Artikel Studi: Perawat Rentan Depresi Akibat Beban Kerja Berat pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Studi ini, yang diterbitkan di International Nursing Review Magazine, melaporkan data dari 9.387 perawat di 35 negara yang mengandung negara -negara rendah, menengah dan tinggi. Studi yang dilakukan antara Juli 2022 dan Oktober 2023 adalah bagian dari penelitian internasional dan penelitian ciuman dan kerja sama internasional di 82 negara telah meneliti dampak panjang perawat terhadap perawat.
Kepala penulis Alison Square, profesor di University of Nursing di New York University, Rorrei Mairez, mengatakan dalam penemuan pada hari Rabu (12/2/2025).
Hasil ini menunjukkan bahwa 44 persen perawat menderita kecemasan dan 21 persen melaporkan depresi dan 57 persen dianggap terus -menerus lelah. Efek ini tidak hanya berhenti bekerja dan masih 34 persen perawat masih menderita kecemasan di rumah dan mereka melihat 19 persen dari depresi dalam kehidupan pribadi mereka.
Prevalensi gejala sangat berbeda di setiap negara. Di Brasil, 69,9 persen perawat khawatir tentang pekerjaan, sementara di Indonesia hanya 23,8 persen. Di Türkiye, 80,9 persen perawat terkuras di tempat kerja, dibandingkan dengan hanya 6,7 persen di Thailand. Faktor budaya, sistem kesehatan dan kurikulum dapat berperan dalam perbedaan ini.
Pada saat yang sama, unsur -unsur yang meningkatkan kondisi mental perawat perawat dengan jam kerja yang lama dengan tuntutan emosional dan fisik termasuk kurangnya fasilitas dan pemulihan. Selain tekanan kerja, banyak perawat juga harus menghadapi kehilangan orang terdekat. Satu dari lima perawat kalah karena Covid-19, tetapi ia kehilangan 35 persen teman dan 34 persen dari kerugian rekan kerja. Banyak perawat juga harus terus bekerja saat mereka mengatasi kesedihan mereka dan menciptakan stres emosional tambahan.
Peneliti mengatakan: “Persahabatan, keluarga dan kolega yang mengejutkan dan tidak boleh mengurangi dampaknya pada kesehatan mental perawat.”
Sayangnya, dukungan dari lembaga perawatan kesehatan tetap cukup. Hanya 24 persen perawat yang percaya mereka akan menerima layanan kesehatan yang cukup dari tempat kerja di seluruh Pandmi. Banyak lembaga kesehatan tidak memiliki sumber daya atau infrastruktur yang cukup untuk memberikan dukungan spiritual bagi perawat.
“Penting untuk mendukung layanan kesehatan mental dan dapat diakses untuk meningkatkan perawat yang sulit,” kata Squares.
Artikel Studi: Perawat Rentan Depresi Akibat Beban Kerja Berat pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Fenomena Jam Koma Ramai Dibahas Gen Z di Medsos, Apa Itu? pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Zaki Nur Fahmawati, pakar psikologi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), mengatakan dalam dunia psikologi, koma sering disebut dengan kelelahan kognitif. Didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana seseorang mengalami penurunan fungsi mental setelah melakukan berbagai aktivitas yang memerlukan konsentrasi tinggi dan aktivitas intelektual yang berkelanjutan.
Kelelahan kognitif terjadi ketika sumber daya mental seseorang terkuras atau kewalahan sehingga sulit untuk tetap fokus, berpikir jernih, mengambil keputusan yang tepat, atau menjalankan tugas secara efisien, kata Zaki dalam keterangannya, Sabtu (26/10). / 2024).
Zaki kemudian menjelaskan beberapa faktor yang dapat memicu kelelahan kognitif atau koma. Pertama-tama, ini adalah tugas yang rumit. Menurut Zaki, jika seseorang memproses banyak informasi atau melakukan tugas yang membutuhkan pemikiran kritis dan analisis mendalam dalam waktu lama, hal ini memberikan tekanan pada otak.
Kedua, stimulasi berlebihan. Zaki menjelaskan, lingkungan yang penuh dengan gangguan, seperti suara keras, multitasking, atau seringnya berpindah konsentrasi antar tugas, dapat menyebabkan tubuh merasa terstimulasi secara berlebihan.
“Hal ini lumrah di era digital ini. “Orang-orang terus-menerus beralih antara jejaring sosial dan pekerjaan yang berbeda, yang menyebabkan kelelahan mental kronis,” jelas Zaki.
Jadi faktor yang ketiga adalah kurang istirahat. Zaki mengatakan otak sangat membutuhkan waktu pemulihan setelah bekerja keras. Oleh karena itu, bekerja tanpa istirahat atau kurang tidur dapat memperburuk kelelahan kognitif.
Selain itu, pemicu stres emosional, seperti stres pekerjaan atau masalah pribadi, juga dapat menyebabkan seseorang mengalami koma. Zaki menjelaskan, ketika seseorang merasa kewalahan secara emosional, otak bekerja lebih keras untuk melawan emosi negatif tersebut sehingga menurunkan kemampuan mental dalam melakukan tugas intelektual.
“Aktivitas yang membosankan dan kurang menantang juga dapat menyebabkan kelelahan kognitif. Seseorang mungkin merasa lelah secara mental jika rangsangan baru atau bervariasi tidak mencukupi sehingga menimbulkan perasaan stagnan dan penurunan kemampuan kognitif,” kata Zaki.
Ia menjelaskan, jam koma biasanya menimbulkan dampak negatif. Misalnya saja menurunnya kinerja karena sulit berkonsentrasi, berkurangnya motivasi menyelesaikan tugas, kelelahan mental, kesalahan dalam bekerja, dan mood yang buruk.
“Jam koma bisa menyebabkan gangguan mood seperti marah, frustasi atau depresi. “Bisa jadi karena tidak bisa berfungsi maksimal,” ujarnya.
Artikel Fenomena Jam Koma Ramai Dibahas Gen Z di Medsos, Apa Itu? pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Ramai Fenomena Jam Koma, Psikolog Ungkap Cara Mengatasinya pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Zaki Noor Fahmawati, psikolog Universitas Muhammadiyah Sadwarjo (Amsida), mengatakan bahwa menghabiskan waktu berjam-jam dalam keadaan koma berdampak negatif pada kinerja dan suasana hati yang buruk. Itulah mengapa penting bagi generasi muda dan semua orang untuk menggunakan beberapa strategi untuk mencegah dan menangani koma.
Yang pertama adalah istirahat secara teratur. Zaki berpesan kepada setiap orang untuk selalu istirahat secara teratur saat melakukan aktivitas mental yang berat.
Misalnya saja dengan teknik Podomoro yaitu 25 menit kerja, 5 menit istirahat. Ini bisa membantu mengurangi stres mental dan mencegah koma berjam-jam, kata Zaki, Sabtu (26/10/2024). .
Untuk mencegah dan menghilangkan jam perjalanan, perlu juga dibuat skala prioritas. Zaki menjelaskan, skala prioritas dapat membantu seseorang fokus pada satu tugas dalam satu waktu, sehingga mengurangi beban kognitif dan meningkatkan kinerja.
Untuk menghindari kelelahan kognitif, Zaki juga menyarankan untuk meningkatkan kualitas tidur Anda. Tidur yang cukup dan berkualitas membantu otak mengisi kembali sumber daya mentalnya, yang diperlukan untuk menghindari kelelahan kognitif.
Kemudian bermeditasi. “Latihan ini efektif merelaksasi pikiran dan melepaskan stres mental sehingga membantu memulihkan konsentrasi dan energi mental,” jelasnya.
Olahraga juga dianggap penting dalam mencegah koma. Zaki menjelaskan, olahraga dapat meningkatkan aliran darah ke otak dan memicu pelepasan hormon endorfin yang dapat meningkatkan mood dan meningkatkan fungsi kognitif.
Terakhir, koma dapat dicegah dengan mengatur tekanan jam. Menurut Zaki, banyak latihan yang bisa dilakukan, seperti latihan relaksasi, manajemen waktu, dan mendapatkan dukungan sosial. Manajemen stres membantu orang mengatasi beban emosional yang sering kali menyebabkan kelelahan kognitif.
Artikel Ramai Fenomena Jam Koma, Psikolog Ungkap Cara Mengatasinya pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel JAHANGIR NEWS Waspada Mommy Burnout: Ini Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Dalam masyarakat, ibu seringkali dipandang sebagai sosok yang sakral, namun sulit dipahami bahwa ibu tetaplah sosok yang lemah secara fisik dan emosional. Kelelahan yang dialami seorang ibu dapat menyebabkan mommy burnout, suatu kondisi yang perlahan-lahan merusak keseimbangan kehidupan ibu dan keluarga.
Berapa suhu ibu?
Mum Sickness merupakan kondisi dimana ibu merasa stres dan terbebani hingga kelelahan baik secara fisik maupun mental. Kejenuhan ini dapat menyebabkan seorang ibu memaksakan diri hingga “putus asa”, yang pada akhirnya menimbulkan ketidakharmonisan dalam keluarga. Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology (2018), ada tanda-tanda awal gejala ibu yang perlu diperhatikan, seperti:
• Merasa “tidak cukup baik” sebagai seorang ibu.
• Tekanan untuk menjadi ibu dan pribadi yang sempurna.
• Paksakan diri Anda untuk terus berusaha, meskipun Anda merasa lelah.
• Takut bahwa tindakan melukai diri sendiri akan menyebabkan anak gagal.
Dampak polio pada ibu dan keluarga
Rasa sakit yang dialami Mama lebih dari sekedar rasa lelah; akibatnya bisa sangat merugikan. Beberapa efek samping yang sering dialami ibu penderita sakit maag antara lain:
• Kelelahan fisik dan emosional.
• Sering merasa marah atau frustasi.
Kesulitan berpikir jernih.
• Jarak emosional dari anak, dengan perhatian yang berlebihan.
• Hilangnya kesadaran diri.
• Merasa kesepian.
Efek jangka panjang dari kelelahan dapat menyebabkan kondisi yang disebut Kejatuhan Pygmalion, sebuah spiral ke bawah yang disebabkan oleh ekspektasi internal dan stres. Akibatnya kesejahteraan ibu dan keluarga bisa memburuk, seperti dijelaskan Bu Tasri, seorang ibu yang menderita sakit maag.
“Takut saya jadi kurang tidur. Makin capek, marah, dan rasa takut saya bertambah,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diperoleh Republika.co.id, Selasa (8/10/2024).
Cara mengobati sakit ibu
Menurut Sarah Hubert, psikolog asal Belgia, penyebab utama ibu mengalami burnout adalah kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar. Dukungan ini sangat penting untuk membantu ibu mengatasi kesulitan yang dirasakannya. Bantuan bisa datang dari pasangan, keluarga, teman atau tetangga.
Namun seringkali para ibu enggan mencari dukungan karena terlalu lelah. Oleh karena itu, orang-orang terdekat ibu harus bisa mengendalikan keadaan ini dan memberikan banyak perhatian agar ibu tidak merasa sendirian dalam menghadapi tantangan menjadi seorang ibu.
Artikel JAHANGIR NEWS Waspada Mommy Burnout: Ini Penyebab, Dampak, dan Cara Mengatasinya pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>