Artikel Australia Berencana Larang Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun, Game dan Chat Masih Bisa pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Australia Berencana Larang Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun, Game dan Chat Masih Bisa pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Info Kesehatan Banyak Beredar di Medsos, Orang Tua Diimbau Jangan Telan ‘Mentah-Mentah’ pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Banyak rumor kesehatan dan informasi yang salah beredar, membuat para orang tua bingung bagaimana menentukan solusi terbaik untuk kesehatan anak mereka. Pendiri komunitas Parenttalk Nucha Bachri mengatakan, orang tua perlu kritis dalam menyaring informasi terkait kesehatan agar bisa membedakan mana yang salah dan mana yang fakta menurut para ahli.
“Penting sekali bagi kita sebagai orang tua untuk berpikir kritis, apa yang dikatakan oleh tokoh masyarakat atau bahkan mungkin ahli, ini yang harus kita pikirkan, keahliannya bagian apa, siapa dia, apakah benar, karena misalnya, kalau ada artikel atau koran harus dicek dulu,” kata Nucha pada diskusi Pencegahan Pneumonia Al Ora Indonesia 2045 di Jakarta, Senin (18/11/2024).
Nucha mengatakan, membanjirnya informasi di internet dan media sosial serta semakin banyaknya pakar atau dokter yang memiliki akun untuk mempromosikan pendidikan terkadang membuat orang tua bingung memilih jalan yang tepat untuk diikuti. Selain itu, pesan yang beredar melalui aplikasi pesan instan atau grup keluarga juga dapat membuat orang tua kebingungan dalam menyaring informasi. Faktanya, kehadiran jejaring sosial dan keberadaan komunitas parenting berperan dalam pengambilan keputusan, terutama terkait kesehatan, bagi orang tua yang terutama mengakses internet, seperti generasi milenial dan generasi Z.
“Ini salah satu media massa yang paling mempengaruhi keputusan keluarga mengenai pemilihan vaksin, dll. Jadi ada pengaruh dari teman dan juga dari masyarakat yang saling mengingatkan, misalnya ada informasi baru tentang vaksin atau , misalnya ada ilmu kesehatan,” ujarnya.
Media sosial, kata Nucha, juga dapat menjadi jembatan atau perantara antara pakar dan masyarakat untuk menjelaskan dengan bahasa yang lebih mudah sehingga informasi kesehatan lebih mudah dipahami. Orang tua harus memiliki filter sendiri untuk semua informasi yang mereka terima karena tidak semua informasi benar-benar tervalidasi. Apalagi bagi generasi tua yang belum banyak mengetahui tentang media sosial.
“Kita yang masih muda, yang harus lebih khawatir untuk bisa menyaring apakah semua informasi itu benar atau tidak, biasanya saya selalu bertanya ke dokter spesialis lain, psikolog atau dokter,” ujarnya. Lebih lanjut ia mengatakan, dengan menyaring derasnya informasi di jejaring sosial dan internet, orang tua dapat mengurangi rasa panik dan mengobati penyakit anaknya dengan tepat dan benar.
Artikel Info Kesehatan Banyak Beredar di Medsos, Orang Tua Diimbau Jangan Telan ‘Mentah-Mentah’ pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel CIRCLE NEWS Gen Z Punya Akun Media Sosial Lebih dari Satu, Psikolog: Seperti Pakai Banyak Topeng pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Padahal kehadiran media sosial mempunyai dua sisi, yaitu dapat memberikan dampak positif jika dimanfaatkan dengan bijak dan dapat memberikan dampak negatif jika salah dalam memanfaatkannya,” kata Nurul, Kamis (05/02/2024). dikatakan. .
Nurul mengatakan, remaja yang rentan terpengaruh konten media sosial cenderung sensitif, misalnya ketika diejek oleh teman sebayanya melalui media sosial. Ini akan memicu dia.
Faktor lain yang mempengaruhi kesehatan mental Gen Z adalah mereka cenderung memiliki lebih dari satu akun media sosial. Ada pula yang melakukan hal tersebut karena tak ingin mengungkap identitas aslinya di media sosial.
Nurul menilai fenomena tersebut menunjukkan kepribadian yang tidak sehat. Ibaratnya Gen Z yang kini berusia antara 12 hingga 27 tahun harus banyak memakai masker saat bermain media sosial, seolah sedang memainkan peran. Jika terus berlanjut, fenomena ini akan berdampak pada kesehatan mental Gen Z.
“Tentunya mereka akan merasa lelah karena fenomena ini. Dari sini kita bisa melihat bahwa pendidikan keluarga menjadi faktor protektif bagi generasi Z terhadap pengaruh negatif media sosial,” ujarnya.
Artikel CIRCLE NEWS Gen Z Punya Akun Media Sosial Lebih dari Satu, Psikolog: Seperti Pakai Banyak Topeng pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel JAHANGIR NEWS Instagram Punya Aturan Baru, Pengguna di Bawah Usia 18 Tahun ‘Gak Bisa’ di-DM pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Menurut Reuters, pengguna akun remaja tersebut hanya dapat menerima pesan dan ditandai berdasarkan akun yang mereka ikuti atau sudah terhubung dengannya. Selain itu, setelan konten sensitif akan disetel ke tingkat paling ketat.
Baca juga: Tinggi Badan Nabi Adam 37 Meter? Hadits ini mengungkapkan fakta dan dibenarkan oleh ilmu pengetahuan modern
Pengguna yang berusia di bawah 16 tahun dapat mengubah pengaturan ini hanya dengan izin orang tua. Orang tua juga dapat memantau interaksi anak-anak mereka dan membatasi penggunaan aplikasi.
Pembaruan ini muncul sebagai tanggapan atas kekhawatiran tentang dampak negatif media sosial terhadap kesehatan mental generasi muda. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dapat menyebabkan depresi, kecemasan, dan ketidakmampuan belajar, terutama di kalangan pengguna yang lebih muda.
Meta, TikTok milik ByteDance, dan YouTube milik Google menghadapi ratusan tuntutan hukum atas efek adiktif dari platform mereka. Tahun lalu, 33 negara bagian AS, termasuk California dan New York, menggugat perusahaan tersebut karena salah menggambarkan risiko platformnya.
Platform utama seperti Facebook, Instagram, dan TikTok memungkinkan pengguna berusia 13 tahun ke atas untuk mendaftar. Tiga tahun lalu, Meta membatalkan aplikasi Instagram yang ditujukan untuk remaja setelah mendapat kritik dari anggota parlemen dan kelompok advokasi.
Pada bulan Juli, Senat AS memperkenalkan dua rancangan undang-undang keamanan online yang akan meminta pertanggungjawaban perusahaan media sosial atas dampak platform mereka terhadap anak-anak dan remaja. Sebagai bagian dari pembaruan ini, pengguna Instagram yang berusia di bawah 18 tahun akan menerima pemberitahuan untuk menutup aplikasi setelah 60 menit setiap hari. Akun-akun ini juga akan memiliki mode tidur standar yang akan mematikan notifikasi sepanjang malam.
Meta akan meluncurkan pembaruan ini kepada pengguna di wilayah AS, Inggris, Australia, dan UE pada akhir tahun 2024. Sedangkan remaja di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, akan menerima upgrade akun Remaja pada Januari 2025.
?
Artikel JAHANGIR NEWS Instagram Punya Aturan Baru, Pengguna di Bawah Usia 18 Tahun ‘Gak Bisa’ di-DM pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel CIRCLE NEWS Siswi SMP Tegal Dikeroyok Adik Kelas Usai Saling Ejek di Media Sosial, Warganet: Miris pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Dalam video tersebut, pelaku melontarkan kata-kata kasar, memukul, menendang, memegangi korban hingga berhijab. Percakapan dalam video tersebut menggunakan bahasa lokal, dan tidak jelas apa yang dilakukan pelaku terhadap hal tersebut.
Korban tidak terlihat melawan, namun justru membela diri dengan meyakinkan pelaku bahwa dirinya tidak bersalah. Ada beberapa gadis remaja lain di lokasi kejadian, yang mencoba menghentikan pelaku dengan perkataannya, namun aksi pelaku terus berlanjut.
Setelah video tersebut beredar, terungkap bahwa aksi tersebut terjadi pada malam hari, 17 Mei 2024, dimana korbannya adalah seorang siswa kelas IX di salah satu SMA di Tigal. Ketiga pelaku semuanya merupakan remaja kelas VII korban, aksinya diawali dengan saling pukul di media sosial.
Orang tua korban memberitahu polisi dan terdakwa menginterogasinya. Polisi juga mengatakan, mediasi antara kedua pihak telah dilakukan dan kini korban sudah beraktivitas seperti biasa.
Artikel CIRCLE NEWS Siswi SMP Tegal Dikeroyok Adik Kelas Usai Saling Ejek di Media Sosial, Warganet: Miris pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>