Artikel Ahli Jelaskan Cara Agar Bayi Terhindar dari Ruam Popok, Fitti Pants Buat Inovasi Ini pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Pada tahun 2023 suhu udara diperkirakan akan mencapai di atas 270*1 Celcius.
Pada suhu sedang setiap hari, kulit bayi yang masih belum matang dan fungsi pertahanannya belum sempurna, berisiko mengalami masalah kulit jika tidak menggunakan popok yang sesuai. Dokter Anak, Dr. Kanya Ayu Sp.A mengatakan, seperti halnya orang dewasa dan anak-anak yang berada di ruangan bersuhu hangat dan aktif beraktivitas mudah berkeringat, begitu pula bagian kulit yang tertutup popok dan jarang terkena aliran udara mudah lembab. . dan meningkatkan risiko ruam.
“Untuk meminimalisir risiko tersebut, saat mengganti popok, terlebih dahulu tutupi perlahan area kulit yang terkena popok dalam waktu yang lama, pastikan untuk mencucinya dari depan ke belakang, lalu keringkan. Selain itu, ganti popok setiap 3-4 jam dan pilihlah popok yang mengalirkan udara “Bagus atau tidak, itu tidak penting. Jika sirkulasi udara pada popok kurang baik dan udara tidak dapat keluar dari popok, maka kulit kering akan terkena keringat, urin, atau kotoran. maka risiko kelembapan pada popok akan meningkat akibat ruam”.
Oleh karena itu Unicharm merilis Fitti Pants untuk konsumen yang mempunyai permasalahan
Tebal dan lembab pada kulit bayi. Popok bayi Fitti Pants dengan sirkulasi udara yang baik efektif mencegah permasalahan kulit seperti kemerahan, ruam dan ruam akibat penggunaan popok dalam jangka waktu lama. Kemudian daya serapnya tidak bocor selama 12 jam, lebih nyaman digunakan tidak hanya di pagi hari, tapi juga di malam hari. Selain itu, permukaan anak yang menghadap ke kulit juga lembut dan memiliki sisi pelindung agar tidak bocor dari samping.
Kali ini Fitti Pants menggandeng tokoh kartun ternama dunia Doraemon. Kartun Doraemon pertama kali ditayangkan di televisi di Indonesia pada tahun 1990an dan menjadi salah satu tokoh kartun terpopuler hingga saat ini.
Presiden Direktur Takumi Terakawa mengatakan, berdasarkan riset yang dilakukan Unicharm, sirkulasi udara menjadi salah satu hal yang menjadi pertimbangan sebagian besar konsumen di Indonesia saat memilih popok bayi.
Selain itu, kebutuhan akan popok breathable semakin meningkat pada tahun 2022 hingga tahun 2023. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan popok merupakan solusi yang dapat menghilangkan permasalahan emisi dan kelembapan pada kulit bayi.
“Seperti produk Unicharm lainnya, Fitti Pants dikembangkan dan diproduksi dengan menggunakan teknologi Jepang yang aman dan andal. Selain itu, pada kemasan Fitti Pants terdapat logo sistem verifikasi hutan internasional yaitu PEFC (Program for the Endorsement of Forest Certification) yang menandakan bahwa seluruh bahan bakunya ini dihasilkan dari hutan yang bersertifikat dan hutan tersebut dilestarikan sebagai bentuk kontribusi terhadap pemahaman kelestarian lingkungan hidup,” ujarnya.
Uni-Chams Indonesia telah mengembangkan penggunaan popok untuk orang dewasa tanpa merusak kulit.
“Penggunaan popok dengan kualitas yang baik dapat mengurangi risiko terjadinya dekubitus (luka kulit),” kata Terakawa, dilansir Antara.
Artikel Ahli Jelaskan Cara Agar Bayi Terhindar dari Ruam Popok, Fitti Pants Buat Inovasi Ini pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel JAHANGIR CIRCLE Peneliti BRIN Soroti Perlunya Penanganan Sampah Popok dan Pembalut pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Dalam diskusi daring di Pusat Penelitian Lingkungan Hidup dan Teknologi Bersih (PRLTB) BRIN dari Jakarta, Rabu, Lies menjelaskan, berdasarkan penelitian pada tahun 2021, konsumsi popok bayi akan mencapai 17,44 juta per hari yang menghasilkan 3.488 ton. sampah per hari.
Wakil Peneliti PRLTB BRIN menemukan pada tahun 2022, berdasarkan jumlah penduduk wanita usia subur, jumlah limbah pembalut bisa mencapai 42.000 ton untuk 73,44 juta penduduk yang menggunakan 1.151,2 juta pembalut per bulan.
“Produk ini memberi tekanan pada lingkungan karena pada dasarnya produk ini hanya sekali pakai dan langsung dibuang setelah digunakan. Ini risiko pencemaran lingkungan,” ujarnya.
Dipastikan, saat membuang kedua produk tersebut, masih banyak masyarakat yang tidak memilah, mencampurkannya ke sampah, dan tidak memilahnya.
Fakta bahwa sistem pengelolaan sampah yang ada saat ini masih tidak mempertimbangkan jenis sampah untuk produk penyerap sanitasi adalah salah karena kesadaran petugas, saran yang tepat, dan infrastruktur pengelolaan sampah.
“Kalau dibuang ke alam bisa terurai dengan cahaya, tapi kalau dibuang ke TPA dan dikubur di dalam tanah, tidak bersentuhan dengan cahaya sehingga butuh waktu lama untuk terurai,” ujarnya. .
Literatur secara keliru menyatakan bahwa diperlukan waktu 500-800 tahun, terutama pada bahan polimer, agar tidak terdegradasi sepenuhnya.
Untuk itu perlu dikembangkan bahan penyerap yang ramah lingkungan dan memenuhi persyaratan sanitasi sekali pakai. Selain itu, perlu adanya pengurangan dan pengelolaan sampah.
“Popok sekali pakai dan produk perawatan tidak bisa langsung digunakan kembali, namun yang bisa dilakukan untuk membatasi sampah adalah dengan mengedukasi masyarakat untuk menggunakan bahan yang dapat digunakan kembali,” jelasnya.
Ia menjelaskan, produk seperti popok bisa didaur ulang sebelum berakhir di TPA, apalagi terbuat dari plastik.
Artikel JAHANGIR CIRCLE Peneliti BRIN Soroti Perlunya Penanganan Sampah Popok dan Pembalut pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>