Artikel Info Kesehatan Banyak Beredar di Medsos, Orang Tua Diimbau Jangan Telan ‘Mentah-Mentah’ pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Banyak rumor kesehatan dan informasi yang salah beredar, membuat para orang tua bingung bagaimana menentukan solusi terbaik untuk kesehatan anak mereka. Pendiri komunitas Parenttalk Nucha Bachri mengatakan, orang tua perlu kritis dalam menyaring informasi terkait kesehatan agar bisa membedakan mana yang salah dan mana yang fakta menurut para ahli.
“Penting sekali bagi kita sebagai orang tua untuk berpikir kritis, apa yang dikatakan oleh tokoh masyarakat atau bahkan mungkin ahli, ini yang harus kita pikirkan, keahliannya bagian apa, siapa dia, apakah benar, karena misalnya, kalau ada artikel atau koran harus dicek dulu,” kata Nucha pada diskusi Pencegahan Pneumonia Al Ora Indonesia 2045 di Jakarta, Senin (18/11/2024).
Nucha mengatakan, membanjirnya informasi di internet dan media sosial serta semakin banyaknya pakar atau dokter yang memiliki akun untuk mempromosikan pendidikan terkadang membuat orang tua bingung memilih jalan yang tepat untuk diikuti. Selain itu, pesan yang beredar melalui aplikasi pesan instan atau grup keluarga juga dapat membuat orang tua kebingungan dalam menyaring informasi. Faktanya, kehadiran jejaring sosial dan keberadaan komunitas parenting berperan dalam pengambilan keputusan, terutama terkait kesehatan, bagi orang tua yang terutama mengakses internet, seperti generasi milenial dan generasi Z.
“Ini salah satu media massa yang paling mempengaruhi keputusan keluarga mengenai pemilihan vaksin, dll. Jadi ada pengaruh dari teman dan juga dari masyarakat yang saling mengingatkan, misalnya ada informasi baru tentang vaksin atau , misalnya ada ilmu kesehatan,” ujarnya.
Media sosial, kata Nucha, juga dapat menjadi jembatan atau perantara antara pakar dan masyarakat untuk menjelaskan dengan bahasa yang lebih mudah sehingga informasi kesehatan lebih mudah dipahami. Orang tua harus memiliki filter sendiri untuk semua informasi yang mereka terima karena tidak semua informasi benar-benar tervalidasi. Apalagi bagi generasi tua yang belum banyak mengetahui tentang media sosial.
“Kita yang masih muda, yang harus lebih khawatir untuk bisa menyaring apakah semua informasi itu benar atau tidak, biasanya saya selalu bertanya ke dokter spesialis lain, psikolog atau dokter,” ujarnya. Lebih lanjut ia mengatakan, dengan menyaring derasnya informasi di jejaring sosial dan internet, orang tua dapat mengurangi rasa panik dan mengobati penyakit anaknya dengan tepat dan benar.
Artikel Info Kesehatan Banyak Beredar di Medsos, Orang Tua Diimbau Jangan Telan ‘Mentah-Mentah’ pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Anak Mengeluh Tentang Sekolah, Bagaimana Sikap Terbaik Orang Tua? pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Yang terbaik adalah ketika orang tua mendengar keluhan anak di sekolah, mereka harus mengetahui kebenarannya. Dan karena ini adalah komunitas sekolah, maka mereka harus bertanya kepada orang-orang di sekolah komunitas sebagai teman, guru, dan sebagainya,” kata Prof. . Rose Mini saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (31 Oktober 2024).
Ia mengatakan, terkadang anak membesar-besarkan atau bahkan menyembunyikan sesuatu saat menceritakan pengalamannya. Hal ini biasanya terjadi karena anak takut dimarahi atau takut dimarahi orang tuanya.
“Karena anak kadang takut ngomong jujur ke orang tuanya, karena takut ditegur, ngomongnya terlalu keras, kadang kurang. “Jelas orang tua tidak boleh langsung marah atau marah,” kata Profesor Rose Mini.
Rose Mini juga menghimbau kepada para orang tua, khususnya yang mempunyai kedudukan istimewa di masyarakat, untuk menanamkan nilai-nilai moral yang baik kepada anak-anaknya sejak dini. Nilai moral yang utama untuk dipelajari antara lain belajar berempati terhadap orang lain, mengendalikan diri, bersikap adil, bertoleransi dan menghargai diri sendiri dan orang lain.
Menurutnya, dengan mengajarkan nilai-nilai moral tersebut, anak akan tumbuh menjadi orang yang bertanggung jawab dan tidak mementingkan diri sendiri. Anak juga tidak menjadi pribadi yang sombong, meski terlahir dari orang tua yang bekerja.
“Dalam membesarkan anak, orang tua tidak boleh memberikan jabatan atau apapun kepada anaknya yang disandang oleh orang tuanya. Karena yang mempunyai jabatan adalah orang tuanya. Oleh karena itu orang tua harus belajar mendidik anaknya sopan santun agar tumbuh menjadi anak. yang tidak sombong dan tahu mana yang benar dan salah,” kata Rose Mini.
Artikel Anak Mengeluh Tentang Sekolah, Bagaimana Sikap Terbaik Orang Tua? pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel JAHANGIR CIRCLE Psikolog Beberkan 3 Pemicu Kasus Pemerkosaan yang Libatkan Anak Meningkat pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Tari Sandjojo M.PSI, Psikolog Anak dan Keluarga sekaligus Kepala Sekolah Sekolah Sabit mengatakan, dari segi psikologis ada tiga pemicu utama yang menyebabkan hal tersebut terjadi dan semakin parah, antara lain sebagai berikut:
1. Kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak pada masa remaja
Dalam mengasuh remaja, Tari menekankan pentingnya kehadiran dan keterikatan keluarga serta keterbukaan orang tua untuk melakukan percakapan terbuka dengan anak tentang seksualitas. Namun sayangnya, saat ini banyak orang tua yang menganggap bahwa pola asuh remaja tidak sepenting tahap perkembangan sebelumnya.
“Keterikatan dengan keluarga merupakan faktor yang penting sejak awal, namun sayangnya yang terjadi saat ini adalah para orang tua merasa bahwa mengasuh anak remaja tidak sepenting mengasuh anak di usia yang lebih dini”. Demikian keterangan tertulis yang diperoleh Republika.co.id, Senin (7/10/2024).
Ia mengatakan, salah satu bentuk kurangnya kehadiran dan keterbukaan peran orang tua adalah perasaan hanya perlu mendoakan anak dan menunda diskusi penting terkait seksualitas. (karena adanya persepsi bahwa masa tumbuh kembang remaja tidak sepenting dulu) Orang tua merasa seperti “Anakmu sudah besar, doakan saja dia” atau “Baiklah, dia harusnya bersama kita sekarang.” , rasa ingin tahu anak tentang seksualitas, berbagai percakapan yang melatih mereka mengambil keputusan, atau diskusi yang menumbuhkan empati,” jelas Tari. Tidak bisa disiarkan.
2. Gadget dan informasi yang tidak terbatas menjadi cara remaja menemukan jawaban
Dengan sikap orang tua yang demikian, Tari mengatakan, dari sini remaja didorong untuk mencoba mencari tahu apa yang ingin mereka ketahui melalui teknologi dan berinteraksi dengan orang asing. “Dalam situasi saat ini dimana teknologi menjadi nafas setiap orang, tentunya remaja mencari bimbingan melalui gadget yang ada di tangannya. Ini namanya keinginan untuk mengetahui, eksplorasi suatu tempat, bukan sekedar mencari informasi tentang seksualitas dan tentunya tidak ada di rumah, jadi dia mencari percakapan lain lewat gawai dengan orang asing atau orang lain,” ucapnya.
Ia mengatakan, kondisi yang muncul dalam kasus pelanggaran terhadap anak di bawah umur adalah bukti terpaparnya informasi seksualitas dari sumber yang tidak pantas dan tidak adanya keluarga yang seharusnya menjadi tempat perbincangan pertama di rumah.
3. Empati yang mati mendorong kekerasan
Selain dua faktor di atas, Tari juga mengatakan, status ekonomi juga erat kaitannya dengan kondisi psikologis keluarga. Artinya kerasnya hidup berdampak pada kemampuan regulasi dan rasa empati anak.
“Situasi di atas (yang sudah saya uraikan) bisa menjadi faktor yang lebih besar lagi bagi keluarga dengan status sosial ekonomi rendah. Bagi sebagian keluarga dengan status sosial ekonomi rendah, kesulitan hidup dapat mengeraskan dan melumpuhkan empati lintas tingkat sosial-ekonomi sulit untuk marah dan menghancurkan orang lain melalui kekerasan. “, katanya.
Tari mengatakan, pada akhirnya tidak mudah untuk mengetahui pemicu mana yang bisa diperbaiki. Dalam situasi apa pun, semua pihak harus mengambil tindakan untuk mencegah perbaikan hubungan dan keterikatan pada anak yang sedang tumbuh.
“Jadi pada akhirnya tidak mudah untuk menjawab siapa yang harus disembuhkan terlebih dahulu. Jika kita mengutamakan pencegahan, seperti yang selalu kita dengar, hal itu akan mengarah pada hubungan yang lebih baik dengan remaja. “Lebih sering ngobrol” (Ngobrol, jangan ngobrol, jangan bicara). , kalau ngobrol ada faktor mendengarkannya) dan lebih banyak melakukan observasi untuk melihat perubahan perilaku atau emosi atau indikator lainnya,” ujarnya.
Artikel JAHANGIR CIRCLE Psikolog Beberkan 3 Pemicu Kasus Pemerkosaan yang Libatkan Anak Meningkat pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel CIRCLE NEWS Kalimat yang Sebaiknya tak Diucapkan Nenek dan Kakek kepada Cucu pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Namun, terkadang niat baik kakek dan nenek tersebut disampaikan dengan kata-kata yang bisa membuat cucu merasa risih atau minder. Psikolog anak Ann-Louise Lockhart mengatakan kesalahan dalam memilih nama juga bisa berdampak pada hubungan kakek-nenek dan cucunya.
“Mungkin sulit mengubah cara Anda berbicara, namun penting untuk berhati-hati saat memilih kata-kata Anda,” kata Lockhart, seperti dilansir Huffington Post, Minggu (28/4/2024).
Psikolog Andrea Dorn mengatakan kakek-nenek tidak boleh terlalu menyalahkan diri sendiri jika pernah mengucapkan kata-kata beracun kepada cucunya di masa lalu. Namun, Dorn menyarankan agar kakek dan nenek bisa memperbaiki cara mereka berkomunikasi dengan cucunya di masa depan. Menurut Lockhart, Dorn dan sejumlah terapis lainnya, ada enam kata-kata beracun yang tidak boleh diucapkan kakek-nenek kepada cucu-cucu mereka.
Di bawah ini ada enam kata.
1. Jangan beritahu ibu dan ayah
Kakek-nenek mungkin ingin memenangkan hati cucu-cucu mereka dengan memberi mereka sesuatu atau membiarkan mereka melakukan apa yang diperintahkan orang tua mereka. Misalnya memberi coklat atau membiarkan cucu begadang.
Jika mereka melakukannya, kakek-nenek bisa berkata “jangan beritahu ibu dan ayah”. Psikolog Zainab Delawalla mengatakan, tindakan yang mendorong cucu menyembunyikan sesuatu dari orang tuanya bisa berdampak negatif dalam jangka panjang. Dalam kasus ekstrim misalnya, perkataan seperti ini bisa membuat anak rentan menjadi korban koreksi diri dan menyembunyikan perilaku buruk orang tuanya.
“Kakek dan nenek bisa mencari cara lain untuk menjinakkan cucunya tanpa melampaui batasan yang ditetapkan orang tuanya,” jelas Delawalla.
2. Anda semakin besar! Apakah kamu gemuk?
Lockhart mengingatkan kakek-nenek untuk tidak berkomentar tentang tubuh atau berat badan cucunya. Pasalnya, komentar mengenai badan dan berat badan dapat membuat anak merasa tidak percaya diri dan berdampak buruk pada tubuh anak.
Komentar-komentar tersebut tidak hanya sebatas komentar negatif, tetapi juga komentar-komentar yang terkesan positif seperti “Kamu lebih tinggi dari kakakmu”. Daripada mengomentari tubuh cucunya, kakek dan nenek bisa membuka ikatan dengan kata lain. Misalnya saja mengungkapkan kerinduan pada cucu setelah lama tidak bertemu atau menanyakan aktivitas dan hobinya saat ini kepada cucu.
3. Oh, dia makan lebih banyak dari kita
Kakek-nenek seharusnya senang ketika cucu-cucunya makan enak. Tak jarang mereka mengungkapkan kekagumannya tersebut dengan melontarkan komentar seperti “kamu makannya cepat”, “kamu tukang cuci piring” atau “kamu makan banyak”.
Komentar tentang kebiasaan makan dapat mempengaruhi cara makan seorang anak di kemudian hari, menurut Dorn. Anak dapat mengabaikan sinyal tubuh akan rasa lapar dan lebih memperhatikan pikiran orang lain tentang dirinya saat ia makan. Anak mungkin merasa malu atau bingung ketika tiba waktunya makan.
4. Anda sangat dimanjakan
Ada kalanya cucu menunjukkan perilaku yang tidak menyenangkan, seperti bertengkar ketika keinginannya tidak tercapai. Sekalipun merasa marah, kakek dan nenek tidak boleh mengucapkan kata-kata seperti “kamu sangat terhina”.
Psikolog klinis, Ryan Howes, mengatakan bahwa perilaku buruk atau tidak berterima kasih yang ditunjukkan anak bukanlah kesalahan anak. Seorang anak mungkin berperilaku seperti ini karena dia meniru orang-orang di sekitarnya.
“Oleh karena itu, menyalahkan mereka atas segalanya adalah salah. “Diam saja atau bicaralah dengan orang tuamu,” kata Howes.
5. Peluk atau cium kami
Sudah menjadi hal yang lumrah jika kakek-nenek senang menunjukkan rasa cintanya dengan memeluk dan mencium cucunya. Namun, kakek dan nenek buyut perlu memahami bahwa tidak semua anak merasa nyaman untuk meminta dan menuntut. Saat kakek-nenek menyuruh cucunya buang air kecil atau kecil, anak mungkin merasa kehilangan otonomi terhadap tubuhnya.
Jadi, daripada meminta pelukan atau ciuman kepada cucu, kakek dan nenek bisa mengajukan pertanyaan seperti “Kita mau berpelukan, bolehkah?”.
Jika cucu menjawab “tidak”, kakek dan nenek tidak perlu memaksanya. Kakek dan nenek bisa mengungkapkan rasa sayang mereka dengan cara lain yang membuat mereka merasa lebih nyaman, seperti pukulan atau pukulan.
6. Ayah dan ibumu salah dalam hal ini
Orang tua seringkali memiliki cara yang berbeda dalam membesarkan anak dibandingkan kakek dan nenek. Dalam kasus seperti ini, kakek dan nenek tidak boleh memaksakan pandangannya dan membuat orang tua terlihat salah. Ingatlah bahwa kakek dan nenek tumbuh pada waktu yang berbeda dengan cucunya.
Artikel CIRCLE NEWS Kalimat yang Sebaiknya tak Diucapkan Nenek dan Kakek kepada Cucu pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel JAHANGIR NEWS Orang Tua tak Perlu Banyak Kritisi Anak Ketika Eksplorasi Dunia Seni pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Ketika orang tua mendampingi anaknya berkreasi, kita harus memperhatikannya, tapi jangan mencela, jadi kalau kita lihat anak mulai kreatif, dukung saja,” kata Reti saat ditemui Toyota Dream Car ke-17 di media. Upacara Penghargaan Lomba Seni Rupa (TDCAC) di Traffic Park, Bandung, Jawa Barat, Kamis (2/5/2024).
Psikolog jebolan Universitas Indonesia ini mengatakan, orang tua seringkali mengharapkan keterampilan anaknya baik dan sering mengkritik pekerjaan anaknya. Bagi anak-anak di bawah usia 14 tahun, Retty mengatakan orang tua hendaknya memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeksplorasi berbagai bidang, baik seni maupun bidang lainnya.
Anak-anak bisa mencari inspirasi dimana saja, mulai dari apa yang terjadi di sekitarnya hingga media digital sebagai sumber referensinya. Seni juga bisa menjadi terapi bagi anak-anak yang belum yakin bagaimana mengekspresikan diri secara verbal, sehingga bisa terhindar dari masalah kesehatan mental di masa dewasa.
“Seni memiliki unsur penyembuhan, sehingga ada perasaan emosional yang tidak bisa kita ungkapkan melalui karya, seni, atau tulisan. “Ciptaan setidaknya menenangkan kita dan menyampaikan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” ujarnya. .
Reti berpesan kepada para orang tua untuk menurunkan harapan agar karya anaknya bagus jika mencoba mengikuti lomba seni dan tidak ingin anaknya menang. Dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengubah kecerdasannya sesuai dengan usianya, orang tua dapat mengetahui bakat anak dan meningkatkan semangatnya untuk berusaha bersaing.
Artikel JAHANGIR NEWS Orang Tua tak Perlu Banyak Kritisi Anak Ketika Eksplorasi Dunia Seni pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel CIRCLE NEWS Mau Anak Jadi Mandiri? 3 Cara Ini Bisa Dicoba Orang Tua pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Dwi Ayun Pratibha, guru Sekolah Sickal Bandung, mengatakan orang tua merupakan sosok kunci dalam mewujudkan kemandirian anak di rumah. Dalam hal ini, orang tua harus bekerja sama untuk mengatasi berbagai tantangan dalam proses penghormatan terhadap kebebasan anak.
Jika orang tua kesulitan menjaga kemandirian anaknya, Anda bisa mencoba tips berikut ini:
1. Mulailah dengan tugas-tugas sederhana secara konsisten
Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah dengan konsisten mempelajari tugas-tugas sederhana. Misalnya, ajari anak usia 3 hingga 4 tahun menata mainan, ajarkan anak makan perlahan, dan ajarkan anak memakai sepatu sendiri.
Ia mengatakan akan selalu ada tantangan bagi orang dewasa. Dalam hal ini, orang dewasa di sekitar kita ibarat kakek dan nenek dari anak tersebut. “Bagian demi bagian, belajarlah dulu dari hal-hal sederhana. Dalam mendidik anak agar selalu mandiri, orang tua bisa bekerja sama dengan orang dewasa lainnya, misalnya nenek dan wali,” kata guru yang akrab disapa Ayun itu kepada Republika.co.id, Selasa (14). ) /5/2024) demikian keterangan tertulis yang diterima.
2. Memahami proses belajar mandiri anak
Langkah kedua dalam menghadapi tantangan atau kesulitan dalam menghargai kemandirian anak adalah dengan menyadari dan memahami bahwa setiap anak memerlukan waktu dan tahapan yang berbeda-beda untuk belajar menjadi pribadi yang mandiri. “Orang tua perlu menyadari bahwa setiap anak membutuhkan waktu yang berbeda-beda untuk belajar mandiri dan mengemukakan pendapat,” ujarnya.
3. Menghargai segala kemajuan dan melakukan refleksi bersama
Langkah ketiga yang bisa dilakukan adalah mengapresiasi setiap kemajuan dan pengembangan diri yang dilakukan anak. “Orang tua hendaknya mengapresiasi setiap kemajuan anaknya, tidak hanya itu, orang tua juga bisa melakukan refleksi terhadap kegiatan yang telah dilakukan bersama anaknya,” ujarnya.
Contoh pujian bisa berupa ungkapan terima kasih dan penghargaan yang sederhana, seperti: “Wah terima kasih nak, sudah cocokkan mainannya, hebat sekali kamu!” atau “Wah, rapi banget ya kakak, beresin mainanmu ya bu, aku bangga.”
Melalui pujian dan renungan bersama orang tua dan anak, lambat laun rasa percaya diri anak tumbuh dalam dirinya. “Seiring berjalannya waktu, rasa percaya diri ini akan menjadi semangat bagi anak-anak untuk terus melanjutkan,” kata Ayun.
Artikel CIRCLE NEWS Mau Anak Jadi Mandiri? 3 Cara Ini Bisa Dicoba Orang Tua pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel JAHANGIR CIRCLE Hal yang Ingin Didengar Orang Tua dari Anak yang Sudah Dewasa pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Komunikasi yang terbuka, saling pengertian dan menghormati sangat diperlukan untuk menjaga hubungan tetap baik. Jika tidak, konflik dan batasan bisa muncul, begitu pula kurangnya komunikasi dan luka masa lalu yang belum terselesaikan.
Dari pihak orang tua, menurut terapis, ternyata banyak hal yang sangat ingin didengar orang tua dari anaknya yang sudah dewasa. Berikut kata-kata yang akan sangat berarti bagi orang tua jika diceritakan oleh anak, seperti dikutip Huffington Post, Kamis (16/5/2024).
1. Menanyakan berita dan kegiatan
Lewatlah sudah hari-hari ketika orang tua dan anak-anak selalu bersama, seperti ketika anak-anak masih kecil. Dengan tidak adanya pertemuan, para orang tua sangat berharap anak-anaknya yang sudah dewasa tetap tertarik dengan apa yang terjadi dalam hidupnya.
“Mereka ingin berbagi minat dan persahabatan baru dengan anak-anaknya. Ketika anak-anak yang sudah dewasa bertanya tentang berita dan hobi orang tuanya, itu berarti mengenali kepribadian dan identitas orang tua di luar peran mereka sebagai orang tua,” kata Sarah Epstein, seorang pernikahan dan terapis keluarga. Dallas. .
2. Mintalah nasihat
Meski anak sudah beranjak dewasa dan mempunyai kendali penuh atas kehidupannya, orang tua tetap berharap bisa berkontribusi dalam kehidupan anaknya. Sehingga ketika anak yang sudah dewasa meminta nasihat, orang tua merasa penting dan terlibat dalam kehidupan anak.
“Bagi anak-anak yang memiliki hubungan yang sehat dengan orang tuanya, meminta pendapat mereka memiliki manfaat ganda, yaitu menerima nasihat yang masuk akal dan membuat orang tua merasa dicintai dan dihargai,” kata Epstein.
3. Ucapkan terima kasih
Membesarkan anak dengan baik memerlukan usaha yang terus-menerus dan tidak mudah. Ketika anak-anak yang sudah dewasa mengakui usaha orang tuanya, orang tua merasa sangat senang dan dihargai.
Lara Morales Daitter, terapis keluarga di The Connective, menyarankan anak untuk mengungkapkan rasa syukur dan menerima segala kondisi. “Ini lebih dari sekedar rasa terima kasih atas dukungan materi atau pendidikan, tapi juga menyentuh ikatan eksistensial antara orang tua dan anak,” kata Daitter.
4. Menyadari betapa besarnya peran bimbingan orang tua
Menyampaikan kepada orang tua bahwa bimbingannya berperan penting dalam membantu anak menemukan jalannya akan membuat orang tua merasa sangat bahagia dan puas. “Melihat anak-anak berhasil menavigasi naik turunnya kehidupan akan memberi orang tua perasaan akan tujuan dan validasi bahwa nilai-nilai yang diajarkan kepada mereka sejak masa kanak-kanak berhasil,” kata Daitter.
5. Mereka bilang mereka bahagia dengan hidup
Melihat anak bahagia dan puas dengan kehidupannya merupakan harapan semua orang tua. Daitter mengatakan jika seorang anak yang “meninggalkan sarangnya” mampu menciptakan kehidupannya sendiri dan mengungkapkan kepuasan terhadap hidupnya, orang tuanya akan bangga karenanya.
“Hal ini memberikan rasa sukacita dan pengakuan yang mendalam kepada orang tua karena mengetahui bahwa dukungan dan pengorbanan mereka telah berkontribusi terhadap kesejahteraan dan kebahagiaan anak mereka,” kata Daitter.
Artikel JAHANGIR CIRCLE Hal yang Ingin Didengar Orang Tua dari Anak yang Sudah Dewasa pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel JAHANGIR CIRCLE Kapan Waktu Tepat Ajarkan Anak Mandiri? pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Guru Sekolah Cikal Bandung Dwi Ayun Pratiwi atau akrab disapa Ayun mengatakan, mengembangkan kemampuan mandiri itu penting. Kemampuan tersebut berguna untuk menghadapi segala tantangan masa kini, agar anak terbiasa tumbuh dan bergerak, sehingga mempunyai kekuatan untuk menyelesaikan sendiri berbagai persoalan dalam perjalanan pengembangan diri.
Menurut Ayun, sangat penting untuk mengembangkan kompetisi mandiri pada anak sedini mungkin, karena erat kaitannya dengan pengembangan rasa tanggung jawab, kemampuan mengendalikan emosi, dan berinteraksi dengan orang lain. Kemandirian dinilai penting bagi tumbuh kembang anak. Melalui pembelajaran mandiri, anak akan dikenalkan dengan tanggung jawab, cara mengambil keputusan, memproses emosi, serta berinteraksi dengan dan dengan orang lain.
“Ketika anak terbiasa diberi ruang untuk menjadi individu yang mandiri, lama kelamaan akan muncul rasa percaya diri bahwa ia mampu menunaikan tugas dan tanggung jawabnya,” kata guru kelas 1 SD Cikal Bandung itu dalam keterangan tertulis yang diterima. dari Republika.co.id, beberapa waktu lalu.
Dikatakannya, membina kemandirian anak sejak dini bukan berarti anak sejak kecil dituntut untuk melakukan segala sesuatunya sendiri, melainkan mengembangkan kemampuan tersebut secara perlahan pada setiap tahap pertumbuhan dan perkembangannya. “Boleh saja kita mulai mengajarkan kemandirian pada anak sejak usia muda, namun yang harus kita ingat adalah kemandirian yang kita ajarkan harus sesuai dengan usianya,” kata Ayun.
Ia mencontohkan, saat anak menginjak usia empat tahun, berikan kepercayaan diri pada anak untuk memilih pakaian apa yang akan dikenakan. Pada usia lima tahun, latih anak Anda untuk belajar memakai sepatu sendiri.
Sebagai seorang pendidik, Ayun berpendapat bahwa dalam proses pengembangan diri pada 5 tahun pertama, anak cenderung memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar dan mengamati lingkungannya. Keyakinan yang disampaikannya tentunya juga berdasarkan hasil penelitian Patricia Gaminde, psikolog dan psikoterapis, Pentingnya Anak Kita Menjadi Mandiri.
Majalah Pentingnya Anak Kita Menjadi Kemandirian karya Patricia Gaminde melaporkan bahwa pada saat anak mencapai usia lima tahun, aktivitas otaknya mencapai 80 persen dibandingkan orang dewasa, yang berarti anak pada tahap ini mempunyai motivasi untuk belajar. “Sehingga orang tua di usia ini atau bahkan lebih muda bisa mengajarkan kemandirian pada anak sesuai porsinya, tujuannya agar anak menjadi individu yang mandiri dan ini bisa menjadi prediktor bagi anak untuk tetap bertahan ketika berada dalam kesulitan,” Ayun menjelaskan. .
Artikel JAHANGIR CIRCLE Kapan Waktu Tepat Ajarkan Anak Mandiri? pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>