Artikel RI Jadikan OECD Mitra Strategis Tumbuhkan Ekonomi pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Prinsip pertemuannya adalah menyajikan laporan kemajuan Indonesia, ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, Airlanggak mengatakan Presiden Prabowo dan Sekjen Cormann membahas kemajuan pencapaian ekonomi Indonesia yang dianggap sebagai cara yang baik untuk mencapai tujuan inti Indonesia Emas pada tahun 2025. Selain itu, Airlangga mengatakan keduanya juga membahas proses aksesi Indonesia sebagai anggota penuh OECD bersama 38 negaranya.
Airlangga juga menjelaskan sejumlah prioritas nasional yang menjadi sorotan dalam pertemuan tersebut, seperti peningkatan produktivitas, transformasi digital, serta program-program utama presiden antara lain program ketahanan pangan, ketahanan energi, dan bantuan gizi.
Ia mengatakan OECD dengan senang hati memberikan panduan dan kebijakan berbasis bukti dari negara-negara anggotanya untuk mendukung program-program tersebut.
Airlangga menambahkan, pembicaraan tersebut juga akan mempertimbangkan arah strategis presiden untuk memastikan langkah reformasi sejalan dengan tujuan nasional.
Berdasarkan situs resmi OECD, perekonomian Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif berdasarkan produk domestik bruto (PDB) Indonesia sebesar 5,1% pada tahun 2024 dan 5,2% pada tahun 2025.
Laporan OECD menyoroti perlunya reformasi struktural untuk meningkatkan produktivitas dan manfaat digitalisasi, serta efektivitas sektor pertanian untuk memperkuat ketahanan pangan.
Reformasi bisnis yang ramah lingkungan, seperti pengurangan hambatan investasi dan tata kelola kepemilikan negara, juga penting untuk daya saing ekonomi.
OECD mencatat pemulihan ekonomi Indonesia, dengan inflasi turun dari 6 persen menjadi 1,7 persen pada tahun 2022 dan pengangguran meningkat dari 7,1 persen menjadi 4,9 persen pada tahun 2024. Namun, tantangan seperti kesenjangan gender dalam angkatan kerja, perluasan basis pajak. Mereka hadir untuk mendukung pergeseran lingkungan dan memerangi percepatan dekarbonisasi.
Di sektor digital, infrastruktur seperti 5G dan Internet perlu ditingkatkan untuk mendukung produktivitas, terutama di daerah pedesaan dan usaha kecil.
Artikel RI Jadikan OECD Mitra Strategis Tumbuhkan Ekonomi pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Sekjen OECD Sebut tak Ada Hambatan bagi Indonesia Masuk Keanggotaan pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Tidak ada kendala. Hanya ada proses yang perlu dilalui, kata Corman dalam siaran pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (28/11/2024).
Korman mengatakan Indonesia telah menunjukkan keinginan kuat untuk bergabung dengan OECD. Dewan OECD juga memutuskan untuk membahas aksesi dengan Indonesia.
Korman mengatakan dengan permintaan bergabung, Indonesia telah menunjukkan komitmen untuk menyelaraskan dengan praktik terbaik global dan standar OECD.
Ia yakin hal ini akan terus meningkatkan kinerja perekonomian Indonesia seiring dengan membaiknya kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup.
“Kami sedang mengupayakan prosesnya, bagaimana kami dapat membantu Indonesia melakukan reformasi yang lebih positif ke depan,” ujarnya.
Saat ini, Indonesia merupakan negara aksesi OECD bersama Argentina, Brasil, Bulgaria, Kroasia, Peru, Rumania, dan Thailand.
Indonesia sedang dalam proses melakukan penilaian mandiri terhadap kebijakan, peraturan dan standar nasional terhadap instrumen OECD, yang akan disajikan dalam dokumen memorandum pengantar.
Pada kesempatan sebelumnya, Menko Airlanga menyampaikan bahwa Indonesia saat ini sedang gencar melakukan reformasi di berbagai bidang yang dilakukan oleh beberapa kementerian terkait agar selaras dengan standar OECD.
Jika tidak, seiring dengan berbagai reformasi tersebut, kementerian terkait juga akan melakukan penyesuaian anggaran dan strukturnya, sehingga Task Force OECD juga akan segera melakukan penyesuaian struktural terkait hal tersebut.
Artikel Sekjen OECD Sebut tak Ada Hambatan bagi Indonesia Masuk Keanggotaan pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Indonesia dan Kanada Percepat Kesepakatan Perdagangan pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Kami akan bekerja sama untuk menyelesaikan ICA-CEPA secepatnya. Kami berharap usulan-usulan tersebut dapat diselesaikan dengan cepat dan ditandatangani di kemudian hari,” kata Menko Airlangga melalui keterangan tertulis, Kamis (7/11). /2024).
Selain itu, Airlangga fokus pada beberapa prioritas pemerintah Indonesia, antara lain sektor energi, pangan, dan energi baru terbarukan. “Kami berharap dapat mengembangkan peluang energi baru terbarukan dan bekerja sama dengan Kanada dalam transisi energi negara ini,” kata Airlangga.
Kedua negara juga membahas berbagai bidang kerja sama yang dapat ditingkatkan, seperti kunjungan delegasi bisnis Kanada ke Indonesia pada Desember mendatang. Duta Besar Dutton mengatakan, “Menteri Perdagangan Kanada dan perwakilan lebih dari 200 pengusaha Kanada akan datang untuk mencari peluang kerja sama di berbagai bidang dan memahami aturan bisnis di Indonesia.”
Dalam pertemuan tersebut, Dutton fokus pada proyek energi bersih yang akan dilaksanakan kedua negara melalui kerja sama dalam program Just Energy Transition Partnership (JETP), serta dukungan Indonesia untuk bergabung dengan Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) dan Trans. . – Perjanjian Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP).
Artikel Indonesia dan Kanada Percepat Kesepakatan Perdagangan pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Bisnis Harus Mempertimbangan Aspek Keberlangsungan pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Laporan Keberlanjutan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) tahun 2024 menunjukkan bahwa pelaporan keberlanjutan yang lebih baik dapat mengurangi risiko dan meningkatkan kepercayaan konsumen dengan lebih baik.” kata Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, dalam sambutannya pada acara The Asia Sustainability Report Rating (ASRRAT) 2024, di Jakarta, Kamis (21/11/2024).
Direktur Eksekutif NCCR, Ali Darwin, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tren perlindungan asuransi semakin kuat. Data Klynveld Peat Marwick Goerdeler (KPMG) menunjukkan bahwa 75% perusahaan terbesar di dunia telah melakukan hal tersebut. Munculnya standar internasional seperti International Sustainability Standard Board (ISSB), menurut Ali Darwin, memperkuat tren tersebut, dan membuka jalan menuju masa depan industri berkelanjutan.
“Di Indonesia, kewajiban pelaporan keberlanjutan mendorong perusahaan untuk lebih transparan dan akuntabel terhadap dampak sosial dan lingkungannya,” ujarnya.
Ketua Dewan Juri ASRRAT (2024) Dr. V. Saptarini menambahkan, penilaian independen dilakukan untuk memastikan laporan keberlanjutan yang disajikan telah sesuai dengan standar internasional Global Reporting Initiative (GRI) dan pedoman OJK. Menurutnya, hal itu dilakukan untuk menjaga kualitas dan kredibilitas pemberitaan.
ASRRAT yang terselenggara atas kerja sama NCCR dan Institute of Certified Sustainability Practitioners (ICSP) telah diselenggarakan sejak tahun 2005. Tahun ini merupakan acara yang ke-20, tujuh puluh organisasi hadir, termasuk perusahaan-perusahaan dari sektor swasta dan publik serta lembaga publik serta serta perguruan tinggi. Empat perusahaan asing asal Filipina, Bangladesh, Rusia, dan Australia juga turut serta dalam acara ini.
Pada ASRRAT tahun ini yang mengusung tema “Inovasi Inovatif dan Akuntabilitas untuk Bisnis Berkelanjutan”, PT Kideco Jaya Agung (Kideco), anak perusahaan energi terbarukan PT Indika Energy Tbk, juga meraih penghargaan Emas. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Presiden Konferensi Kehormatan ICSP, Prof. Eko Ganis Sukoharsono kepada Direktur Hukum dan Korporasi Arif Kayanto.
Arif Kayanto mengatakan timnya bertekad untuk terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas laporan keberlanjutan.
“Ini merupakan wujud komitmen penuh dan komitmen terhadap upaya untuk senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas laporan dalam kegiatan usaha kami. Kami berharap penghargaan ini dapat memantapkan prestasi kami sebagai perusahaan yang bertanggung jawab dalam menerapkan praktik manajemen yang baik,” kata Arif Kayanto. .
Artikel Bisnis Harus Mempertimbangan Aspek Keberlangsungan pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Kilas Kunjungan Prabowo ke China, Janji Pererat Bilateral Hingga Bungkus Investasi pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Kuatnya partisipasi bisnis Tiongkok di Asia merupakan faktor terpenting dalam eratnya kerja sama kedua negara. Saya sudah bertemu dengan presiden dan perdana menteri di mana kami akan melanjutkan kerja sama ini,” kata Prabowo pada Indonesia-China 2024. Forum Bisnis di Beijing, China, Minggu (10/11/2024).
Acara yang diprakarsai oleh Komite Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Tiongkok (KIKT) ini dihadiri oleh 20 perusahaan asal Indonesia dan Tiongkok. Komitmen koperasi senilai total 10,07 miliar dolar ini mencakup bidang manufaktur maju, energi terbarukan, kesehatan, sanitasi, keamanan, dan ekonomi pangan.
“Ini bagian dari sinergi di segala bidang, pendidikan, dunia usaha, energi, kerja sama antar masyarakat dan kami optimistis,” kata Prabowo.
Presiden sepakat bahwa kerja sama yang erat antara Indonesia dan Tiongkok akan menjadi faktor stabilisasi dan memperluas kerja sama regional.
Saya punya contoh, di era kolaborasi sekarang ini, non-konversi adalah jalan menuju perdamaian. Kita selalu bersikap acuh tak acuh, kita selalu menghormati semua kekuatan besar di dunia, tambah Prabowo.
Presiden juga mengatakan bahwa dalam hidupnya ia telah belajar banyak dari ajaran para filsuf Tiongkok kuno.
“Salah satu pemimpin saya berani, saya punya seribu teman, satu musuh sangat banyak,” ujarnya dalam bahasa Inggris, disusul dengan bahasa Mandarin dan tepuk tangan hadirin.
Prabowo juga mengatakan Indonesia mendapat lebih banyak investasi dari China.
“Dan kita bekerja keras untuk menciptakan suasana yang baik, fasilitas yang baik dan menyambut saudara-saudara kita di Tiongkok,” kata Presiden.
Selain itu, Prabowo juga meyakini banyak pemimpin Tiongkok yang memiliki kekuatan dalam darahnya.
“Para pemimpin dunia, menurut saya, banyak dari kita yang memiliki banyak DNA Tiongkok, mungkin termasuk saya, kita bekerja sama untuk maju. Kita dapat berkolaborasi hanya melalui kerja sama, hanya melalui kerja sama kita dapat saling memahami, hanya melalui pemahaman. damai. Kita bekerja keras untuk membantu. Mari kita akur,” kata Prabowo.
Artikel Kilas Kunjungan Prabowo ke China, Janji Pererat Bilateral Hingga Bungkus Investasi pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel OJK dan OECD Kolaborasi Bangun Inisiatif Edukasi Keuangan Global pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Dengan semakin kompleksnya produk keuangan, penting bagi kami untuk membekali nasabah dengan pengetahuan, keterampilan, dan alat untuk mengambil keputusan keuangan yang tepat,” kata Wakil Presiden Dewan Penasihat OJK Mirza Adityaswara di Jakarta, Sabtu (9 /) . 11/2024).
Kesepakatan tersebut dicapai pada KTT dan konferensi OECD/INFE yang diselenggarakan pada 6-8 November di Nusa Dua, Bali. OJK menyelenggarakan pertemuan dan acara yang dihadiri oleh kelompok OECD yang terdiri dari 1.000 peserta dari 30 negara yang berpartisipasi secara online dan offline.
Mirza mengatakan pemberdayaan konsumen melalui edukasi keuangan penting dilakukan di tingkat global, terutama di era digital dan semakin kompleksnya produk dan layanan keuangan.
Sementara itu, Kepala Perlindungan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi berharap kerja sama dan kolaborasi antara OJK dan OECD/INFE sedang dalam proses membangun hubungan yang lebih kuat dan lebih baik. masyarakat inklusif. dan konsumen untuk mendapatkan kekuatan finansial untuk menghadapi berbagai tantangan perekonomian.
“OJK telah memperoleh banyak manfaat sejak bergabung dengan OECD/INFE. Melalui forum ini, anggota OECD/INFE dapat berbagi informasi, pengalaman dan tantangan terkait upaya peningkatan kompetensi dan perlindungan konsumen. “Untuk dapat membuat program dan kebijakan baru berdasarkan kebutuhan,” kata Friderica.
OJK terus melakukan berbagai kegiatan edukasi keuangan untuk meningkatkan literasi dan perlindungan konsumen. Sejak 1 Januari hingga 28 Oktober 2024, OJK telah melaksanakan 4.393 kegiatan edukasi keuangan yang melibatkan 5.795.083 peserta di seluruh Indonesia.
Saat itu, Wakil Sekretaris Jenderal OECD Yoshiki Takeuchi mengatakan bahwa dengan pemahaman yang lebih baik tentang keuangan berkelanjutan, masyarakat dapat membuat keputusan keuangan yang terinformasi dan bertanggung jawab sehingga jumlah pinjaman dan penguatan keberlanjutan keuangan bermanfaat bagi lingkungan. lingkungan dan masa depan ekonomi.
Ketua OECD/INFE Magda Bianco mengatakan OECD/INFE berkomitmen untuk terus menciptakan dan mengembangkan strategi efektif untuk meningkatkan literasi dan perlindungan konsumen di sektor keuangan. Peningkatan literasi keuangan dilakukan dengan membuat pedoman yang tepat dan disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan masyarakat.
Magda mengatakan literasi keuangan berpotensi meningkatkan partisipasi masyarakat dan tingkat kepercayaan untuk lebih terlibat di sektor keuangan dan mengambil keputusan keuangan yang baik.
“Melek finansial membuat masyarakat lebih kuat secara finansial untuk menghadapi situasi masa depan yang tidak pasti. Juga memungkinkan masyarakat memilih produk atau layanan berdasarkan strategi investasi dan tujuannya,” ujarnya.
Artikel OJK dan OECD Kolaborasi Bangun Inisiatif Edukasi Keuangan Global pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Indonesia Minat Gabung BRICS, Ini Catatan dari Celios pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Sugiono mengirimkan surat ketertarikan untuk bergabung dalam aliansi yang terdiri dari lima negara besar, Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS). Saat ini Indonesia telah resmi mendaftar keanggotaannya. Ketertarikan ini tidak pernah diungkapkan secara eksplisit pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo karena beberapa alasan. Mulai dari kurang urgensinya, perbedaan sistem politik, ketidakstabilan hubungan antar negara anggota BRICS hingga upaya menyeimbangkan hubungan Indonesia dengan negara-negara Barat.
Namun tidak dapat dipungkiri bahwa dinamika politik kepemimpinan baru ini menempatkan Indonesia pada posisi yang kurang strategis jika ingin bergabung dengan aliansi BRICS. Menurut Direktur Eksekutif Center of Economic and Legal Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, terdaftarnya resmi Indonesia di BRICS semakin mempertegas ketergantungan negara ini terhadap Tiongkok.
Padahal, tanpa BRICS, dalam hal investasi dan perdagangan Indonesia, pangsa Tiongkok akan sangat besar. Impor Indonesia dari Tiongkok melonjak 112,6 persen dalam sembilan tahun terakhir, dari 29,2 miliar dolar AS pada tahun 2015 menjadi 62,1 miliar dolar AS pada tahun 2015. 2015. 2023. “Sedangkan investasi dari China melonjak 11 kali lipat pada periode yang sama. Indonesia juga tercatat sebagai penerima pinjaman Belt and Road Initiative terbesar dibandingkan negara lain pada tahun 2023,” kata Bhima, ditulis dalam keterangan resmi CELIOS, Sabtu (26/10/2024).
Selain kekhawatiran akan duplikasi kerja sama bilateral dengan Tiongkok, proyek-proyek yang didanai oleh pemerintah Tiongkok dan sektor swasta di Indonesia telah menimbulkan berbagai permasalahan. Terutama yang berkaitan dengan lingkungan dan pekerjaan. Ini masih pekerjaan rumah yang belum selesai.
Kecelakaan kerja yang berulang kali terjadi di IMIP menunjukkan bahwa standarisasi dan pengawasan Tiongkok terhadap proyek investasi masih lemah. Meski Indonesia ingin meningkatkan kualitas nilai tambah barang, namun hal ini harus dibarengi dengan investasi yang lebih berkualitas. Diversifikasi sumber investasi yang dapat membantu Indonesia naik kelas menjadi strategi utama.
“Ketergantungan pada Tiongkok juga membuat perekonomian semakin rapuh. Di saat perekonomian Tiongkok diproyeksikan menyusut sebesar 3,4 persen dalam empat tahun ke depan berdasarkan World Economic Outlook IMF, terdapat kekhawatiran bahwa aksesi Indonesia ke BRICS justru akan melemah. Kinerja perekonomian Kondisi ini idealnya dijawab dengan memperkuat diversifikasi “negara mitra di luar BRICS,” kata Bhima.
Direktur Kantor China-Indonesia CELIOS Muhammad Zulfikar Rakhmat mengatakan sejauh ini belum ada urgensi bagi Indonesia untuk bergabung dengan kelompok ekonomi BRICS. Sebab, kehadiran China dalam kelompok tersebut dikhawatirkan akan mempengaruhi independensi Indonesia dalam menyikapi berbagai isu krusial. “Salah satunya menanggapi manuver Tiongkok di kawasan Laut Cina Selatan,” kata Zulfikar.
Selain itu, peneliti CELIOS Yeta Purnama menambahkan, baru-baru ini, saat Indonesia merayakan pelantikan presiden, sebuah kapal Tiongkok membuat heboh memasuki wilayah hukum di Natuna Utara. Tidak ada tanggapan segera dari Presiden
Indonesia mengenai hal ini.
“Ini bukti bahwa pemerintah ragu-ragu dengan keinginannya untuk bergabung dengan BRICS,” kata Yeta.
Di sisi lain, negara anggota BRICS seperti Tiongkok dan India mengalami konfrontasi yang intens di tiga wilayah perbatasan kedua negara. Ini termasuk, Himachal Pradesh, Uttarakhand, dan Arunachal Pradesh. Menurut Zulfikar, konflik ini berpotensi mengganggu stabilitas hubungan Tiongkok dan India, sekaligus berdampak pada kemitraan dalam aliansi BRICS.
Keputusan Indonesia bergabung dengan BRICS juga berpotensi mempengaruhi masuknya Indonesia ke dalam OECD (Organization for Economic Cooperation and Development). Peluang Indonesia untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan melalui kemitraan dengan kelompok ini akan semakin kecil.
Menurut Yeta, dibandingkan BRICS, urgensi Indonesia untuk bergabung dengan OECD jauh lebih tinggi. Hal ini sejalan dengan upaya Indonesia untuk menjadi negara maju. Kelompok OECD memiliki keanggotaan yang lebih besar sehingga dianggap lebih penting karena Indonesia perlu mendiversifikasi mitranya ke lebih luas selain Tiongkok.
“Energi dan fokus pemerintahan baru, jika harus bergabung dengan banyak kolaborasi multilateral, akan sangat mahal, termasuk biaya keanggotaan. Jauh lebih efisien jika fokus pada kemitraan yang sudah ada.”
Artikel Indonesia Minat Gabung BRICS, Ini Catatan dari Celios pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>