Artikel BPJS Ketenagakerjaan Cari Solusi Indonesia Lepas dari Middle Income Trap pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Direktur Utama BPGS Ketenagakerjaan, Ingoro Iko Kahio menjelaskan, keberadaan Komite Jaminan Sosial 2024 merupakan bentuk respon terhadap tantangan besar yang saat ini dihadapi banyak negara berpendapatan menengah, termasuk Indonesia, yakni “Avg Income”. perjalanan”
Fenomena ini terjadi ketika negara-negara berpendapatan menengah mengalami stagnasi dan kesulitan dalam transisi menuju status negara berpendapatan tinggi.
“Salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap komplikasi kelompok berpendapatan menengah adalah tidak memadainya sistem jaminan sosial yang mampu mendukung pembangunan inklusif dan berkelanjutan,” kata Ingoro.
Menurutnya, kesenjangan distribusi sumber daya, rendahnya akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan jaminan sosial membuat masyarakat semakin rentan dan menghambat inovasi dan produktivitas.
Selain itu, angkatan kerja Indonesia saat ini didominasi oleh sektor informal yang jumlahnya sekitar 60 persen atau 84,13 juta jiwa. Selain itu, demografi penduduk Indonesia sedang menuju ke arah penuaan penduduk, dimana proporsi penduduk lanjut usia semakin meningkat.
Menurut Angoro, hal ini harus menjadi perhatian pemerintah dan semua pihak, karena pekerja informal dan penduduk lanjut usia berisiko jatuh miskin bila memiliki risiko sosial ekonomi.
Oleh karena itu, perluasan cakupan jaminan sosial ketenagakerjaan merupakan suatu keharusan yang mutlak, agar impian Indonesia Emas 2045 dapat terwujud.
Hal ini menyebabkan hingga Oktober 2024, jumlah pekerja yang mendapat jaminan sosial ketenagakerjaan baru mencapai 40,83 juta orang dan 25,8 juta pekerja tersebut didominasi oleh sektor formal atau penerima upah (PU). Selain itu, jumlah pekerja informal atau tidak dibayar (BPU) sebanyak 9,4 juta pekerja.
Melibatkan pemerintah, swasta, lembaga akademis dan organisasi masyarakat sipil, Komite Jaminan Sosial 2024 akan menjadi forum diskusi untuk mengusulkan solusi inovatif dan strategi bersama untuk mengatasi tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia, khususnya masalah kesejahteraan pekerja. , itulah tujuan kita bersama.
“Kerja sama seluruh pemangku kepentingan dalam penyediaan lapangan kerja jaminan sosial di Indonesia merupakan langkah penting dalam melindungi hak dan kesejahteraan pekerja. Dengan kerja sama yang erat dari semua pihak, saya yakin kita bisa maju bersama membangun Indonesia yang sejahtera.” pungkas Anggur.
Artikel BPJS Ketenagakerjaan Cari Solusi Indonesia Lepas dari Middle Income Trap pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Hadapi Middle Income Trap, BPJS Ketenagakerjaan Fokus Optimalisasi Jaminan Sosial pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Direktur Perencanaan Strategis dan TI BPJS Ketenagakerjaan, Zainudin, menjelaskan bahwa Indonesia, seperti banyak negara berkembang lainnya, menghadapi tantangan besar yang dikenal sebagai jebakan pendapatan menengah. “Fenomena ini terjadi ketika negara-negara berpendapatan menengah mengalami stagnasi dan sulitnya transisi ke status negara berpendapatan tinggi,” kata Zainudin dalam konferensi pers Road to Social Security Summit 2024.
Zainudin menyoroti bahwa salah satu penyebab utama fenomena ini adalah ketidakmampuan sistem jaminan sosial untuk mendukung pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, BPJS Ketenagakerjaan berupaya memperkuat sistem jaminan sosial sebagai landasan penting untuk mengatasi tantangan tersebut.
Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya menciptakan lapangan kerja berkualitas, mendorong kewirausahaan, dan memperkuat infrastruktur melalui gagasan “Indonesia Bersama Maju Menuju Indonesia Emas 2045”, sebagaimana tertuang dalam Asta Cita.
Zainudin mencatat, jaminan sosial yang memadai akan melindungi pekerja Indonesia dan keluarganya, meningkatkan produktivitas, dan pada akhirnya mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
KTT Jaminan Sosial 2024 akan dibuka oleh Presiden Prabowo Subianto dan Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Angoro Eko Kahyo. Acara ini akan menghadirkan pembicara tingkat menteri, ekonom, akademisi dan pengusaha yang akan membahas dua topik besar:
Strategi umum untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah
Menyelamatkan kelas menengah dan kelompok rentan untuk Indonesia emas
“Melalui diskusi yang melibatkan pemerintah, swasta, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil, diharapkan dapat diambil langkah-langkah konkrit untuk memperkuat sistem jaminan sosial dan menciptakan kesempatan yang adil bagi seluruh masyarakat,” tambah Zainuddin.
Dengan partisipasi berbagai pihak, Social Security Summit 2024 diharapkan dapat menjadi ajang pencarian solusi inovatif dan strategi kooperatif dalam mengatasi tantangan perekonomian global. “Kami yakin sinergi yang dibangun menjadi kunci suksesnya Bangaru Indonesia 2045,” pungkas Zainudin.
Acara ini merupakan momentum penting dalam memperkuat komitmen bersama untuk mendorong transformasi ekonomi dan sosial yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.
Artikel Hadapi Middle Income Trap, BPJS Ketenagakerjaan Fokus Optimalisasi Jaminan Sosial pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Legislator Golkar Harap Indonesia Lepas dari Middle Income Trap Lewat Hilirisasi Nikel pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Debat ini digelar pada Jumat (25/10/2024) di Kantor DPP Partai Golkar, Jalan Anggrek Neli Murni, Palmerah, Jakarta Barat.
Anggota Komite XII DPR RI dari Fraksi Golkar Bambang Patijaya hadir sebagai pembicara dalam diskusi ini.
Bambang mengatakan diskusi yang digelar BSNPG merupakan langkah baik untuk mendukung hilirisasi nikel.
“Selanjutnya kita mendengar pidato Presiden (Prabowo Subianto) saat pelantikan tanggal 20 Oktober, beliau dengan jelas menyampaikan bahwa salah satu agenda utamanya adalah hilirisasi mineral,” kata Bambang dalam pemaparannya.
Selain itu, kata dia, pada rapat kabinet pertama pada 23 Oktober 2024, Prabowo kembali menyinggung soal hilirisasi mineral.
“Tentunya mineral terpenting yang produksinya cukup tinggi dari Indonesia adalah nikel. Makanya kita hargai dan saya melihat BSNPG ingin melihatnya,” kata Bambang.
Selain itu, Bambang mengatakan Bahlil Lahadalia, Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), juga menyinggung pengelolaan nikel di Indonesia dalam tesis PhD-nya.
“Baiklah, saya kira ada hal yang sangat menarik untuk kita bahas hari ini dan saya berharap diskusi kita hari ini yang diinisiasi oleh BSN ini semoga dapat menghasilkan pemikiran-pemikiran baru atau mungkin nantinya akan menjadi informasi konstruktif yang akan kita bawa kepada pemerintah khususnya Menteri ESDM. Sumber Daya Mineral. “, katanya.
Ia berharap program hilirisasi dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian secara keseluruhan, serta meningkatkan pendapatan negara.
“Saat ini salah satu isu terpenting adalah bagaimana meningkatkan pendapatan negara dari sektor mineral,” kata Bambang.
Bambang mengatakan, langkah strategis pengawasan hilirisasi nikel membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) sibuk dan berlanjut di kabinet Prabowo Subianto.
BACA JUGA: Inilah Persamaan ISIS dan IDF Israel di Timur Tengah Menurut Para Ahli
Menurut dia, downscaling nikel merupakan langkah penting untuk mendorong transformasi perekonomian nasional.
“Penggerebekan tersebut merupakan isu seksi yang akan meningkatkan pendapatan pemerintah, mengatasi tantangan perekonomian yang berkelanjutan dan mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 8% sehingga kita dapat keluar dari jebakan berpendapatan menengah,” ujarnya.
Bambang berharap kebijakan ini dapat berkelanjutan sehingga hilirisasi mineral dapat memberikan nilai tambah perekonomian yang lebih signifikan bagi Indonesia.
Artikel Legislator Golkar Harap Indonesia Lepas dari Middle Income Trap Lewat Hilirisasi Nikel pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel JAHANGIR CIRCLE Deflasi Bikin Worry, Tiga Solusi Ini Bisa Diuji pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Ketiga solusi tersebut adalah meningkatkan pertanian, mendukung ekonomi sirkular, dan mengendalikan impor,” ujarnya, Rabu (9 Oktober 2024).
Gobel mengatakan, hal ini merespons data BPS yang menunjukkan deflasi melanda Indonesia selama lima bulan berturut-turut. Deflasi merupakan fenomena penurunan harga komoditas akibat berkurangnya daya beli masyarakat.
Meski terjadi deflasi, masyarakat tetap tidak membeli karena uangnya tidak cukup. Situasi ini merupakan yang terburuk dalam sepuluh tahun terakhir. Deflasi dimulai pada bulan Mei dan mencapai 0,03%, kemudian 0,08% pada bulan Juni, 0,18% pada bulan Juli, 0,03% pada bulan Agustus dan 0,12% pada bulan September.
Indonesia masih terdampak oleh kondisi perekonomian yang sulit, seperti gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), penutupan banyak industri manufaktur, dan gelombang impor barang. Selain itu, jumlah kelas menengah Indonesia yang terus berkurang dan muncul fenomena “thrifting” yang berarti masyarakat mulai menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat berkurangnya pendapatan.
“Semua ini terjadi akibat buruknya manajemen dan kebijakan ekonomi yang mengandung unsur penipuan dan moral hazard,” kata Gobel.
“Situasi ini tidak hanya bersifat struktural tetapi juga berkaitan dengan nilai-nilai. Oleh karena itu, kerugiannya sangat sistematis dan besar. Jadi kita memerlukan solusi yang mendasar tetapi juga solusi yang inovatif di masa depan”.
Gobel menilai situasi yang dihadapi Indonesia saat ini tidak hanya mengancam tujuan pertumbuhan ekonomi Indonesia, namun juga dapat mendorong Indonesia masuk ke dalam jebakan negara berpendapatan menengah.
“Indonesia telah menjadi negara berpendapatan menengah sejak lama, lebih dari 20 tahun, dan masih jauh dari 10.000 USD untuk keluar dari negara berpendapatan menengah. Indonesia semakin tidak menjadi negara industri tetapi justru mengalami proses deindustrialisasi. Beruntung masih ada negara seperti Laos, Myanmar, dan Kamboja di Asia Tenggara sehingga kita masih bisa memalsukan kegembiraan. “Tetapi jika kita melihat Vietnam, kita akan bernapas lega,” ujarnya.
Gobel mengaku sengaja menyampaikan penilaian dan fakta tersebut dengan ekspresi agar masyarakat tidak terus terbuai dengan eufemisme.
“Saya juga tidak ingin menimbulkan pesimisme, namun pada kesempatan kali ini saya ingin meningkatkan semangat dan optimisme dengan terus mencari solusi terbaik. Ini hanya masalah pilihan dan keinginan. Pilihannya ada, kemauan pasti ada, jadi langkah selanjutnya berani atau tidak. “Karena pasti ada pihak yang menikmati situasi buruk ini dan menolak perbaikan,” ujarnya.
Terkait ketiga solusi tersebut, Gobel menjelaskan kelayakan solusi pertama, yakni memperbaiki sektor pertanian. Ada tiga kebenaran tentang bidang ini.
Pertama, data BPS tahun 2022 mencatat terdapat 40,64 juta petani di Indonesia atau 29,96% dari total angkatan kerja. Sektor pertanian merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Kedua, separuh penduduk miskin Indonesia bekerja di bidang pertanian. Artinya sebagian besar masyarakat miskin di Indonesia adalah petani.
Ketiga, pertanian berkaitan dengan ketahanan nasional karena berkaitan dengan perut masyarakat. Tidak ada negara besar, kuat, dan maju yang bergantung pada negara lain untuk pangan. Keempat, pengembangan sektor pertanian mendorong perekonomian nasional.
“Sektor pertanian memerlukan solusi komprehensif, bukan solusi tambal sulam. Jika sektor pertanian bisa ditingkatkan, separuh permasalahan bisa teratasi dan basis perekonomian bisa semakin kuat. “Korea Selatan, China, dan Jepang awalnya memulai dengan membenahi sektor pertanian, kemudian beralih ke sektor industri,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan, persoalan pertanian bukan soal cukup atau tidaknya lahan pertanian, melainkan soal produktivitas hasil pertanian.
“Lahan kita masih cukup, tinggal meningkatkan produktivitas dua kali lipat. “Yang perlu dilakukan adalah intensifikasi dan modernisasi pertanian secara optimal,” ujarnya.
Memperluas lahan pertanian berpotensi meningkatkan produktivitas tanaman namun tidak akan mengurangi kemiskinan. “Jadi, bukan sekadar memenuhi kebutuhan pangan nasional, tapi yang lebih penting adalah mengentaskan kemiskinan dan menjamin kesejahteraan petani serta meningkatkan perekonomian nasional,” ujarnya.
Solusi kedua, kata Gobel, adalah pengendalian impor. Saat ini, menurutnya, Indonesia kebanjiran barang impor. Ia mengatakan, dalam teori ekonomi, membeli barang berarti membeli waktu, membeli upah pekerja, dan membeli penemuan dan perbaikan untuk menciptakan barang. Oleh karena itu, jika membeli barang impor yang sebenarnya diproduksi di dalam negeri, maka negara dan negara justru akan sangat dirugikan.
“Tidak hanya merugikan devisa negara dan menimbulkan pengangguran, tapi juga mematikan kreatifitas, kreatifitas manusia, dan kejayaan manusia di kalangan anak bangsa,” ujarnya.
Klimaks dari kisruh aturan impor adalah dengan diterbitkannya Surat Perintah Menteri Perdagangan Nomor 1 Agustus 2024 yang menghapuskan persyaratan pertimbangan teknis saat mengimpor barang dan mengeluarkan sekitar 28.000 kontainer yang dicurigai masuk tanpa izin impor.
Sejak Keputusan Menteri Perdagangan No. Keluarlah Keputusan Nomor 8 Tahun 2024, Gobel sepakat membahas pengendalian impor dengan menggeser pelabuhan masuk barang impor. “Pindah ke pelabuhan di Indonesia bagian timur. “Hal ini sekaligus menciptakan pemerataan ekonomi dan lapangan kerja bagi masyarakat di wilayah timur Indonesia,” ujarnya.
Selain itu, menurut data yang ada, kontribusi Indonesia bagian timur terhadap PDB Indonesia sangat rendah. Kontribusi Indonesia Bagian Barat khususnya Sumatera dan Jawa terhadap PDB sebesar 79,70%. Sedangkan sisanya yang kontribusinya jauh lebih kecil berasal dari kawasan timur Indonesia, yakni kontribusi Kalimantan terhadap PDB hanya 8,21%, Sulawesi 6,73%, Bali dan Nusa Tenggara 2,75%, Maluku dan Papua 2,61%. Oleh karena itu, konversi pintu masuk impor akan sangat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan pemerataan, ujarnya.
Namun, Gobel memperingatkan kerugian negara akibat gelombang impor ini: “Salah satu faktor terpenting yang menyebabkan kerusakan pada perekonomian nasional adalah rezim pedagang dan penambang yang mengendalikan kebijakan ekonomi internasional. Mereka seperti orang yang memindahkan barang dan menggali. Tidak ada kreativitas sama sekali. Faktanya, negara-negara besar dan peradaban besar lahir dari kelompok minoritas kreatif yang berinovasi dan membangun sesuatu. “Daya kreatif adalah energi kemajuan peradaban,” ujarnya.
Menurutnya, peradaban modern lahir karena munculnya pemikiran baru sehingga terciptalah mesin uap. Maka lahirlah revolusi industri. “Peradaban modern lahir bukan dari ditemukannya tambang emas, tambang minyak, tambang batu bara, atau tambang nikel, melainkan dari ditemukannya mesin uap. “Ini lahir dari proses kreatif,” ujarnya.
Menurutnya, melalui pengendalian impor akan tercipta lapangan kerja, industri berkembang, investasi tumbuh, pertumbuhan ekonomi terkendali, dan kesejahteraan masyarakat terbangun.
Gobel juga kembali menekankan pentingnya peningkatan ekspor melalui kerja sama semua pihak yaitu swasta, BUMN, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Perindustrian melalui ITPC (Trade Promotion Center Perdagangan Indonesia). Hal ini akan meningkatkan pemasaran produk Indonesia, terutama untuk memaksimalkan manfaat UMKM. Selain pengendalian impor, ekspor juga ditingkatkan.
Solusi ketiga, kata Gobel, adalah kebangkitan ekonomi sirkular. Ekonomi sirkular adalah model atau sistem ekonomi sirkular yang memaksimalkan kegunaan dan nilai tambah bahan atau produk untuk mengurangi limbah dan meminimalkan kerusakan sosial dan lingkungan. Menurutnya, melalui ekonomi sirkular maka akan tercipta lapangan kerja, tumbuhnya usaha kecil dan menengah, pengurangan sampah, dan kelestarian alam.
“Saya berharap pemerintahan baru Pak Parbowo Subianto mampu menjawab tantangan perekonomian ke depan dengan berpegang pada prinsip ketahanan nasional, kedaulatan negara, kemakmuran bersama, kehormatan bangsa Indonesia, dan kelestarian lingkungan.”
Artikel JAHANGIR CIRCLE Deflasi Bikin Worry, Tiga Solusi Ini Bisa Diuji pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>