Artikel Penyanyi Dina Mariana Meninggal Dunia, Sempat Divonis Kanker Rahim pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Kanker perut yang diderita Dina awalnya berukuran kecil, stadium 1A, dan dalam podcast Dina pada 29 Oktober 2022 bersama Ira Maya Sopa, ia juga mengungkapkan bahwa kanker tersebut mencapai stadium 3A setelah dilakukan operasi pengangkatan. Karena penyakit kanker yang dideritanya, Dina pun menjalani kemoterapi.
Meninggalnya Dina Mariana pun membuat orang-orang seperti Gina Rachman dan Soraya Haq sangat sedih. Dalam postingan di Instagram, Gina mengungkapkan kesedihannya yang mendalam atas meninggalnya sahabatnya tersebut.
“Innalillahi wainna ilaihi bekerja keras. Bagus sekali temanku. “Sahabat yang baik dan penuh perhatian, kini Gina sudah tidak sakit lagi,” kata Gina di Instagram (gina.rachman) Senin (4/11/2024).
Gina pun mendoakan agar mendiang Dina mendapat ampunan dari Allah SWT dan agar keluarga yang ditinggalkan bisa menganggap enteng tragedi ini. “Kami berharap almarhum Dina mau menerima agama Islam. Husain meninggal di Khotham. Memberikan kekuatan dan kesabaran kepada keluarga yang tersisa. Amin,” ucap Gina.
Soraya Haque pun turut berduka cita atas meninggalnya Dina Mariana. Dalam pesan di Instagram, Soraya mengatakan mendiang Dina adalah orang baik yang selalu bersama teman-temannya. Menurut Soraya, saat suaminya Ekki Sukarno terserang penyakit paru-paru dan jantung pada tahun 2020, Dina datang menjenguknya.
Begitu pula saat Marissa Hack meninggal pada 2 Oktober 2024, Dina mengucapkan terima kasih dan dukungan kepada keluarga Hack. “Almarhum Dina Mariana adalah sahabat sejati dan ada di sana saat Eckie keluar dari ICU pada 20 Januari 2020. Begitu pula saat adikku Ichi meninggal di pemakaman. depan rumah,” kata Soraya.
Soraya pun berdoa memohon ampun kepada Allah SWT atas keterlambatan Dina. “Tadi malam, aku dan Ekki datang ke rumahmu untuk mendoakanmu dan keluargamu. “Selamat tinggal Dina sayang,” sapa Soraya.
Dina mulai terkenal sebagai penyanyi muda pada tahun 1970-an bersama Adi Bing Salamet, Ira Maya Sofa, Diana Papillaia, Nurma Yunita, Sari Yok Koswoyo, Yut Bing Salamet dan Chicha Koswoyo. Dina masih dikenal sebagai mantan penyanyi cilik, meski ia mendapatkan ketenaran sebagai penyanyi cilik di akhir tahun 1980-an dengan lagu “Remember You”.
Selama berkarir di dunia hiburan tanah air, Dina telah merilis 35 album dan membintangi 21 film layar lebar, 26 episode sinetron, dan 3 sinetron yang sudah lama tayang. Pada bulan Ramadhan 2007, Dina juga merilis album berjudul 12 Kumpulan Lagu Anak Indonesia, “Jalan Menuju Allah” yang diproduseri oleh AT Mahmud.
Artikel Penyanyi Dina Mariana Meninggal Dunia, Sempat Divonis Kanker Rahim pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel CIRCLE NEWS Kanker Serviks, Silent Killer Nomor 2 Wanita di Indonesia pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Dr Muhammad Yusuf, konsultan onkologi ginekologi Eka Hospital BSD, mengatakan kanker serviks merupakan salah satu penyebab kematian utama pada wanita dan penyebab kematian terbanyak kedua di Indonesia. “Kanker serviks masih menjadi ancaman yang mengkhawatirkan bagi perempuan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia,” kata Dr. Muhammad Yusuf dalam keterangannya di Tangerang, Minggu (10/6/2024).
Dalam banyak kasus, pasien kanker serviks seringkali datang dalam stadium lanjut karena belum terdiagnosis sebelumnya. Sebenarnya kanker serviks bisa dideteksi dan dicegah dengan pap smear secara rutin.
Keunggulan Pap smear adalah dapat mendeteksi kelainan pada sel-sel leher rahim sebelum berkembang menjadi kanker. “Pemeriksaan ini harus dilakukan secara rutin agar kanker serviks dapat dideteksi dan diobati sejak dini. katanya.
Perlu dicatat bahwa dalam kebanyakan kasus, pasien kanker serviks hampir tidak menunjukkan gejala. Namun, para wanita patut waspada jika memiliki keluhan keputihan yang berulang dan berbau tidak sedap, pendarahan di luar menstruasi, serta pendarahan atau flek saat berhubungan.
Idealnya, semua wanita yang sudah menikah dan aktif secara seksual harus menjalani tes Pap. Wanita yang aktif secara seksual disarankan untuk melakukan tes Pap setiap tiga tahun sekali jika tidak ada gejala, keluhan atau diagnosis dini.
Namun jika dokter mengidentifikasi gejala risiko, dianjurkan untuk melakukan tes darah setiap tahun. Namun jika tidak ada kelainan, ibu hamil bisa melakukan pemeriksaan darah setelah melahirkan, minimal tiga bulan setelah melahirkan. katanya.
Saat dilakukan tes Pap, dokter kandungan akan memeriksanya dengan mengambil sedikit sampel jaringan dari leher rahim dan kemudian memeriksanya di laboratorium. Hampir 90 persen hasil tes Pap normal. Apusan yang tidak normal tidak selalu menandakan seorang wanita mengidap kanker, namun memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Sejalan dengan perkembangan teknologi medis, Eka Haigla kini menawarkan skrining dini kanker serviks dengan tes pap. “Ini merupakan versi terbaru dari uji kotoran karton tradisional yang dapat memberikan hasil lebih akurat dan telah banyak digunakan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia,” ujarnya.
Tes Pap bersama adalah bentuk tes baru yang menggabungkan tes Pap dengan tes DNA HPV. Dengan tes DNA HPV, masyarakat dapat mendeteksi keberadaan virus HPV di dalam tubuh, sedangkan tes pap smear berguna untuk mendeteksi sel abnormal pada leher rahim yang dapat berubah menjadi sel kanker.
“Jadi metode co-testing dengan tes Pap bisa membantu dokter mendeteksi kanker pada stadium lebih awal dibandingkan tes Pap saja,” ujarnya.
Artikel CIRCLE NEWS Kanker Serviks, Silent Killer Nomor 2 Wanita di Indonesia pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel JAHANGIR NEWS Empat Kebiasaan Sehat yang Dipercaya Bisa Kurangi Risiko Kanker pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Sekarang, para peneliti di Brigham General Mass. mengembangkan empat strategi spesifik yang didukung penelitian untuk mengurangi risiko kanker. Berikut detailnya seperti dilansir Fox News, Kamis (3/10/2024):
1. Lakukan skrining preventif secara rutin
Penundaan adalah salah satu alasan utama orang tidak melakukan pemeriksaan kanker. Misalnya, kanker usus besar adalah penyebab utama kematian akibat kanker di kalangan pria kulit hitam di AS, namun banyak yang tidak menjalani pemeriksaan yang direkomendasikan.
Adjoa Anyane-Yeboa, ahli gastroenterologi di Massachusetts General Hospital (MGH), menemukan bahwa penundaan adalah alasan utama orang tidak menjalani pemeriksaan. Penundaan ini sering kali disebabkan oleh masalah keuangan, kekhawatiran akan Covid-19, dan ketakutan akan ujian.
“Kesimpulan utama dari penelitian ini adalah semua penyedia layanan kesehatan harus mendiskusikan skrining kanker kolorektal secara rutin dengan semua pasien, karena deteksi dini melalui skrining dapat menyelamatkan nyawa,” kata Anyane – Yeboa.
2. Meningkatkan kualitas tidur
Tidur yang kurang atau berkualitas buruk dikaitkan dengan risiko kanker yang lebih tinggi. Heming Wang, PhD, asisten profesor kedokteran di Brigham and Women’s Hospital (BWH), memimpin tim peneliti yang meneliti pengaruh insomnia terhadap risiko kanker ovarium.
“Insomnia adalah gangguan tidur yang umum terjadi pada pasien kanker ovarium. Penelitian kami menunjukkan bahwa insomnia meningkatkan risiko subtipe kanker ovarium tertentu dan dikaitkan dengan berkurangnya kelangsungan hidup pasien,” kata Wang.
3. Jangan asal minum obat
Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan obat-obatan secara teratur seperti aspirin atau obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) lainnya dapat mengurangi risiko kanker kolorektal. Namun, hal ini dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya, seperti pendarahan dan pembengkakan.
Menurut MGH, tidak seorang pun boleh sembarangan mengonsumsi narkoba. Penting untuk mengetahui apakah Anda menginginkan manfaat atau efek berbahaya dari mengonsumsi aspirin atau NSAID lainnya.
4. Kurangi minuman manis
Penelitian American Cancer Society (ACS) menemukan bahwa pria dan wanita yang minum dua atau lebih minuman manis sehari memiliki risiko 5 persen lebih tinggi meninggal akibat kanker terkait obesitas. “Meskipun rasanya manis, minuman manis memiliki risiko kesehatan yang signifikan. Para peneliti telah mengaitkan minuman ini dengan obesitas, diabetes, dan penyakit jantung,” kata Longgang Zhao, peneliti di Brigham and Women’s Hospital.
Artikel JAHANGIR NEWS Empat Kebiasaan Sehat yang Dipercaya Bisa Kurangi Risiko Kanker pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel CIRCLE NEWS Dokter: Di Indonesia, Sekitar 11 Ribu Anak Terdiagnosis Kanker per Tahun pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Dalam acara yang disiarkan di Jakarta, Kamis (19/92023), Yaulian mengatakan, menurut data WHO, setiap tahun di seluruh dunia, 400.000 anak dan remaja terdiagnosis kanker. “Kalau misalnya kita lihat ada beberapa miliar penduduk dunia, sepertinya itu angka yang kecil. Tapi kecil, tapi angka mortalitas dan morbiditasnya tinggi,” tuturnya.
Ia mengatakan, di Indonesia sendiri, setiap tahunnya terdapat sekitar 11.000 anak yang terdiagnosis kanker, dan jumlah tersebut belum termasuk anak-anak yang tidak terdiagnosis di wilayah provinsi. Padahal, kata dia, menurut WHO pada tahun 2009, 40 persen kematian akibat kanker bisa dicegah jika didiagnosis sejak dini.
Yaulia menjelaskan, angka kejadian pengobatan kanker pada anak di Indonesia baru berkisar 20 hingga 35 persen, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti mitos yang masih dipegang sebagian masyarakat dan keterlambatan mencari pertolongan medis. Keterlambatan diagnosis karena kendala datang terlambat atau karena puskesmas tidak memiliki alat diagnostiknya sehingga harus diarahkan secara bertahap ke rumah sakit yang memiliki sumber daya yang diperlukan, jelasnya.
Lalu kurangnya pengetahuan, baik dari masyarakat maupun tim medis di daerah terpencil, ujarnya.
Ia menjelaskan, leukemia atau kanker darah, limfoma atau kanker kelenjar getah bening, dan tumor otak atau tumor otak di Indonesia merupakan jenis kanker yang paling banyak menyerang anak-anak. Adapun penyebab penyakit kanker, kata dia, hingga saat ini belum diketahui secara pasti, namun diyakini akibat kelainan proses genetik atau mutasi karena berbagai pemicu seperti lingkungan yang tidak sehat, paparan radiasi, kesehatan yang tidak sehat. penyakit makanan dan virus.
Hanya ada satu kanker yang diketahui penyebabnya, katanya, yaitu kanker serviks yang disebabkan oleh virus HPV. “Itulah sebabnya anak usia sekolah kini sudah mendapatkan vaksin HPV,” ujarnya.
Artikel CIRCLE NEWS Dokter: Di Indonesia, Sekitar 11 Ribu Anak Terdiagnosis Kanker per Tahun pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>