6 galon/hektar melalui upaya terkonsentrasi dan inovasi pada areal penanaman kelapa sawit.
Sebelumnya, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyatakan kekhawatiran bahwa upaya pemerintah meningkatkan campuran biodiesel hingga 50% atau B50 dapat menurunkan ekspor CPO dan turunannya.
“Dengan hanya B40, kondisi ekspor kita saat ini akan turun sekitar 2 juta ton. Kalau B50 diberlakukan, ekspor kita turun 6 juta ton,” kata Ketua Umum Gapki Eddy Martono di Batavia, Selasa (22 Oktober).
Kekhawatiran serupa juga diungkapkan oleh ekonom senior Institute for Economic Development and Finance (Indef) Fadhil Hasan. Saat membahas acara tersebut, Rabu (23/10), Fadhil mengatakan penurunan ekspor kemungkinan akan meningkatkan harga CPO di pasar internasional yang pada akhirnya akan berdampak pada harga minyak goreng dalam negeri.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor CPO dan turunannya pada September 2024 turun menjadi 1,49 juta ton dari bulan sebelumnya 1,97 juta ton. Sementara harga CPO dan turunannya di pasar global pada September 2024 akan meningkat dari $898,90 per ton menjadi $932,05 per ton.
BPS mencatat nilai ekspor kumulatif CPO dan turunannya mencapai $1,38 miliar pada September 2024.
Artikel Kementan Siapkan Formula Agar Program B50 tak Ganggu Ekspor Sawit pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel GAPKI Bakal Gelar Konferensi Sawit Internasional 2024 pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Bendahara Umum GAPKI dan Ketua Panitia IPOC 2024 Mona Surya mengatakan konferensi ini memberikan analisis komprehensif mengenai keadaan pasar minyak nabati global, dengan fokus pada perkembangan dan dinamika terkini yang mempengaruhi industri minyak sawit.
Topik utama pembahasan dalam IPOC 2024 adalah berbagai kebijakan minyak sawit Indonesia, perspektif pasar negara-negara pengimpor, dan analisis kebutuhan minyak sawit global, kata Mona dalam konferensi pers di kantor GAPKI di Jakarta, Selasa. 22). /10/2024).
Minyak sawit akan tetap menjadi bagian utama pasar minyak nabati global, jelasnya, sepanjang tahun 2024. Sebagai minyak nabati yang paling banyak digunakan di dunia, produk ini mempunyai peranan penting bagi konsumen dan sektor energi terbarukan (EBT). Dengan 60 persen total produksi Indonesia diekspor ke lebih dari 160 negara, minyak sawit merupakan komoditas penting yang mempengaruhi perdagangan internasional.
Moda mencatat, berdasarkan data Oil World, rata-rata harga bulanan minyak sawit tahun ini naik dari US$937 menjadi US$1.147 per ton. Hal ini, katanya, mencerminkan posisinya sebagai aset bernilai tinggi.
“Namun industri ini menghadapi banyak tantangan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Secara internal masih terdapat permasalahan penting seperti penutupan produksi, ketidakpastian kebijakan dan perlunya penanaman kembali karena tanaman sudah tua, serta faktor internasional seperti keseimbangan pasokan minyak nabati lainnya, kampanye negatif mengenai keberlanjutan pasokan. rantai, dan faktor geopolitik Eropa dan “Timur Tengah menjadi perhatian,” jelasnya.
Mona Surya juga menyoroti Kebijakan Deforestasi Uni Eropa (EUDR) yang mungkin membatasi akses terhadap pasar minyak sawit di Eropa. “Kebijakan ini dapat berdampak besar bagi para petani kelapa sawit, khususnya di Indonesia dan Malaysia yang menyumbang hampir 70 persen produksi minyak sawit dunia,” ujarnya.
“IPOC 2024 diharapkan menjadi forum strategis untuk membahas potensi pasar kelapa sawit global dan mempertemukan pemangku kepentingan dari seluruh dunia,” lanjutnya.
Acara ini rencananya akan dibuka oleh Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia yang akan didampingi sejumlah menteri lainnya. Dalam konferensi ini, para pakar global seperti Thomas Mielke (Oil World), Julian McGill (Glenauk Economics), Nagaraj Meda (Transgraph) dan Dorab Mistry (Godrej International Ltd) akan berbagi pandangan mereka mengenai tren harga minyak sawit di masa depan.
“IPOC telah menjadi acara tahunan yang penting selama 19 tahun terakhir, menghadirkan konferensi, pameran produk, dan inovasi terkini dalam industri kelapa sawit,” tutupnya.
Artikel GAPKI Bakal Gelar Konferensi Sawit Internasional 2024 pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>