Live score

sekolah ternak

puskesmas sumberrejo

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

benihtoto

advanced building ltd

7 brenovation

whatsapp marketing yusoftware

Projects | LJR28 Realty

dagelan4d

Featured Trips & Itineraries - Gulliver Trips

Import & Export of premium Beverages

limonuk

Alert Care Ltd

Professional Service for Your Assets

Best Drop and Scratch Protection

The Best Valentine’s Gifts 2026

Комплексные поставки промышленного сырья

Барс - Каталог прицепов

ZBM Collections

IT SOLUTIONS & SERVICES

TEKNAS

ormastoto

venus beauty spa

near to me

Rapid Oilfield Services

Physio Rehabilitation

KeyZone

Best Healthy Meal Plans Provider in Dubai

pomeri

Superior cuts

dagelan4d

dagelan4d

TryIt

fly premi air

Goldtrust Insurance

Jardin de Fleurs 13894 22

my running coach

araamu hotels

atrimoniales El Santuario

truth turtle

Công Thức Gia Đình

six cent press

IADOWR GIS

dagelan4d

dagelan4d

HorecaInsider.nl

patrimoniales El Santuario

Vidhani Bauunternehmen

ani motor

ani cars

concept house digital

un tech digital

Shera Car Rental

iadowr teams

Professional Back-end and Front-end Development Services

Trang Chủ - Khánh Ly Shop

Website học Laravel chất lượng cho lập trình viên

Suavis Technology

dagelan4d

dagelan4d

dagelan4d

Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah

nonton bola

rebahan21

nonton bola

almuqlms.com

asnadres.com

bashairworks.com

nelayan Arsip - Jahangir Circle News https://jahangircircle.org/tag/nelayan/ berita dari seluruh kalangan dunia Wed, 13 Nov 2024 18:21:28 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.9.4 https://jahangircircle.org/wp-content/uploads/2024/10/cropped-jc-32x32.png nelayan Arsip - Jahangir Circle News https://jahangircircle.org/tag/nelayan/ 32 32 Butuh Modal untuk Melaut, Nelayan Tunggu Implementasi Pemutihan Hutang https://jahangircircle.org/butuh-modal-untuk-melaut-nelayan-tunggu-implementasi-pemutihan-hutang/ https://jahangircircle.org/butuh-modal-untuk-melaut-nelayan-tunggu-implementasi-pemutihan-hutang/#respond Wed, 13 Nov 2024 18:21:28 +0000 https://jahangircircle.org/butuh-modal-untuk-melaut-nelayan-tunggu-implementasi-pemutihan-hutang/ REPUBLIKA.CO.ID, Semarang – Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) Riswanto mengucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto yang telah menandatangani Undang-Undang Nomor 47 Tahun 2024 tentang Pemotongan Kredit Ilegal. Peraturan Pemerintah (PP) menurutnya, PP tersebut mencerminkan...

Artikel Butuh Modal untuk Melaut, Nelayan Tunggu Implementasi Pemutihan Hutang pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.

]]>
REPUBLIKA.CO.ID, Semarang – Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) Riswanto mengucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto yang telah menandatangani Undang-Undang Nomor 47 Tahun 2024 tentang Pemotongan Kredit Ilegal. Peraturan Pemerintah (PP) menurutnya, PP tersebut mencerminkan Dukungan Prabowo terhadap usaha kecil dan menengah di bidang pertanian, peternakan, dan budidaya kelautan, terutama dukungan terhadap penghidupan nelayan skala kecil.

“Terkait dengan kemajuan yang dicapai Presiden Prabowo dalam penandatanganan PP Nomor 47 Tahun 2024 tentang Penghapusan Kredit Macet. Khususnya di bidang kelautan dan perikanan, kami sangat menyambut baik kemajuan dan kebijakan beliau,” kata Riswanto, Rabu (6/2024). 11) kepada Republika.

Ia menambahkan, HNSI Jawa Tengah yang membawahi 16 kabupaten/kota mendukung proyek yang diusung oleh Prabowo, “Beliau menyatakan dukungannya terhadap penderitaan para nelayan. Terutama nelayan kecil yang mata pencaharian ekonominya sangat bergantung pada laut dan segala resikonya,” ujarnya.

Namun Riswanto masih menunggu implementasi dari PP tersebut. Kami masih menunggu implementasi PP No. 47/2024 tentang mekanisme teknisnya. Serta jenis debitur termasuk jumlah maksimal yang termasuk dalam kategori debitur. penghapusan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, nelayan membutuhkan uang saat melaut atau menangkap ikan. “Biasanya untuk mendapatkan dana. Seringkali nelayan nekat berhutang ke pedagang, tengkulak, dan bank,” kata Riswanto.

Risvanto menambahkan: Jika seorang nelayan meminjam uang atau berhutang pada tengkulak, prosesnya biasanya cepat dan mudah. “Padahal ikan hasil tangkapan harus dijual melalui tengkulak dengan harga yang tidak sama dengan harga yang diperoleh di tempat pelelangan ikan atau TPI,” ujarnya.

“Sama halnya nelayan membeli minyak melalui tengkulak saat melaut. Harganya lebih mahal dari SPBUN, tapi bisa membayar tepat waktu,” tambah Riswanto.

Pilihan lain bagi nelayan untuk membiayai usaha lepas pantai mereka adalah dengan menggadaikan aset mereka ke bank, kata Riswanto. “Tentunya bunga dan cicilan bulanan dihitung berdasarkan nilai pinjaman,” ujarnya.

Ia mengatakan, meski bekerja keras mencari dana untuk menangkap ikan, pada praktiknya tidak jarang nelayan hanya menerima sebagian kecil dari hasil tangkapannya. Hasilnya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

“Diharapkan apabila ada kapal nelayan yang terbalik atau terbakar, maka pemilik kapal dapat memperoleh pertolongan dan untunglah debitur dapat membersihkannya, sehingga proyek penghapusan utang bagi nelayan ini akan sangat membantu dan bermanfaat bagi para nelayan,” Reese ujar Vanto.

Presiden Prabowo Subianto resmi menandatangani PP Nomor 47 Tahun 2024 tentang Penghapusan Kredit Macet UMKM Sektor Pertanian, Peternakan, dan Kelautan, sehingga kredit macet para pelaku usaha UMKM, petani, dan nelayan akan terhapuskan. Khususnya di Bank Xin Yuan.

“Pemerintah ingin membantu saudara-saudara kita dalam hal ini. Produsen pertanian, UMKM, dan nelayan adalah produsen pangan yang sangat penting. Mereka bisa melanjutkan usahanya. Lebih efektif untuk negara dan bangsa,” kata Prabowo, Selasa (2024). di Istana Merdeka pada 11 Mei 2019.

Artikel Butuh Modal untuk Melaut, Nelayan Tunggu Implementasi Pemutihan Hutang pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.

]]>
https://jahangircircle.org/butuh-modal-untuk-melaut-nelayan-tunggu-implementasi-pemutihan-hutang/feed/ 0
Cepat dan Hemat dengan SPBUN Solusi Bagi Nelayan di Pesisir Pantura Jabar  https://jahangircircle.org/cepat-dan-hemat-dengan-spbun-solusi-bagi-nelayan-di-pesisir-pantura-jabar/ https://jahangircircle.org/cepat-dan-hemat-dengan-spbun-solusi-bagi-nelayan-di-pesisir-pantura-jabar/#respond Tue, 29 Oct 2024 22:54:22 +0000 https://jahangircircle.org/cepat-dan-hemat-dengan-spbun-solusi-bagi-nelayan-di-pesisir-pantura-jabar/ REPUBLIK INDORAMAYU — Di kesunyian desa Limbangan, kecamatan Juntingyuat, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, terdengar deru mesin kapal berbobot 3 gros ton (GT). Kemudian mesin dimatikan dan kebisingan menghilang saat kapal bergerak perlahan menuju tepi pelabuhan. Pemilik perahu Tulip Joni, 52...

Artikel Cepat dan Hemat dengan SPBUN Solusi Bagi Nelayan di Pesisir Pantura Jabar  pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.

]]>
REPUBLIK INDORAMAYU — Di kesunyian desa Limbangan, kecamatan Juntingyuat, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, terdengar deru mesin kapal berbobot 3 gros ton (GT). Kemudian mesin dimatikan dan kebisingan menghilang saat kapal bergerak perlahan menuju tepi pelabuhan.

Pemilik perahu Tulip Joni, 52 tahun, memarkir perahunya yang diberi nama TJ di antara ratusan perahu di kedua sisi sungai. Kapal yang namanya diambil dari dua huruf pertama namanya itu berlayar melintasi perairan Indramayu. Dia pergi ke pantai sendirian seperti kebiasaannya.

Tulip mengikat perahunya ke tepi sungai dan keluar membawa semangkuk ikan. Dari berangkat pukul 04.00 WIB hingga kembali ke pelabuhan pada pukul 11.00 WIB, ia hanya berhasil menangkap 5 kg cumi dan 40 kg ikan pirik (ikan kecil untuk pakan bebek).

Laut tenang dan nelayan kelaparan. Ini bukan musim cumi-cumi, kata Tulip kepada Republik, Senin (21 Oktober 2024).

Menurut Tulip, cuaca di laut sebenarnya tenang. Angin sepoi-sepoi dan ombak yang ada hanya ombak kecil yang menggoyang perahu dengan lembut. Namun musim kemarau tahun ini sangat panas sehingga menyebabkan salinitas air laut meningkat.

Akibatnya, cumi-cumi yang banyak ditangkap oleh nelayan di Desa Limbangan ini lebih memilih hidup di perairan dalam yang tidak bisa dijangkau dengan jaring ikan tradisional di daerah tersebut.

“Musim cumi-cumi biasanya dimulai setelah tanggal 11 November saat hujan mulai menurunkan air untuk bertelur,” kata Tulip.

Saat itu, Tulip mampu menangkap dan membawa pulang 20 hingga 25 kilogram cumi, hingga satu kuintal, per hari. Ia sepakat, secara kaidah ekonomi, jika cumi-cumi dari nelayan berlimpah, maka harganya akan turun sekitar Rp 20.000 per kilogram.

Karena tidak tersedianya cumi-cumi di perairan saat ini, harga jualnya mencapai Rp 45.000 per kilogram.

Tn. Tulip segera menjual cumi-cumi dan pirik yang ditangkapnya di keramba ikan yang menunggu di pinggir muara sungai. Jika hasil panen 5 kg cumi dikalikan dengan harga Rp 45.000 per kg dan 40 kg ikan pirik (harga Rp 2.000 per kg), maka jumlah yang diterimanya adalah Rp 305.000.

Dengan uang di sakunya, Tulip kembali ke kapal untuk mengambil toples tengah yang kosong. Guci tersebut dibawanya dan dibawa ke Koperasi Tenaga Surya (Solsi) 38.45217 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan (SPBUN). Jaraknya hanya 15 meter dari tempat perahu ditambatkan.

Dari Solsi SPBUN milik Koperasi Produsen Wana Pantai Tiris, Tulip membeli sekitar 32,3 liter solar bersubsidi dengan harga Rp 6.800 per liter. Ia berencana melaut keesokan harinya dengan menggunakan solar.

Saat itu, belum banyak nelayan yang membeli solar. Hanya ada beberapa orang. Banyak nelayan yang memilih tidak melaut karena sedikitnya hasil tangkapan di laut.

Tulip kemudian menunjukkan kepada petugas SPBUN Sorsi sebuah barcode yang dicetak pada selembar kertas yang dilipat, dan dimasukkan ke dalam klip plastik bening. Barcode tersebut berisi data profil dan ukuran kapal yang menunjukkan haknya untuk membeli solar bersubsidi dari SPBUN Solusi.

Setelah dilakukan pengecekan barcode dan verifikasi kesesuaian data pada sistem SPBUN Solusi Desa Limbangan, petugas SPBUN langsung mengisi jerigen Tulip dengan solar.

Usai memberikan uang Rp 220.000 kepada petugas SPBUN, Tulip buru-buru mengambil satu tangki berisi solar dari kapal. Lalu dia pulang.

Seorang warga Desa Limbangan berkata, “Saya mau mandi dulu.”

Dua jam kemudian, Tulip kembali dan duduk santai di joroll (sejenis gubuk/pos) yang terletak di ujung sungai seberang SPBUN Solsi. Ia mengaku sore harinya ia habiskan dengan bermain catur atau sekedar ngobrol dengan nelayan lain.

Namun situasi di Joroll sepi karena banyak nelayan yang tidak melaut pada hari itu. Tulip dan dua orang lainnya merupakan satu-satunya nelayan.

Tulip mengatakan kehadiran SPBUN Solusi banyak membantu daerah tersebut. Ia sepakat solar bersubsidi bisa diperoleh dengan cepat dan ekonomis.

Sebelum Solusi SPBUN ada, Turip harus membeli solar bersubsidi di SPBU yang jaraknya 400 meter. Meski tak jauh, SPBU ini terletak di pinggir jalan utama yang menghubungkan Indramayu hingga Cirebon dan melayani seluruh kendaraan.

Akibatnya, antrean nelayan untuk membeli solar menjadi panjang. Selain itu, nelayan yang membeli solar di SPBU berasal dari berbagai desa lain.

“Antrean bisa berjam-jam, buang-buang waktu saja,” kata pria yang sudah menjadi nelayan sejak kecil ini.

Kalau tak mau bosan antre, Turip akan menginstruksikan tukang ojek untuk membeli solar di SPBU. Pembayaran kepada tukang ojek sebesar Rp 10.000.

Tulip mengamini, jika hasil tangkapan banyak maka akan mudah membayar tukang ojek sebesar Rp 10.000. Tapi kalau hasil tangkapannya sekecil sekarang, Rp 10.000 sangat masuk akal. .

Tulip menuturkan, uang hasil melaut yang diperolehnya saat itu digunakan untuk membeli bahan bakar solar senilai Rp220.000. Selain itu, sebagian juga ia gunakan untuk membeli barang-barang penting untuk perjalanan laut.

“Saya hanya punya sisa Rp 30.000. Kalau saya harus beli solar di SPBU dan minta ke tukang ojek, saya punya sedikit uang untuk dibawa pulang, makanya ada SPBUN. ”Eritt, bisa beli solar sendiri dan tidak perlu kirim montir,” kata ayah tiga anak dan seorang kakek serta cucu lainnya.

Diakui Tulip, selain lebih cepat dan irit, Anda tidak perlu khawatir dengan berbagai sistem manajemen untuk mendapatkan subsidi solar. Ia mengatakan, seluruh pengelolaan dilakukan oleh pengurus Koperasi Wana Pantai Tiris.

Nelayan lainnya, Tula, 55 tahun, mengatakan hal serupa. Ia pun mengamini kehadiran SPBUN Solusi yang dekat dengan tempat pendaratan kapal nelayan sangat membantu.

“Bagus. Sekarang sudah dekat. Saya tidak perlu antri lama. Dulu saya antri berjam-jam di SPBU dan capek,” kata Tula.

Thula baru saja membeli dua tangki solar dari SPBUN Sorsi di Desa Limbangan. Tiap toples kalengnya berkapasitas 40 liter.

“Saya beli dua tas untuk ke pantai selama dua hari. Saya berangkat besok pagi sekitar pukul 02.00 WIB,” kata Tula.

Diakui Tula, gurita yang dulu banyak ditemui di kawasan itu, kini sudah langka di kawasan tersebut. Untuk itu, ia berusaha mencari ikan lain untuk menutupi biaya solar sebesar 400.000 rupiah. Hibah ini belum termasuk makanan untuk dua hari memancing atau membeli es untuk mengawetkan ikan.

“Sekarang kita sedang menghadapi kelaparan ekonomi, tapi mau bagaimana lagi, pekerjaan saya sebagai nelayan, jadi saya tetap melaut. Apa yang saya dapat tergantung pada keberuntungan saya.

Saat itu, di saat yang bersamaan, seorang perempuan bertopi kamp (topi petani) di kepalanya mendatangi SPBUN Solusi Desa Limbangan dengan menggunakan sepeda motor. Di depan sepeda ada gigi tengah yang kosong.

Seorang perempuan bernama Tonia (42) ingin membeli mesin diesel. Ia pun menunjukkan barcode tersebut dan diberitahu bahwa dirinya berhak membeli solar bersubsidi dari SPBUN.

“Karena kondisi suamiku, kami akan pergi ke pantai besok pagi,” kata Tonia.

Diakui Tonia, hal itu dilakukannya karena merasa kasihan pada suaminya yang kelelahan setiap kali pulang dari memancing. Suaminya biasanya berangkat pagi hari, sekitar pukul 01.00 WIB atau 03.00 WIB, dan baru kembali sekitar pukul 12.00 WIB.

Tonia tiba di SPBUN Desa Limbangan Sorsi pada pukul 15.30 WIB. Ia mengaku sempat berangkat ke SPBU karena baru saja selesai bekerja di sawah sebagai buruh tani. .

“Sekarang lebih baik beli solar di dekat sini. Antreannya tidak terlalu panjang. Dulu saya selalu beli di SPBU yang jauh, tapi antreannya panjang dan saya capek,” kata Tonia.

.

Artikel Cepat dan Hemat dengan SPBUN Solusi Bagi Nelayan di Pesisir Pantura Jabar  pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.

]]>
https://jahangircircle.org/cepat-dan-hemat-dengan-spbun-solusi-bagi-nelayan-di-pesisir-pantura-jabar/feed/ 0
OJK Angkat Bicara Soal Rencana Prabowo Putihkan Kredit Macet Nelayan, Petani, Hingga UMKM https://jahangircircle.org/ojk-angkat-bicara-soal-rencana-prabowo-putihkan-kredit-macet-nelayan-petani-hingga-umkm/ https://jahangircircle.org/ojk-angkat-bicara-soal-rencana-prabowo-putihkan-kredit-macet-nelayan-petani-hingga-umkm/#respond Mon, 28 Oct 2024 20:45:36 +0000 https://jahangircircle.org/ojk-angkat-bicara-soal-rencana-prabowo-putihkan-kredit-macet-nelayan-petani-hingga-umkm/ REPUBLIKA.CO.ID, BANDA ACEH – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan adanya harmonisasi kondisi perbankan dalam kebijakan pemberian kredit kepada nelayan, petani, dan usaha kecil menengah yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Anggota Dewan Otoritas Jasa Keuangan Dian Ediana Rae mengatakan bank sudah memiliki...

Artikel OJK Angkat Bicara Soal Rencana Prabowo Putihkan Kredit Macet Nelayan, Petani, Hingga UMKM pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.

]]>
REPUBLIKA.CO.ID, BANDA ACEH – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan adanya harmonisasi kondisi perbankan dalam kebijakan pemberian kredit kepada nelayan, petani, dan usaha kecil menengah yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Anggota Dewan Otoritas Jasa Keuangan Dian Ediana Rae mengatakan bank sudah memiliki cadangan yang cukup untuk mengatasi permasalahan tersebut.

“Sebenarnya semua jenis cadangan kerugian kerusakan (CKPN) cukup dan perbankan tidak ada masalah,” ujarnya di Banda Aceh, Kamis (24/10/2024).

Namun menurutnya, ada hal teknis dan operasional yang perlu disepakati. Meski demikian, OJK menegaskan akan mendukung kebijakan yang tepat dari pemerintah. Sekaligus memastikan tidak terjadi moral hazard akibat aturan baru tersebut.

Perpres Penyesuaian Kredit Nelayan, Petani, dan UMKM dikabarkan akan diteken Prabowo pada pekan depan. Hal itu ditunjukkan kakak Prabowo, Hashim Djojohadikusumo, dalam sebuah acara di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin). Dia menjelaskan sejarah keputusan tersebut.

“Utang 20 tahun lalu, utang Chris Mon (krisis finansial), utang 98 tahun 2008 (krisis ekonomi), utang 5-6 juta petani dan nelayan di mana pun,” kata Hashim di Menara Kadin Jakarta pada Jumat. Rabu. (23/10/2024).

Ia mengatakan, situasi seperti ini membuat petani dan nelayan tidak bisa meminjam uang dari bank. “Setiap masuk SLIK (Layanan Informasi Keuangan) di OJK (Otoritas Jasa Keuangan), ditolak,” kata Hashim.

Itu karena hutang. Jelas sekali, tagihan-tagihan ini sedang dihapuskan. Asuransi bank diubah. Sayangnya, hak penagihan bank tidak dicabut. Akibatnya, sekitar 5-6 juta petani dan nelayan kesulitan mengajukan pinjaman untuk menjalankan usahanya. Oleh karena itu, pendekatan lain diambil.

“Mereka (bank) tidak bisa kredit, sekarang mau kemana? Rentenir dan pinjaman online. Saya baru tahu enam bulan lalu saya tidak tahu mau pinjam apa. Itu perusahaan perusahaan. Pemiliknya tidak butuh apa-apa. Pak Hasim berkata, “Ketika saya mendengar hal itu, saya terkejut.

Tokoh yang menjabat Ketua Dewan Kamar Dagang dan Industri Indonesia ini menilai, Prabowo setuju dengan kontribusinya. Aksi nyata dimulai. Berkoordinasi dengan tim perbankan dan hukum.

Mungkin minggu depan Pak Prabowo akan mengesahkan Keputusan Presiden Whitening, kata Hasim yang saat itu sedang berbincang dengan Kadin Indonesia, kata Chairul Tanjung.

RUU keringanan utang jutaan petani dan nelayan sedang dirancang oleh Menteri Hukum Supratman Andi Agtas. Hal ini agar semuanya tidak melanggar hukum. Patuhi hukum.

“Saya berharap minggu depan beliau menandatangani Keppres tentang kulit putih. 5-6 juta masyarakat dan keluarganya bisa hidup baru dan kembali meminjam ke bank. SLIK tidak akan ditutup di OJK,” kata Hashim.

Ia menegaskan, Prabowo berdiskusi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mengambil keputusan tersebut agar tidak berdampak pada ekosistem perbankan di Indonesia. Hashim memperkirakan dampaknya akan luas. Alasannya adalah 5 hingga 6 juta orang memiliki keluarga. Setidaknya 30-40 juta orang akan terkena dampak dari keputusan presiden yang akan ditandatangani presiden tersebut.

 

Artikel OJK Angkat Bicara Soal Rencana Prabowo Putihkan Kredit Macet Nelayan, Petani, Hingga UMKM pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.

]]>
https://jahangircircle.org/ojk-angkat-bicara-soal-rencana-prabowo-putihkan-kredit-macet-nelayan-petani-hingga-umkm/feed/ 0