Artikel Rutin Olahraga Kurangi Risiko Stroke, Mulai Sekarang Jangan Mager! pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Aktivitas fisik ternyata berperan penting dalam menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah sehingga menurunkan risiko stroke. Pakar kedokteran olahraga Caleb Leonardo Halim mengatakan aktivitas fisik dan olahraga teratur secara tidak langsung dapat menurunkan risiko stroke.
Ia mengatakan, aktivitas fisik ringan yang dibarengi dengan latihan fisik dapat membantu mengontrol gula darah untuk mencegah berkembangnya diabetes, serta membantu meningkatkan tekanan darah. Semua ini dapat mengarah pada upaya untuk mengurangi risiko stroke di masa depan.
“Stroke merupakan penyakit pada pembuluh darah. Penyakit pembuluh darah seringkali disebabkan oleh penyakit lain yang disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat, salah satunya adalah kurangnya aktivitas fisik,” kata Caleb dalam diskusi online Kementerian Kesehatan. (Kemenkes) di Jakarta pada Senin 11/2024).
Ia menjelaskan, aktivitas fisik dan olah raga memiliki arti yang berbeda. Secara teori, aktivitas fisik merupakan upaya sederhana menggerakkan tubuh dengan berjalan naik dan turun tangga. Sedangkan latihan fisik artinya tidak hanya ditandai dengan keluarnya keringat, tetapi juga dilakukan dengan program yang terukur dan diulang secara rutin.
“Misalnya naik turun tangga. Kalau hanya sesekali, ini berarti aktivitas fisik. Namun jika Anda memiliki kebiasaan naik turun tangga setiap hari, itu bisa menjadi latihan fisik. Jadi ada kemajuan, ujarnya.
Caleb sempat mengingatkan kita akan pentingnya gerak tubuh, baik seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari hanya dengan duduk dan menatap layar komputer atau laptop. Ia menyarankan untuk istirahat dari aktivitas layar (istirahat duduk) dengan berdiri dan berjalan-jalan setidaknya setiap satu hingga dua jam sekali. Dengan begitu, peredaran darah menjadi baik dan otot tidak kaku.
“Faktanya, penelitian mengatakan lebih baik berjalan kaki berapa pun lamanya. Kalaupun hanya jalan kaki 5-10 menit, misalnya cari makan siang di luar, tidak apa-apa. Sore atau malam hari, jalan kaki lagi selama 5-10 menit. Lalu pulang kantor, jalan kaki 5-10 menit. “Total 30 menit sehari,” katanya.
Mengenai latihan fisik, Caleb mengatakan ada rumusan yang perlu diingat dan diikuti masyarakat untuk mendapatkan manfaat yang efektif, yaitu FITT yang terdiri dari frekuensi, intensitas, timing (waktu atau durasi) dan Type (jenis latihan fisik). ) adalah untuk. Formula ini berlaku untuk latihan kardio dan otot.
Untuk latihan kardio, frekuensi yang disarankan adalah tiga hingga lima kali per minggu. Bagi pemula, latihan kardio bisa dimulai seminggu sekali dan kemudian ditingkatkan.
Intensitas atau tingkat kesulitan latihan fisik yang dianjurkan bagi pemula berkisar dari rendah hingga sedang (low to medium). Menurut Caleb, jalan santai sambil ngobrol saja sudah cukup bagi pemula.
Durasi yang dibutuhkan untuk latihan kardio yang efektif minimal 150 menit. Caleb mengatakan, jika latihan kardio dilakukan selama 30 menit setiap hari dan diulang secara rutin selama lima hari, maka upaya ini sangat baik.
Jenis atau tipe latihan kardio yang direkomendasikan untuk pemula adalah yang termasuk dalam kategori low impact. Jika persendian Anda dalam kondisi baik, Calem mengajak orang untuk menggabungkan latihan kardio low impact dengan high impact cardio.
Rumus FITT juga bisa diterapkan pada latihan otot atau latihan beban, meski dengan sedikit perbedaan dibandingkan latihan kardio. Untuk latihan otot, frekuensi yang disarankan adalah dua hingga tiga kali seminggu per kelompok otot dan intensitasnya berkisar dari sedang hingga berat.
Calem mengatakan sebenarnya tidak ada batasan khusus mengenai durasi latihan otot, asalkan tidak terlalu lama atau terlalu intens. Jenis latihan ototnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi, baik menggunakan barbel maupun tanpa barbel, seperti push up, sit up, dan lain-lain.
“Sedangkan dalam aktivitas fisik sebenarnya hanya ada satu (rumus). Kurangi waktu duduk. Jangan duduk terlalu lama. Sekalipun Anda sedang duduk, Anda perlu istirahat dari duduk. Belum ada konsensus mengenai durasi sidang. Ada yang bilang maksimal enam jam sehari, ada pula yang bilang delapan jam sehari. Tapi tetap jangan duduk lebih dari itu. “Perlu lebih banyak berdiri, lebih banyak gerakan,” kata Caleb.
Artikel Rutin Olahraga Kurangi Risiko Stroke, Mulai Sekarang Jangan Mager! pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Cegah Stroke Terulang, Rajin Olahraga Jadi Kuncinya pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Mencapai jumlah olahraga yang disarankan setiap minggu akan mengurangi risiko stroke,” kata Dr. Marigenti dalam diskusi online di Jakarta beberapa waktu lalu.
Marigenti mengatakan stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia. Namun sebagian besar stroke dapat dicegah dengan mengatasi sejumlah kecil faktor risiko utama, seperti olahraga teratur.
Ia mengatakan terkait stroke, olahraga 30 menit lima kali seminggu dapat menurunkan risiko stroke sebesar 25%. Misalnya, aktivitas kecil sehari-hari seperti berjalan kaki daripada menggunakan mobil, naik tangga daripada menggunakan lift, berkebun, dan melakukan pekerjaan rumah tangga dapat membantu orang tetap sehat dan mengurangi risiko stroke.
“Selain mempertahankan aktivitas normal, disarankan agar Anda melakukan setidaknya dua setengah jam olahraga sedang hingga berat setiap minggunya. “Anda dapat membaginya sesuai keinginan, tetapi cara yang baik untuk mencapai tujuan ini adalah dengan Metodenya 30 menit, lima hari dalam seminggu,” ujarnya.
Artikel Cegah Stroke Terulang, Rajin Olahraga Jadi Kuncinya pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Stroke Intai Anak Muda, Gaya Hidup Ini Jadi Penyebabnya pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Dokter dari Persatuan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (Perdosni) Dr Dodik Taskworo mengatakan, pola hidup yang tidak sehat seperti tidak berolahraga dan terlalu banyak mengonsumsi lemak dan gula merupakan faktor risiko terjadinya stroke. “Beberapa orang yang saya temui di usia 30-an dan 40-an adalah orang-orang yang menyukainya dan beberapa hal menyebabkan rasa sakit di masa kecil mereka semakin meningkat karena kesehatan,” kata Dodik saat diwawancarai masyarakat di Jakarta. Jumat (25/10/2024).
Ia mengatakan, merokok, minum minuman beralkohol, dan stres yang tinggi berkontribusi terhadap risiko stroke pada generasi muda. “Stres juga penting karena bagi mereka banyak persaingan yang berujung pada gangguan tidur dan semua itu menjadi faktor risiko stroke,” ujarnya.
Selain gaya hidup, kata dia, stroke bisa disebabkan oleh riwayat penyakit genetik dan penyakit lain seperti hipertensi, diabetes, dislipidemia, dan obesitas. Untuk mencegah penyakit stroke sejak dini, Dodik menganjurkan untuk menggunakan ungkapan 3O + 1D yang artinya berolahraga selama 30 menit sehari, berolahraga atau bersenang-senang dan melakukan hal-hal yang membuat hati bahagia, menguatkan jiwa atau mendekatkan diri kepada Tuhan tanpa melakukan apa pun di dalam. . makan, dan makanan sehat dengan mengurangi makanan berlemak.
Ia yang akrab disapa Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Yudhi Pramono mengatakan, 90% kasus stroke dapat dicegah dengan mengendalikan hal-hal seperti hipertensi, diabetes, dislipidemia, merokok, dan kekurangan fisik. bekerja. Faktanya, 90 persen stroke dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, diabetes, dislipidemia, gangguan jantung, merokok, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, stres, dan alkoholisme, kata Yudhi.
Yudhi mengatakan, Kementerian Kesehatan merekomendasikan pemeriksaan kesehatan dilakukan pada setiap hari ulang tahun warga negara sebagai salah satu cara mencegah maraknya penyakit kanker di Indonesia. “Ada filter profil kolesterol dan lipid yang digunakan untuk memprediksi stroke,” ujarnya.
Artikel Stroke Intai Anak Muda, Gaya Hidup Ini Jadi Penyebabnya pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Strok Harus Ditangani tak Lebih dari 4,5 Jam pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Persatuan Konsultan Neurologi Indonesia (Perdusani) mengingatkan dr. Dudak Tuskoro sebaiknya mengobati lukanya sesegera mungkin, atau 4,5 jam setelah timbulnya gejala.
“Saat sampai di RS, kami melakukan tes yang tidak lebih dari 4,5 jam untuk memasukkan obatnya, jadi kalau terkena serangan jantung jangan sampai lupa waktu,” kata Dodak dalam obrolan online yang diperiksa di Jakarta. . , Jumat (25/10/2024).
Ia menegaskan, kecepatan pengobatan stroke merupakan kunci untuk melawan penyakit stroke yang mematikan. Semakin cepat pasien stroke diobati, semakin baik kelangsungan hidup dan umur panjangnya.
Dijelaskannya, kecepatan pengobatan sangat penting karena ketika stroke terjadi, 32.000 sel saraf rusak setiap detiknya, dan semakin banyak sel saraf yang rusak maka umur pasien akan semakin pendek.
“Saat seseorang sakit, ada area – di otak – yang mati atau terkena dampaknya, dan ada area penumbra disekitarnya, dan itulah area penumbra yang kita lindungi,” katanya.
Oleh karena itu, ia mengatakan bila muncul gejala stroke sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit yang terdapat fasilitas pengobatan stroke. Menurut Dodak, gejala stroke harus dikenali sebagai singkatan dari slogan “SeGeRa Ke RS” yang artinya Se singkatan dari senyum asimetris, hilangnya gerakan secara tiba-tiba pada salah satu bagian tubuh, Ra (Ra) adalah cerita gila, Ke. kelebihannya. Untuk separuh badan, R adalah penglihatan dekat atau penglihatan kabur secara tiba-tiba, dan S adalah kepala besar yang muncul secara tiba-tiba.
“Jangan lupa, kata ‘syok’ artinya segala sesuatu yang muncul secara tiba-tiba merupakan tanda kelumpuhan,” ujarnya.
Selama dirawat di rumah sakit, pasien stroke menjalani prosedur diagnostik menggunakan CT scan dan menjalani trombolisis atau trombektomi untuk menghilangkan penyumbatan aliran darah ke otak.
“Jika obat ini bisa kita sediakan di puskesmas dan memiliki peralatan CT scan, kita bisa mengurangi gejala stroke atau kematian,” kata Dodak.
Artikel Strok Harus Ditangani tak Lebih dari 4,5 Jam pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel 3 Jenis Olahraga yang Dipercaya Ampuh Cegah Stroke pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Dr. Elena Vidyastuti, anggota Perkumpulan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (PDSKO), berbagi beberapa aktivitas fisik yang bisa dilakukan secara rutin untuk mencegah stroke. Ia menjelaskan, aktivitas fisik bermanfaat bagi kesehatan jantung dan mencegah penyumbatan pada arteri penyebab gejala stroke.
“Aktivitas fisik tersebut memiliki manfaat yang sangat baik bagi jantung dan pembuluh darah,” kata Elena dalam diskusi online yang dilihat di Jakarta, Jumat (25 Oktober 2024).
Ia menjelaskan, ada tiga jenis aktivitas fisik yang dapat membantu mencegah risiko stroke. Yang pertama adalah aktivitas fisik aerobik seperti lari, bersepeda, dan berenang yang dilakukan secara berulang-ulang.
Untuk aktivitas fisik aerobik intensitas sedang, disarankan 150 hingga 300 menit per minggu. Sedangkan 75 menit hingga 150 menit per minggu disarankan untuk intensitas tinggi.
“Kalau seminggu lima kali, kita bisa jalan kaki tiap kali, yaitu sekitar setengah jam, atau kalau kita lakukan tiga kali (seminggu), berarti kita melakukannya. masing-masing 50 menit. Waktunya,” katanya.
Selain aktivitas aerobik, Elena merekomendasikan dua atau tiga kali seminggu jenis aktivitas fisik lain yang memperkuat otot, terutama otot besar tubuh. Banyak aktivitas kebugaran seperti latihan fisik di gym, pilates, dan yoga yang ideal untuk melatih otot.
Terakhir, ia menekankan pentingnya membatasi gaya hidup sedentary atau sering berpindah-pindah yang umum terjadi di kalangan pekerja kantoran dan mengurangi waktu duduk selama bekerja. “Maka ambillah langkah yang lebih banyak. Penelitian menunjukkan bahwa jika kita bisa melakukan lebih dari 5.000 langkah dalam sehari, apalagi jika kita bisa melakukan lebih dari 7.500 langkah dalam sehari, maka akan memberikan manfaat yang sangat baik bagi kesehatan jantung, yaitu menurunkan risiko kematian, “ucap Elena.
Dokter dari Persatuan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdosni), dr. Gaya hidup tidak sehat seperti kurang aktivitas fisik dan pola makan tinggi lemak dan gula menjadi faktor risiko stroke di usia muda, kata Dodic Tasquoro. Dodik menyarankan untuk menerapkan motto 3O + 1D yang artinya berolahraga 30 menit setiap hari, melakukan seni atau hobi dan kegiatan yang menyenangkan hati, melatih jiwa atau mendekatkan diri kepada Tuhan, tidak melakukan sesuatu yang cepat, serta pola makan yang sehat. yang mengurangi konsumsi lemak.
Artikel 3 Jenis Olahraga yang Dipercaya Ampuh Cegah Stroke pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>