Artikel Peneliti: Tiga Tantangan Guru di Era Modern pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Ada tiga kesulitan. Pertama, pengembangan keterampilan bergantung pada pendidikan sains dan keterampilan teknis yang merupakan bagian dari kualifikasi siswa ketika mereka beralih dari sekolah ke dunia kerja, kata Angi Afriansya di Jakarta, Selasa.
Permasalahan kedua yang juga harus mereka hadapi adalah sosialisasi, yaitu terkait dengan internalisasi budaya, nasionalisme, nasionalisme dan nilai-nilai perilaku anak yang berbeda dari sebelumnya.
Oleh karena itu, tergantung pada kemampuan anak dalam berjejaring atau bersosialisasi, menjalin hubungan baik dengan perwakilan kebangsaannya sendiri, tanpa melihat asal usul dan asal usulnya.
Selain itu, permasalahan yang terakhir (ketiga) adalah masalah subjektivitas. Hal ini mengacu pada kedudukan anak sebagai anggota yang mengetahui apa yang dibutuhkannya sehingga tidak mudah terpengaruh oleh kompleksitas zaman.
“Ketiganya saya ambil dari pemikiran Biesta, dan saya kira bisa menggambarkan posisi pendidikan kita saat ini dan semakin kompleksnya tugas guru,” ujarnya.
Tiga tantangan yang dihadapi guru saat ini diperburuk oleh masalah gaji yang tidak mencukupi dalam upaya mereka untuk menyebarkan beragam keterampilan dan pengetahuan.
“Saya melihat ada berbagai kesulitan dan permasalahan. “Kita masih menghadapi tantangan terkait pemerataan akses pendidikan, guru murah dan bergaji rendah, kualifikasi dan kompetensi guru, serta keselamatan guru,” ujarnya.
Oleh karena itu, kehadiran pemerintah sangat penting untuk menjamin dukungan berbagai pihak seperti pemerintah serta aspek budaya masyarakat.
Artikel Peneliti: Tiga Tantangan Guru di Era Modern pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Upah Minim: Guru Ngonten, Narik, Sampai Jadi Buruh pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Studi ini menemukan bahwa 74 persen guru honorer/kontrak memperoleh penghasilan minimal 2 juta euro per bulan. Bahkan, 20,5 persen di antaranya masih berpenghasilan kurang dari Rp500 ribu. Contoh rendahnya gaji tersebut adalah Upah Minimum Provinsi (UMP) di Indonesia pada tahun 2024 sebesar Rp 3,1 juta. Gaji daerah tertinggi sebesar Rp5,3 juta dan gaji daerah terendah sebesar Rp2 juta.
Sedangkan rata-rata angka kemiskinan per kapita pada Maret 2024 tercatat sebesar Rp582.932. Sedangkan angka kemiskinan rumah tangga rata-rata 2.786.415 per bulan.
Maksudnya apa? Tidak ada yang lebih baik dari pekerja yang tidak mengandalkan pendidikan, katanya dalam diskusi di ANTARA Heritage Center Jakarta, Selasa. “Bahkan di lapisan masyarakat yang paling murah sekalipun, para guru, terutama guru yang dihormati, masih harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.” Survei dilakukan pada bulan Mei 2024 di 25 kabupaten dengan data yang diperoleh menggunakan metode non-simulated probabilitas sampling.
Minimnya pendapatan dari pekerjaan utama juga menyebabkan guru hanya mempunyai pekerjaan sampingan. Tak kurang dari 39,1 persen berprofesi sebagai guru dan personal trainer. Sedangkan perdagangan 29,3 persen, ekonomi 12,8 persen, tenaga kerja 4,4 persen, pembuat konten 4 persen, tukang ojek online 3,1 persen, guru 1,3 persen, penulis 0,8 persen, dan usaha lain-lain 4,8 persen.
Namun lapangan kerja utama dan kesempatan kerja lainnya masih belum mencukupi kebutuhan hidup. Hal ini menjadikan hutang sebagai salah satu cara untuk menutupi kebutuhan hidup. Tercatat 79,8 persen guru mengaku terlilit utang.
Setidaknya 52,6% menyatakan sebaiknya memberikan pinjaman kepada bank dan BPR, 19,3% kepada pinjaman keluarga, 13,7% kepada koperasi, 8,7% kepada teman atau tetangga, dan 5,2% kepada pinjaman online.
Apabila utang tersebut tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan, maka harta tersebut harus diagunkan. Berdasarkan survei, 38,5% guru mempunyai emas, 14% agunan surat-surat mobil, 13% agunan izin rumah/tanah, 4,3% agunan, 1,7% surat keputusan PNS, 1,3% telepon seluler, 0,8 persen kamera gadai, 10,4 persen gadai toko.
Untungnya, di tengah kondisi tersebut, sebanyak 93,5 persen guru ingin terus mengajar sebagai guru hingga pensiun.
Artikel Upah Minim: Guru Ngonten, Narik, Sampai Jadi Buruh pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel HGN Momentum untuk Sejahterakan Kehidupan Guru pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Memperingati Hari Guru Nasional bersamaan dengan dimulainya pemerintahan baru memberikan inspirasi bagi negara dan kita semua untuk bekerja sama mencapai kualitas dan kesejahteraan guru yang lebih baik,” kata Wakil Presiden Rakyat Indonesia. Senin, menurut pernyataan dari kelompok konsultan Lestari Moirtijat yang berbasis di Jakarta.
Tema peringatan Hari Guru Nasional tahun ini adalah “Guru Hebat, Indonesia Kuat”. Hal itu tertuang dalam surat edaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendiktasmen) Republik Indonesia 31810/MPK.B1/TU.02.03/2024 Pedoman Peringatan Hari Guru Nasional Tahun 2024.
Menurut dia, komitmen pemerintah untuk mencetak guru terbaik harus diwujudkan melalui langkah-langkah nyata.
Ia mengingatkan, sebagai salah satu pilar utama sistem pendidikan, peran guru tidak hanya sekedar mengajar, namun juga mendidik, membimbing, membimbing, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik.
Oleh karena itu, lanjutnya, kualitas guru sesungguhnya menentukan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia suatu negara.
Oleh karena itu, anggota panitia harus memperhatikan kesejahteraan para guru.
Lestari Moerdijat mendorong upaya pemerataan pemerataan guru berkualitas di seluruh tanah air sehingga sumber daya pendidikan yang ada dapat memenuhi kebutuhan di banyak daerah yang kekurangan guru.
Menurutnya, komitmen untuk mencetak guru-guru terbaik harus terus dikembangkan untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang berdaya saing di masa depan.
Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan kualitas tenaga pengajar serta mempercepat berbagai langkah positif dalam terselenggaranya proses belajar mengajar yang aman, nyaman dan bebas dari ancaman kekerasan di lingkungan sekolah.
Artikel HGN Momentum untuk Sejahterakan Kehidupan Guru pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Guru: Dunia Pendidikan di Persimpangan yang Berbahaya pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Setiap kali Anda mengganti menteri, Anda mengubah kurikulumnya.” Kata-kata ini sering diucapkan ketika pemerintahan baru dilantik. Namun pergantian menteri atau pergantian kurikulum, pendidikan Indonesia memang seperti itu, tidak banyak berubah.
Hal itu diungkapkan Muhammad Ali Sodikin (43 tahun), guru SMK di Kecamatan Jambu, Semarang, Jawa Tengah. Ali menilai kondisi pendidikan Indonesia saat ini jauh dari harapan.
Kualitas pendidikan masih kalah jauh dibandingkan negara maju, banyak guru yang terjebak pada formalitas, pendidikan terfokus pada mencetak anak dalam jumlah besar di atas kertas, sebagai produk sistem pendidikan anak.
Permasalahan tersebut hanyalah sebagian kecil dari permasalahan yang dihadapi pendidikan Indonesia saat ini. Ali menggambarkan dunia pendidikan saat ini berada di persimpangan jalan yang berbahaya. Menurut Ali, perubahan kurikulum tidak akan mengubah mutu pendidikan menjadi lebih baik jika permasalahan mendasar dalam dunia pendidikan tidak diatasi.
Menurutnya, berapa kali pun kurikulum diubah, pendidikan di Indonesia masih jauh dari harapan. Meski demikian, Ali tidak memungkiri bahwa kurikulum dirancang untuk meningkatkan mutu pendidikan.
“Contohnya program Merdeka, ketika dilaksanakan banyak yang salah kaprah tentang kurikulumnya. Banyak yang punya target angka dan memenuhi angka itu penuh manipulasi, yang penting bisa capai angkanya, jadi programnya bikin senang, padahal Yang terjadi di bawah tidak,” kata Ali di SMK Negeri 1 Jambu Republik Guru, Selasa (26/11/2024).
Faktanya, berapa kali pun kurikulum diubah, itu akan terjadi. Karena kurikulum yang tepat, guru sendirilah yang menjadi pemimpin dan teladan bagi anak. “Karena berapa kali pun kurikulum diubah, hasilnya tetap sama,” ujarnya yang sudah menjadi guru sejak tahun 2005 itu.
Ali mencatat, masih banyak guru atau pendidik yang mengajar anak-anak, seraya menekankan banyaknya angka yang tertulis di kertas. Faktanya, hubungan antara guru dan anak tidak hanya sebatas tembok akademis saja, namun lebih dari itu.
Menurutnya, banyak guru yang masih fokus pada konten atau pengetahuan materi. Padahal seharusnya guru fokus pada pengembangan manusia, dalam hal ini siswa.
“Kita perlu fokus pada orangnya, bagaimana orang tersebut bisa berempati, bagaimana anak ini bisa menghargai orang lain dan lebih menghargai pemikiran orang lain, dan itu tidak terjadi di Indonesia,” jelas Ali.
Artikel Guru: Dunia Pendidikan di Persimpangan yang Berbahaya pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Anggota DPR Harap tak Ada Lagi Kriminalisasi Guru pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Saya berharap kriminalisasi guru akibat permasalahan proses belajar mengajar tidak terjadi lagi. Kalau ada diselesaikan melalui perundingan, kata Meiti dalam keterangannya yang dikonfirmasi di Jakarta, Selasa pekan lalu.
Menurut dia, berulangnya kasus kriminalisasi menunjukkan lemahnya pembelaan terhadap profesi guru.
“Perkara pidana terhadap guru biasanya berawal dari kesalahpahaman dalam mengatur siswa di kelas. Artinya kasus yang timbul dari proses belajar mengajar di kelas. Namun proses ini akan sampai ke pengadilan,” ujarnya.
Katanya, hal itu menunjukkan kurangnya kepedulian dan perlindungan terhadap guru.
Selain itu, Meitei mengatakan peran guru sangat penting dalam mentransformasikan sumber daya manusia dan melahirkan anak-anak tanah air yang cerdas dan berkarakter. Ia menilai upaya guru sangat penting bagi perkembangan dunia pendidikan.
Dalam rangka Hari Guru Nasional, Meity kembali mengajak semua pihak untuk memperhatikan permasalahan yang dihadapi guru mulai dari kesejahteraan, kompetensi, kriminalisasi dll.
“Selamat Hari Guru. “Mudah-mudahan kali ini kita bisa memusatkan perhatian pada penyelesaian permasalahan para guru,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti menegaskan, pihaknya akan meningkatkan kesejahteraan guru dengan memberikan tunjangan sertifikasi, bukan kenaikan gaji.
Artikel Anggota DPR Harap tak Ada Lagi Kriminalisasi Guru pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>