Artikel Realisasi Investasi Manufaktur 2024 Capai Rp 721,3 Triliun pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Ini memiliki upaya pemerintah untuk mendorong pekerjaan dalam investasi.” Kata Argus.
“Keterlibatan Industri, Lingkup, Penting
Artikel Realisasi Investasi Manufaktur 2024 Capai Rp 721,3 Triliun pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel BPS: Neraca Perdagangan RI Surplus 2,48 Miliar Dolar AS pada Oktober pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus selama 54 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, kata Plt Kepala BPS Amalia Adiningrat Vidyasanti di Jakarta, Jumat (15/11/2024).
Surplus yang dicapai pada Oktober 2024 lebih rendah secara bulanan dan tahunan yakni sebesar 3,26 miliar dolar AS pada September 2024 dibandingkan 3,48 miliar dolar AS pada Oktober 2023.
Pada Januari-Oktober, total neraca perdagangan sebesar 24,34 miliar dolar AS, relatif rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang mungkin mencapai 31,22 miliar dolar AS.
Surplus bulanan tersebut ditopang oleh nilai ekspor dibandingkan impor. Sementara itu, ekspor Oktober 2024 meningkat sebesar 24,41 miliar dolar AS atau 10,69% dibandingkan bulan sebelumnya.
“Total ekspor Indonesia Januari-Oktober 2024 sebesar 217,24 miliar, meningkat 10,25 persen dibandingkan tahun lalu,” ujarnya.
Industri manufaktur atau pengolahan merupakan penyumbang ekspor terbesar.
Artikel BPS: Neraca Perdagangan RI Surplus 2,48 Miliar Dolar AS pada Oktober pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel CORE: 79 Persen Susu Masih Bergantung Impor, Hanya 21 Persen Lokal pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Pengamat pertanian dari Eliza Mardian mengungkapkan keprihatinannya atas minimnya persaingan dengan peternak sapi perah lokal di Indonesia. Ia menilai, meski Indonesia mempunyai potensi besar untuk meningkatkan produksi susu, namun berbagai kendala seperti rendahnya produksi susu dari peternak kecil dan ketidakpastian pasar menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi.
“Padahal Indonesia mempunyai potensi besar untuk meningkatkan produksi susu dalam negeri. Namun, masalah terbesar yang dihadapi petani adalah ketidakjelasan pasar dan kurangnya stabilitas. “Ketika ada ketidakpastian, seperti pembatasan pembelian susu oleh perusahaan susu besar, peternak lokal tidak termotivasi untuk meningkatkan produksinya,” kata Eliza di Republik Rakyat Tiongkok, Senin (11/11/2024).
Menurut Eliza, ketidakpastian produksi susu oleh IPS menjadi salah satu penyebab peternak di daerah tersebut tidak mampu meningkatkan produksinya.
“Peternak tidak dapat merencanakan produksi jangka panjang jika pasar susu dan harganya tidak seimbang. Faktanya, perusahaan besar seringkali memberlakukan pembatasan pembelian susu dari peternak lokal karena alasan mereka tidak bisa berproduksi atau berkurangnya permintaan, yang pada akhirnya merugikan. para petani di tingkat nasional. kata Eliza.
Eliza juga menegaskan, terdapat regulasi yang mengatur kerja sama antara perusahaan susu dan peternak lokal, namun implementasinya di sektor tersebut sangat lemah. Sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 33 Tahun 2018, perusahaan pengolahan susu wajib bekerja sama dengan peternak lokal. Namun kenyataannya, kurang dari 20 persen pengusaha yang benar-benar melakukan hal ini.
Ia menambahkan, “Pemerintah telah mengeluarkan undang-undang yang jelas, namun kurangnya kontrol dan kepatuhan membuat banyak perusahaan mengabaikan kewajibannya untuk bekerja sama dengan peternak lokal,” ujarnya.
Eliza juga menegaskan, jika situasi ini terus berlanjut, petani lokal di Indonesia bisa menjadi lebih murah dan mengimpor produk dari luar negeri yang lebih murah dan berkualitas, terutama susu bubuk dan susu yang seringkali diimpor dari luar. “Jika tidak ada dukungan kuat dari pemerintah, maka peternak lokal akan sulit bersaing dan banyak yang memilih berhenti bertani,” kata Eliza.
Ia juga meminta pemerintah memperketat penerapan regulasi terkait kerja sama antara perusahaan susu dan peternak lokal. “Peraturan ini harus ditegakkan secara tegas, dan pemerintah harus hadir memberikan dukungan kepada perusahaan yang bekerja sama dengan peternak lokal. Selain itu, harus ada pengawasan yang ketat dengan sistem sanksi bagi perusahaan yang tidak patuh.” kata Eliza.
Ia juga merekomendasikan agar pemerintah memberikan bantuan dan pelatihan kepada petani lokal untuk meningkatkan produksi hasil panen dan susu.
“Jika peternak lokal mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang tepat, maka mereka akan lebih mudah meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi susu. “Hal ini juga akan bermanfaat bagi industri susu nasional,” kata Eliza.
Meski Indonesia bergantung pada susu impor, Eliza mengingatkan, jika tidak dilakukan langkah nyata untuk meningkatkan kerja sama antara perusahaan susu dan peternak lokal, maka industri susu dalam negeri akan menghadapi risiko kehancuran akibat serbuan susu impor dari luar negeri. Susu bubuk impor yang lebih murah dan berkualitas semakin mendominasi produksi susu Indonesia.
“Perusahaan pengolah susu lebih memilih mengimpor susu bubuk karena selain mengurangi biaya produksi, susu bubuk juga memiliki umur simpan yang lebih lama,” kata Eliza.
Sebab, meski kualitas susu lokal tidak kalah dengan produk impor dari luar negeri, namun persoalan biaya produksi yang diutamakan perusahaan besar adalah mereka lebih memilih susu impor dalam bentuk bubuk atau kimia. Hal ini menjadi tantangan besar bagi peternak lokal yang ingin bersaing di pasar lokal.
Guna menjaga keberlangsungan industri susu tanah air, Eliza menyarankan beberapa langkah yang perlu segera dilakukan. Pertama, pemerintah harus memperkuat aturan kerja sama antara perusahaan susu besar dan peternak lokal, dengan menerapkan sanksi tegas bagi perusahaan yang tidak menjalankan tugasnya. Kedua, perlunya pemerintah menciptakan sistem yang memberikan jaminan pasar bagi peternak, termasuk penciptaan pasar domestik yang besar bagi susu lokal.
Selain itu, Eliza juga menekankan pentingnya mendorong perusahaan-perusahaan yang berkolaborasi dengan peternak lokal dan pengolah susu di dalam negeri. Dengan cara ini, para petani dan industri pengolahan susu akan saling menguntungkan dan menjamin keberlanjutan produksi pertanian negara.
Artikel CORE: 79 Persen Susu Masih Bergantung Impor, Hanya 21 Persen Lokal pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Peternak Buang-Buang Susu Sampai 200 Ton, Kebijakan Pemerintah Disorot pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Menteri Luar Negeri (Mensenig) Presti Hadi turut serta dalam diskusi Kementerian Pertanian (Kaminta) terkait protes petani dan pengumpul susu. Ia mengucapkan terima kasih kepada jajaran Kementerian Pertanian atas tindakan cepat dalam menyelesaikan masalah tersebut.
Menlu menjelaskan, budaya ini harus didorong. Akan selalu ada masalah dalam industri. Yang paling penting adalah seberapa cepat Anda bertindak.
“Alhamdulillah, hal ini harus selalu kita dorong, walaupun ada permasalahan, semangat persatuan sangat luar biasa, kita cari solusi bersama, kemudian mitra industri dan peternak serta produsen susu berjanji untuk tumbuh bersama.” Saya kira ini energi positif dan energi yang luar biasa,” kata Prastew dalam jumpa pers di kantor Kementerian Pertanian di Jakarta, Senin (11/11/2024).
Ia menjelaskan topik pembahasan itu penting. Pada dasarnya semua orang memerlukan zat gizi. Salah satunya adalah konsumsi susu.
Prosto memahami produksi susu dalam negeri saat ini belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan nasional. Oleh karena itu impor diperlukan. Kemudian masalah lain muncul di lapangan, seperti baru-baru ini.
Mensesneg menyinggung program makanan bergizi gratis. Konsumsi susu akan meningkat. Jadi semua pihak harus bekerja sama untuk memastikan semuanya berjalan baik.
“Saya yakin ini yang bisa kami tawarkan, sekali lagi terima kasih. Kedepannya, kami berharap kalaupun ada masalah, kami akan menemukan solusi terbaiknya.”
Di masa lalu, terdapat beberapa kasus penyalahgunaan yang dilakukan oleh produsen susu. Susu segar yang mereka hasilkan terpaksa dibuang karena tidak diserap atau dibeli oleh Industri Pengolahan Susu (IPS). Menurut data Dewan Susu Nasional, lebih dari 200 ton susu segar terbuang setiap hari.
Setelah beberapa jam perundingan, tercapai kesepakatan yang menyatakan IPS harus menerima susu dari peternak setempat. Kementerian Pertanian melakukan perubahan aturan sebagai langkah konkrit perjanjian tersebut.
Artikel Peternak Buang-Buang Susu Sampai 200 Ton, Kebijakan Pemerintah Disorot pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Indonesia Gabung BRICS, Apa Untung Ruginya Bagi Perekonomian Nasional? pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Pengamat Ekonomi dan Direktur Ekonomi Digital Center for Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menanggapi keputusan Indonesia bergabung dalam aliansi yang mencakup negara-negara maju secara ekonomi besar (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan/akronim BRICS). ). Hal tersebut dinilai memberikan dampak positif yang cukup besar bagi Indonesia.
“Langkah diplomasi Indonesia yang merupakan langkah non-blok dimana tidak berafiliasi dengan blok manapun, baik BRICS maupun OECD, mungkin bisa menjadi pilihan. Namun, pilihan koalisi politik dan ekonomi dapat memperkuat pertumbuhan ekonomi di masa depan,” kata Nailul. saat Republika dihubungi, Jumat (25/10/2024).
Ia menjelaskan, data menunjukkan pangsa ekonomi negara-negara BRICS meningkat signifikan. Pada tahun 1990, pangsa ekonomi negara-negara BRICS hanya 15,66 persen. Kemudian pada tahun 2022 proporsinya mencapai 32 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan BRICS sungguh besar, terutama dalam menghadapi kekuatan besar yaitu Amerika Serikat (AS). Nailul mengatakan, meski Tiongkok diperkirakan akan mengalami perlambatan ekonomi, namun ke depan tetap akan menjadi pesaing AS.
“Bergabungnya BRICS akan memberikan manfaat bagi Indonesia untuk bisa melepaskan diri dari pasar tradisional seperti Amerika Serikat dan Eropa. Eropa sebenarnya mulai khawatir dengan kebijakan ekspor Indonesia yang kerap menjadi bahan diskusi perdagangan global,” ujarnya. .
Selain itu, kata Nailul, kini anggota BRICS tidak hanya terdiri dari lima negara saja, namun negara-negara Timur Tengah juga sudah mulai bergabung dalam koalisi tersebut.
“Hal ini sejalan dengan keinginan pemerintah untuk memasuki pasar Timur Tengah. “Jadi sebenarnya keuntungan bergabung dengan BRICS cukup besar,” ujarnya.
Artikel Indonesia Gabung BRICS, Apa Untung Ruginya Bagi Perekonomian Nasional? pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Duh, BUMN Tekstil Ini Sudah PHK Ratusan Karyawan, Restrukturisasi atau Tutup? pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Teguh juga mengatakan, lemahnya pengelolaan keuangan menyebabkan Primissima kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya, seperti tertundanya gaji pekerja yang mana pekerja hanya menerima 20-30 persen gajinya. Pasalnya, kata Teguh, Primissima tidak bisa membayar pekerja dan listrik sejak April 2024, termasuk penghentian operasional perusahaan dan pemecatan 402 pekerja sejak Juni 2024.
Sebelum penghentian operasi, badan usaha tersebut turun signifikan dari indikator Laporan Keuangan 2023 dengan kerugian Rp21 miliar dan kenaikan Rp17 miliar, kata Teguh dalam keterangan tertulis di Jakarta. Kamis (24/10/2024).
Teguh mengatakan permasalahan ini disebabkan oleh permasalahan serius yang terus dihadapi industri TPT Indonesia dalam beberapa tahun terakhir yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satu indikasinya terlihat berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan bahwa operasi luar negeri perusahaan Indonesia pada tahun 2023 mencapai 1,49 juta ton atau turun 2,43 persen dibandingkan tahun 2022.
Teguh mengatakan, hal ini terkait langsung dengan nilai usaha yang anjlok 14,78 persen menjadi sekitar Rp 3,6 miliar sehingga mencatatkan penurunan selama dua tahun berturut-turut, apalagi volume pengiriman tahun 2023 merupakan yang terkecil dalam sembilan tahun terakhir. Selain itu, menurunnya produksi dalam negeri dan meningkatnya impor juga turut menurunkan kekuatan industri TPT.
Dunia.
“Beberapa faktor juga mempengaruhi kestabilan usaha Primissima, seperti inefisiensi akibat mesin produksi yang sudah tua dan persaingan produk berkualitas rendah dalam menghadapi persaingan usaha dan serbuan produk luar negeri ke dalam negeri,” kata Teguh.
Teguh mengatakan, hal ini diperparah dengan besarnya komitmen finansial dan ketidakmampuan Primissima memenuhinya. PPA yang dikembangkan di Teguh berfungsi dan memberikan dukungan finansial terhadap permasalahan Primissima sebagai pembaharuan menyeluruh, antara lain penguatan kerja dan karyawan, penguatan kepemimpinan, mendukung stabilitas usaha, dan pengorganisasian tanggung jawab keuangan baru.
“Sebagai bagian dari kerja dan upaya HR, Primissima mengambil langkah untuk merumahkan seluruh karyawannya, hal ini merupakan salah satu cara untuk memperkuat tenaga kerja Primissima setelah bertahun-tahun merugi,” kata Teguh.
Teguh mengatakan, PPA juga akan melakukan hal serupa untuk memenuhi kewajibannya melalui restrukturisasi menyeluruh, termasuk pekerja, melalui pengembalian aset dan/atau masuknya investor.
Artikel Duh, BUMN Tekstil Ini Sudah PHK Ratusan Karyawan, Restrukturisasi atau Tutup? pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Kementan: Ratusan Perusahaan Komitmen Datangkan Sapi Impor pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Mungkin ada lebih dari 100 (perusahaan), 55 perusahaan susu, saya lihat 77 (perusahaan) lebih yang punya sapi,” kata Sodarino Selasa (29/10/2024).
Sodarino mengatakan, ratusan perusahaan dengan puluhan ribu variasi jumlah impor berasal dari dalam dan luar negeri. Sodarino mengatakan pemerintah telah memberikan komitmen kepada ratusan perusahaan untuk mengimpor 2 juta ekor sapi, termasuk 1,3 juta sapi perah dan 700.000 ekor sapi.
“Ini yang janji,” kata Sudariono, “Tugas kita sekarang // mengejar // mereka, // Wahai // janji, harus segera dilaksanakan.”
Sodarino mengatakan, impor dilakukan oleh perusahaan, bukan pemerintah. Meski demikian, pemerintah menyatakan akan membuka ruang bagi pedagang untuk mengimpor barang.
Itu sebabnya importir ternak menggunakan uangnya dan berinvestasi di Indonesia, kata Sodarino.
Sodarino mengatakan Kementerian Pertanian telah menyiapkan beberapa tempat seperti Banten, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi Tengah untuk menempatkan barang impor tersebut. Sodarino mengatakan, pemberian fasilitas ini merupakan bentuk dukungan Kementerian Pertanian terhadap suksesnya program MBG.
Sodarino melanjutkan: “Jika kami membutuhkan banyak daging dan susu untuk makanan bergizi gratis, kami akan membantu perusahaan dan organisasi bisnis ini untuk mendatangkan sapi.”
Ketersediaan bibit baru akan meningkatkan produktivitas dan menjamin swasembada daging dan susu di masa depan, kata Sodarino. Sudarino mengatakan penambahan stok peternakan penting untuk memenuhi permintaan populasi Indonesia yang terus meningkat.
Lanjutnya, “Jika kita berharap bisa mencapai swasembada daging dan susu pada peternak yang ada, maka hal itu akan memakan waktu ratusan tahun, namun karena pertumbuhan penduduk, hal ini tidak akan mungkin terjadi, sehingga harus didatangkan peternak baru setelah tambahan. periode.” . Dua hingga tiga juta (impor sapi),” kata MBG. Kami berharap tersedia cukup daging dan susu untuk program ini.” ujar Sudaryono.
Mohammad Nursiamsi
Artikel Kementan: Ratusan Perusahaan Komitmen Datangkan Sapi Impor pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel JAHANGIR CIRCLE Impor Beras dan Gula Naik Terus, Neraca Perdagangan Indonesia-Thailand Tekor Terus pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka neraca perdagangan Indonesia dengan Thailand mengalami defisit sebesar US$2,05 miliar pada tahun 2021 dan meningkat menjadi US$2,79 miliar pada tahun 2022. Kemudian pada tahun 2023, angka defisit mencapai US$3,03 miliar. .
Data impor Indonesia ke Thailand selalu lebih tinggi dibandingkan data ekspor Indonesia ke Thailand. Sehingga kondisi defisit selalu muncul dari tahun ke tahun. Defisit perdagangan Indonesia dengan Thailand muncul lebih dari satu dekade lalu, menurut catatan BPS.
Menyikapi persoalan defisit perdagangan, Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Thailand sekaligus Unescap Rahmat Budiman mengatakan, saat ini ekspor Indonesia ke Thailand masih berupa pengiriman bahan mentah. Hal ini menyebabkan defisit perdagangan yang tidak dapat dihindari.
“Faktanya, neraca perdagangan kita masih negatif karena sebagian besar ekspor dan impor kita masih berupa bahan mentah,” ujarnya dalam rangkaian acara KBank Media Tour yang digelar di KBRI Thailand di Bangkok, Thailand, Rabu (16/1). 10/). 2024).
Rahmat kemudian menyoroti dua jenis komoditas yang menyebabkan kelangkaan tersebut, yakni beras dan gula pasir. Kedua komoditas ini menjadi “beban” memburuknya situasi neraca perdagangan dengan negara gajah putih Indonesia.
“Sebagian besar impor dari sini (Thailand) terdiri dari beras dan gula, dan itu jumlah yang sangat besar. “Jumlahnya cukup besar hanya dengan produk ini,” tegasnya.
BPS mencatat impor beras Indonesia dari luar negeri mencapai 3,05 juta ton pada periode Januari-Agustus 2024. Impor terbesar berasal dari Thailand sebanyak 1,13 juta ton. Impor beras tercatat mengalami peningkatan kumulatif sebesar 121,34% selama periode Januari-Agustus 2024.
Sedangkan untuk impor gula, data BPS menunjukkan jumlah impor gula Indonesia dari berbagai negara akan mencapai 5 juta ton pada tahun 2023. Terbesar dari Thailand sebesar 2,3 juta ton.
Artikel JAHANGIR CIRCLE Impor Beras dan Gula Naik Terus, Neraca Perdagangan Indonesia-Thailand Tekor Terus pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel JAHANGIR CIRCLE Impor September 18,82 Miliar Dolar AS, Paling Banyak dari China pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Rinciannya, impor migas mengalami penurunan sebesar 2,53 miliar USD atau 4,53% secara bulanan. Impor nonmigas tercatat sebesar USD 16,30 miliar, juga turun 9,55 persen.
“Penurunan nilai impor secara bulanan disebabkan oleh penurunan nilai impor gas dan nonmigas, serta penurunan nilai impor minyak dan gas. Secara tahunan, impor akan meningkat. meningkat sebesar 8,55 persen pada September 2024,” kata Kepala BPS Amalia Adenanagar Vidyasanti dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Selasa (15/10/2024).
Tiga barang yang paling banyak diimpor dari Indonesia pada September 2024 adalah mesin/peralatan mekanik, mesin/peralatan listrik, serta produk plastik dan plastik. Amalia menjelaskan, nilai impor ketiga komoditas tersebut menyumbang sekitar 31,38 persen dari total impor migas.
Ketiganya turun secara bulanan, dan naik secara tahunan, ujarnya.
Lebih rincinya, secara bulanan, nilai impor mesin/peralatan mekanik sebesar US$2,96 miliar atau volumenya 0,37 juta ton. Nilai impor mesin/peralatan listrik dan bagiannya sebesar 2,02 miliar dollar Amerika dengan volume 0,12 juta ton. Jadi untuk impor plastik dan barang plastik nilainya 0,92 miliar dollar AS atau beratnya 0,56 juta ton.
Tiongkok masih menjadi sumber utama impor gas dan nonmigas Indonesia, menyumbang 36,68 persen impor gas dan gas Indonesia. Amalia menjelaskan, impor nonmigas Tiongkok mencapai atau turun hingga US$5,98 miliar pada Agustus 2024.
Urutan kedua dan ketiga ditempati oleh Jepang dan Amerika Serikat. Impor memberikan kontribusi masing-masing 7,58% dan 5,09%. Nilai impor nonmigas dari kawasan ASEAN dan UE mengalami penurunan secara bulanan dan meningkat setiap tahunnya.
Artikel JAHANGIR CIRCLE Impor September 18,82 Miliar Dolar AS, Paling Banyak dari China pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel JAHANGIR CIRCLE Deflasi Bikin Worry, Tiga Solusi Ini Bisa Diuji pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Ketiga solusi tersebut adalah meningkatkan pertanian, mendukung ekonomi sirkular, dan mengendalikan impor,” ujarnya, Rabu (9 Oktober 2024).
Gobel mengatakan, hal ini merespons data BPS yang menunjukkan deflasi melanda Indonesia selama lima bulan berturut-turut. Deflasi merupakan fenomena penurunan harga komoditas akibat berkurangnya daya beli masyarakat.
Meski terjadi deflasi, masyarakat tetap tidak membeli karena uangnya tidak cukup. Situasi ini merupakan yang terburuk dalam sepuluh tahun terakhir. Deflasi dimulai pada bulan Mei dan mencapai 0,03%, kemudian 0,08% pada bulan Juni, 0,18% pada bulan Juli, 0,03% pada bulan Agustus dan 0,12% pada bulan September.
Indonesia masih terdampak oleh kondisi perekonomian yang sulit, seperti gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), penutupan banyak industri manufaktur, dan gelombang impor barang. Selain itu, jumlah kelas menengah Indonesia yang terus berkurang dan muncul fenomena “thrifting” yang berarti masyarakat mulai menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat berkurangnya pendapatan.
“Semua ini terjadi akibat buruknya manajemen dan kebijakan ekonomi yang mengandung unsur penipuan dan moral hazard,” kata Gobel.
“Situasi ini tidak hanya bersifat struktural tetapi juga berkaitan dengan nilai-nilai. Oleh karena itu, kerugiannya sangat sistematis dan besar. Jadi kita memerlukan solusi yang mendasar tetapi juga solusi yang inovatif di masa depan”.
Gobel menilai situasi yang dihadapi Indonesia saat ini tidak hanya mengancam tujuan pertumbuhan ekonomi Indonesia, namun juga dapat mendorong Indonesia masuk ke dalam jebakan negara berpendapatan menengah.
“Indonesia telah menjadi negara berpendapatan menengah sejak lama, lebih dari 20 tahun, dan masih jauh dari 10.000 USD untuk keluar dari negara berpendapatan menengah. Indonesia semakin tidak menjadi negara industri tetapi justru mengalami proses deindustrialisasi. Beruntung masih ada negara seperti Laos, Myanmar, dan Kamboja di Asia Tenggara sehingga kita masih bisa memalsukan kegembiraan. “Tetapi jika kita melihat Vietnam, kita akan bernapas lega,” ujarnya.
Gobel mengaku sengaja menyampaikan penilaian dan fakta tersebut dengan ekspresi agar masyarakat tidak terus terbuai dengan eufemisme.
“Saya juga tidak ingin menimbulkan pesimisme, namun pada kesempatan kali ini saya ingin meningkatkan semangat dan optimisme dengan terus mencari solusi terbaik. Ini hanya masalah pilihan dan keinginan. Pilihannya ada, kemauan pasti ada, jadi langkah selanjutnya berani atau tidak. “Karena pasti ada pihak yang menikmati situasi buruk ini dan menolak perbaikan,” ujarnya.
Terkait ketiga solusi tersebut, Gobel menjelaskan kelayakan solusi pertama, yakni memperbaiki sektor pertanian. Ada tiga kebenaran tentang bidang ini.
Pertama, data BPS tahun 2022 mencatat terdapat 40,64 juta petani di Indonesia atau 29,96% dari total angkatan kerja. Sektor pertanian merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Kedua, separuh penduduk miskin Indonesia bekerja di bidang pertanian. Artinya sebagian besar masyarakat miskin di Indonesia adalah petani.
Ketiga, pertanian berkaitan dengan ketahanan nasional karena berkaitan dengan perut masyarakat. Tidak ada negara besar, kuat, dan maju yang bergantung pada negara lain untuk pangan. Keempat, pengembangan sektor pertanian mendorong perekonomian nasional.
“Sektor pertanian memerlukan solusi komprehensif, bukan solusi tambal sulam. Jika sektor pertanian bisa ditingkatkan, separuh permasalahan bisa teratasi dan basis perekonomian bisa semakin kuat. “Korea Selatan, China, dan Jepang awalnya memulai dengan membenahi sektor pertanian, kemudian beralih ke sektor industri,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan, persoalan pertanian bukan soal cukup atau tidaknya lahan pertanian, melainkan soal produktivitas hasil pertanian.
“Lahan kita masih cukup, tinggal meningkatkan produktivitas dua kali lipat. “Yang perlu dilakukan adalah intensifikasi dan modernisasi pertanian secara optimal,” ujarnya.
Memperluas lahan pertanian berpotensi meningkatkan produktivitas tanaman namun tidak akan mengurangi kemiskinan. “Jadi, bukan sekadar memenuhi kebutuhan pangan nasional, tapi yang lebih penting adalah mengentaskan kemiskinan dan menjamin kesejahteraan petani serta meningkatkan perekonomian nasional,” ujarnya.
Solusi kedua, kata Gobel, adalah pengendalian impor. Saat ini, menurutnya, Indonesia kebanjiran barang impor. Ia mengatakan, dalam teori ekonomi, membeli barang berarti membeli waktu, membeli upah pekerja, dan membeli penemuan dan perbaikan untuk menciptakan barang. Oleh karena itu, jika membeli barang impor yang sebenarnya diproduksi di dalam negeri, maka negara dan negara justru akan sangat dirugikan.
“Tidak hanya merugikan devisa negara dan menimbulkan pengangguran, tapi juga mematikan kreatifitas, kreatifitas manusia, dan kejayaan manusia di kalangan anak bangsa,” ujarnya.
Klimaks dari kisruh aturan impor adalah dengan diterbitkannya Surat Perintah Menteri Perdagangan Nomor 1 Agustus 2024 yang menghapuskan persyaratan pertimbangan teknis saat mengimpor barang dan mengeluarkan sekitar 28.000 kontainer yang dicurigai masuk tanpa izin impor.
Sejak Keputusan Menteri Perdagangan No. Keluarlah Keputusan Nomor 8 Tahun 2024, Gobel sepakat membahas pengendalian impor dengan menggeser pelabuhan masuk barang impor. “Pindah ke pelabuhan di Indonesia bagian timur. “Hal ini sekaligus menciptakan pemerataan ekonomi dan lapangan kerja bagi masyarakat di wilayah timur Indonesia,” ujarnya.
Selain itu, menurut data yang ada, kontribusi Indonesia bagian timur terhadap PDB Indonesia sangat rendah. Kontribusi Indonesia Bagian Barat khususnya Sumatera dan Jawa terhadap PDB sebesar 79,70%. Sedangkan sisanya yang kontribusinya jauh lebih kecil berasal dari kawasan timur Indonesia, yakni kontribusi Kalimantan terhadap PDB hanya 8,21%, Sulawesi 6,73%, Bali dan Nusa Tenggara 2,75%, Maluku dan Papua 2,61%. Oleh karena itu, konversi pintu masuk impor akan sangat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan pemerataan, ujarnya.
Namun, Gobel memperingatkan kerugian negara akibat gelombang impor ini: “Salah satu faktor terpenting yang menyebabkan kerusakan pada perekonomian nasional adalah rezim pedagang dan penambang yang mengendalikan kebijakan ekonomi internasional. Mereka seperti orang yang memindahkan barang dan menggali. Tidak ada kreativitas sama sekali. Faktanya, negara-negara besar dan peradaban besar lahir dari kelompok minoritas kreatif yang berinovasi dan membangun sesuatu. “Daya kreatif adalah energi kemajuan peradaban,” ujarnya.
Menurutnya, peradaban modern lahir karena munculnya pemikiran baru sehingga terciptalah mesin uap. Maka lahirlah revolusi industri. “Peradaban modern lahir bukan dari ditemukannya tambang emas, tambang minyak, tambang batu bara, atau tambang nikel, melainkan dari ditemukannya mesin uap. “Ini lahir dari proses kreatif,” ujarnya.
Menurutnya, melalui pengendalian impor akan tercipta lapangan kerja, industri berkembang, investasi tumbuh, pertumbuhan ekonomi terkendali, dan kesejahteraan masyarakat terbangun.
Gobel juga kembali menekankan pentingnya peningkatan ekspor melalui kerja sama semua pihak yaitu swasta, BUMN, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Perindustrian melalui ITPC (Trade Promotion Center Perdagangan Indonesia). Hal ini akan meningkatkan pemasaran produk Indonesia, terutama untuk memaksimalkan manfaat UMKM. Selain pengendalian impor, ekspor juga ditingkatkan.
Solusi ketiga, kata Gobel, adalah kebangkitan ekonomi sirkular. Ekonomi sirkular adalah model atau sistem ekonomi sirkular yang memaksimalkan kegunaan dan nilai tambah bahan atau produk untuk mengurangi limbah dan meminimalkan kerusakan sosial dan lingkungan. Menurutnya, melalui ekonomi sirkular maka akan tercipta lapangan kerja, tumbuhnya usaha kecil dan menengah, pengurangan sampah, dan kelestarian alam.
“Saya berharap pemerintahan baru Pak Parbowo Subianto mampu menjawab tantangan perekonomian ke depan dengan berpegang pada prinsip ketahanan nasional, kedaulatan negara, kemakmuran bersama, kehormatan bangsa Indonesia, dan kelestarian lingkungan.”
Artikel JAHANGIR CIRCLE Deflasi Bikin Worry, Tiga Solusi Ini Bisa Diuji pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>