Artikel IDEAS: Guru Honorer di 220 Kabupaten/Kota Masih Bergaji di Bawah Rp 1 Juta pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Bahkan di 220 kabupaten/kota yang gajinya turun di bawah Rp 1 juta, ini merupakan peringatan keras bahwa sistem pendidikan kita masih jauh dari ideal,” kata Agung Pardini, Direktur Advokasi Kebijakan IDEAS di Jakarta (2024) (25 November , 2016).
Ia menekankan, langkah konkrit dan kerja sama antardepartemen harus segera dilakukan untuk memastikan kesejahteraan guru honorer tidak lagi menjadi pekerjaan rumah yang terus menerus. Sebab, permasalahan ini tidak hanya terjadi pada tingkat sekolah dasar. Situasi yang lebih buruk terjadi di madrasah.
Sebanyak 328 kabupaten/kota dari 492 kabupaten/kota memberikan gaji kurang dari Rp 1 juta kepada guru Madrasah Ibtidaiya (MI). Sementara itu, 320 kabupaten/kota dari 483 kabupaten/kota memberikan gaji kurang dari Rp 1 juta kepada guru Madrasah Tsanawija (MTS).
Kedua, gaji guru besar emeritus Madrasah Aliya (MA) di 239 kabupaten/kota juga berada pada kisaran gaji rendah yang sama.
Artikel IDEAS: Guru Honorer di 220 Kabupaten/Kota Masih Bergaji di Bawah Rp 1 Juta pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Upah Minim: Guru Ngonten, Narik, Sampai Jadi Buruh pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Studi ini menemukan bahwa 74 persen guru honorer/kontrak memperoleh penghasilan minimal 2 juta euro per bulan. Bahkan, 20,5 persen di antaranya masih berpenghasilan kurang dari Rp500 ribu. Contoh rendahnya gaji tersebut adalah Upah Minimum Provinsi (UMP) di Indonesia pada tahun 2024 sebesar Rp 3,1 juta. Gaji daerah tertinggi sebesar Rp5,3 juta dan gaji daerah terendah sebesar Rp2 juta.
Sedangkan rata-rata angka kemiskinan per kapita pada Maret 2024 tercatat sebesar Rp582.932. Sedangkan angka kemiskinan rumah tangga rata-rata 2.786.415 per bulan.
Maksudnya apa? Tidak ada yang lebih baik dari pekerja yang tidak mengandalkan pendidikan, katanya dalam diskusi di ANTARA Heritage Center Jakarta, Selasa. “Bahkan di lapisan masyarakat yang paling murah sekalipun, para guru, terutama guru yang dihormati, masih harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.” Survei dilakukan pada bulan Mei 2024 di 25 kabupaten dengan data yang diperoleh menggunakan metode non-simulated probabilitas sampling.
Minimnya pendapatan dari pekerjaan utama juga menyebabkan guru hanya mempunyai pekerjaan sampingan. Tak kurang dari 39,1 persen berprofesi sebagai guru dan personal trainer. Sedangkan perdagangan 29,3 persen, ekonomi 12,8 persen, tenaga kerja 4,4 persen, pembuat konten 4 persen, tukang ojek online 3,1 persen, guru 1,3 persen, penulis 0,8 persen, dan usaha lain-lain 4,8 persen.
Namun lapangan kerja utama dan kesempatan kerja lainnya masih belum mencukupi kebutuhan hidup. Hal ini menjadikan hutang sebagai salah satu cara untuk menutupi kebutuhan hidup. Tercatat 79,8 persen guru mengaku terlilit utang.
Setidaknya 52,6% menyatakan sebaiknya memberikan pinjaman kepada bank dan BPR, 19,3% kepada pinjaman keluarga, 13,7% kepada koperasi, 8,7% kepada teman atau tetangga, dan 5,2% kepada pinjaman online.
Apabila utang tersebut tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan, maka harta tersebut harus diagunkan. Berdasarkan survei, 38,5% guru mempunyai emas, 14% agunan surat-surat mobil, 13% agunan izin rumah/tanah, 4,3% agunan, 1,7% surat keputusan PNS, 1,3% telepon seluler, 0,8 persen kamera gadai, 10,4 persen gadai toko.
Untungnya, di tengah kondisi tersebut, sebanyak 93,5 persen guru ingin terus mengajar sebagai guru hingga pensiun.
Artikel Upah Minim: Guru Ngonten, Narik, Sampai Jadi Buruh pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Guru: Dunia Pendidikan di Persimpangan yang Berbahaya pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Setiap kali Anda mengganti menteri, Anda mengubah kurikulumnya.” Kata-kata ini sering diucapkan ketika pemerintahan baru dilantik. Namun pergantian menteri atau pergantian kurikulum, pendidikan Indonesia memang seperti itu, tidak banyak berubah.
Hal itu diungkapkan Muhammad Ali Sodikin (43 tahun), guru SMK di Kecamatan Jambu, Semarang, Jawa Tengah. Ali menilai kondisi pendidikan Indonesia saat ini jauh dari harapan.
Kualitas pendidikan masih kalah jauh dibandingkan negara maju, banyak guru yang terjebak pada formalitas, pendidikan terfokus pada mencetak anak dalam jumlah besar di atas kertas, sebagai produk sistem pendidikan anak.
Permasalahan tersebut hanyalah sebagian kecil dari permasalahan yang dihadapi pendidikan Indonesia saat ini. Ali menggambarkan dunia pendidikan saat ini berada di persimpangan jalan yang berbahaya. Menurut Ali, perubahan kurikulum tidak akan mengubah mutu pendidikan menjadi lebih baik jika permasalahan mendasar dalam dunia pendidikan tidak diatasi.
Menurutnya, berapa kali pun kurikulum diubah, pendidikan di Indonesia masih jauh dari harapan. Meski demikian, Ali tidak memungkiri bahwa kurikulum dirancang untuk meningkatkan mutu pendidikan.
“Contohnya program Merdeka, ketika dilaksanakan banyak yang salah kaprah tentang kurikulumnya. Banyak yang punya target angka dan memenuhi angka itu penuh manipulasi, yang penting bisa capai angkanya, jadi programnya bikin senang, padahal Yang terjadi di bawah tidak,” kata Ali di SMK Negeri 1 Jambu Republik Guru, Selasa (26/11/2024).
Faktanya, berapa kali pun kurikulum diubah, itu akan terjadi. Karena kurikulum yang tepat, guru sendirilah yang menjadi pemimpin dan teladan bagi anak. “Karena berapa kali pun kurikulum diubah, hasilnya tetap sama,” ujarnya yang sudah menjadi guru sejak tahun 2005 itu.
Ali mencatat, masih banyak guru atau pendidik yang mengajar anak-anak, seraya menekankan banyaknya angka yang tertulis di kertas. Faktanya, hubungan antara guru dan anak tidak hanya sebatas tembok akademis saja, namun lebih dari itu.
Menurutnya, banyak guru yang masih fokus pada konten atau pengetahuan materi. Padahal seharusnya guru fokus pada pengembangan manusia, dalam hal ini siswa.
“Kita perlu fokus pada orangnya, bagaimana orang tersebut bisa berempati, bagaimana anak ini bisa menghargai orang lain dan lebih menghargai pemikiran orang lain, dan itu tidak terjadi di Indonesia,” jelas Ali.
Artikel Guru: Dunia Pendidikan di Persimpangan yang Berbahaya pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Miris, Rerata Gaji Guru Honorer Madrasah tak Sampai Rp 1 Juta pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>REPUBLIKA.COID, JAKARTA – Secara umum, kesejahteraan guru honorer di Indonesia masih memprihatinkan. Tampaknya, situasi guru honorer yang mengajar di berbagai jenjang madrasah bahkan lebih buruk lagi.
Sebuah studi baru-baru ini yang dilakukan oleh Institute for Demographic and Welfare Studies (IDEAS) melaporkan bahwa 56 persen dari 37 juta guru di Indonesia, atau sekitar 2,06 juta, adalah guru honorer.
Paling rendah Rp 1,2 juta per bulan untuk guru honorer tingkat sekolah dasar menengah pertama di sekolah negeri. Sedangkan rata-rata gaji guru honorer tingkat SMP sebesar Rp1,9 juta, SMA sebesar Rp2,7 juta, dan tingkat SMK sebesar Rp3,3 juta.
Di tingkat Madrasah, keadaannya bahkan lebih buruk lagi. Rata-rata gaji guru Madrasah Kehormatan SD (MI) hanya Rp780.000 per bulan, Madrasah Tsanawi (MTs) Rp785.000, dan Madrasah Ali (MA) Rp984.000.
“Di beberapa daerah, masih banyak guru honorer yang berpenghasilan kurang dari Rp500.000 per bulan,” kata Agung Pardini, Direktur Pembelaan Kebijakan Ide, Senin (25/11/2024).
Sebagai contoh kecil dari data tersebut, rata-rata upah minimum provinsi (UMP) di Indonesia pada tahun 2024 adalah sebesar Rp 3,1 juta. Gaji daerah tertinggi Rp5,3 juta dan terendah Rp2 juta.
Temuan IDEAS juga menunjukkan adanya variasi yang besar dalam pendapatan guru honorer di berbagai daerah, dimana 220 kabupaten/kota membayar gaji guru honorer SD kurang dari Rp 1 juta. Faktanya, kondisinya lebih buruk di tingkat MI, dimana 328 kabupaten/kota menawarkan gaji yang setara.
Sumber utama gaji guru honorer adalah Dana Dukungan Operasional Sekolah (OSF). Meskipun maksimal 50 persen anggaran dialokasikan untuk sekolah komunitas dan 60 persen untuk sekolah madrasah, namun hasilnya tidak memberikan pendapatan yang diperlukan bagi guru honorer.
“Simulasi kami menunjukkan, meski porsi dana BOS besar, namun situasi tersebut tidak akan cukup meningkatkan kesejahteraan guru honorer secara signifikan,” kata Agung.
IDEAS merekomendasikan beberapa langkah untuk mengatasi permasalahan tersebut, salah satunya adalah mencontoh kebijakan DKI Jakarta yang mengangkat guru honorer menjadi guru kontrak swasta (KKI). Kebijakan ini memberikan kejelasan status pekerjaan dan penghasilan yang baik bagi guru honorer.
Agung juga menekankan pentingnya intervensi langsung oleh pemerintah pusat dan daerah. “Kesejahteraan guru honorer harus menjadi prioritas utama, tidak bisa hanya bergantung pada alokasi dana BOS saja,” tegasnya.
Anak tiri dari sistem pendidikan…
Artikel Miris, Rerata Gaji Guru Honorer Madrasah tak Sampai Rp 1 Juta pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>