Artikel PLN Siapkan Listrik Bersih untuk Hilirisasi Mineral Smelter Antam di Kolaka pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan smelter merupakan salah satu proyek strategis yang mendukung pengurangan penambangan di Indonesia. Oleh karena itu, PLN berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan listrik dan memberikan pelayanan terbaik bagi industri smelter.
“Industri smelter membutuhkan energi listrik dalam jumlah besar dan PLN siap memenuhinya dengan menyediakan listrik yang andal, berkualitas, dan harga bersaing,” kata Darmawan dalam keterangan tertulis, Selasa (29/10/2024).
Selain itu, Darmawan mengatakan PLN yang merupakan BUMN yang memegang tanggung jawab nasional di bidang ketenagalistrikan akan terus menjalin kerja sama dan menyediakan listrik ke empat penjuru negeri Hal ini akan merangsang pertumbuhan ekonomi dan menciptakan multiplier effect bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Ketersediaan listrik di daerah akan memberikan dampak multifaset berupa peningkatan lapangan kerja dan peningkatan perekonomian dunia usaha riil yang dapat menjadi insentif bagi berkembangnya usaha lokal,” ujarnya.
Direktur Utama Antam Nico Kanter menjelaskan, perusahaan ini tidak hanya akan meningkatkan efisiensi kerja, tetapi juga mendukung upaya perusahaan dalam mengubah teknologi dan mengurangi karbohidrat.
“Kemitraan ini merupakan langkah nyata komitmen perusahaan BUMN dalam mendukung rendahnya konsumsi energi ramah lingkungan. Manfaat dari kemitraan ini tidak hanya akan dirasakan oleh kedua belah pihak, namun juga komitmen bangsa terhadap clean cut pada tahun 2060. ,” kata Niko.
Smelter Feronikel yang dikelola Unit Usaha Pertambangan Kolaka (UBP Nikel Kolaka) merupakan salah satu fasilitas penting dalam rantai hilir pertambangan. UBP Nickel Kolaka memiliki kapasitas produksi feronikel hingga 27.000 ton nikel dalam feronikel (TNi) per tahun untuk kebutuhan dalam negeri dan ekspor ke China, India, Korea Selatan, dan Taiwan.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) Budiono mengatakan pihaknya siap memenuhi kebutuhan listrik PT Antam di Kolaka dan dunia usaha di Provinsi Sulawesi Selatan. Memastikan pasokan listrik bersih di Sulsel dalam kondisi baik dengan laju energi terbarukan sebesar 45,78 persen yang merupakan salah satu tertinggi di Indonesia.
Menurut Budiono: “Perekonomian memerlukan listrik yang banyak dan berkualitas baik.
Budiono juga mengatakan, selain Smelter Antam, PLN UID Sulselrabar memiliki delapan pelanggan listrik kelas atas yang telah memberikan layanan listriknya ke PLN dengan total 612 MVA.
Penggabungan ini tidak hanya bermanfaat bagi kedua BUMN, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal dan regional, pungkas Budiono.
Artikel PLN Siapkan Listrik Bersih untuk Hilirisasi Mineral Smelter Antam di Kolaka pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel JAHANGIR CIRCLE IMA Dorong Pemerintah Maksimalkan Produk Hilirisasi untuk Kebutuhan Dalam Negeri pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Ini adalah contoh bagaimana mereka menyikapi apa yang menjadi sasaran pemerintah. Hal itu juga sesuai dengan UU Minerba. Dengan adanya smelter, mineral seperti tembaga, nikel, bauksit, dan lain sebagainya, bisa diolah menjadi bahan jadi. Tentu saja hal ini menimbulkan nilai tambah yang lebih signifikan.
Artinya, dari sisi dunia pertambangan, baik unit usaha maupun asosiasi telah menjalankan tanggung jawabnya sebagaimana mestinya, jelas Richmat. IMA memahami tujuan utama pemerintah. Tujuannya untuk melakukan promosi ke hilir.
“Kami berharap ada regulasi yang cukup baik untuk benar-benar bisa masuk ke industri hilir ini,” ujarnya di Jakarta Convention Center (JCC), Kenya, Selasa (8/10/2024).
Detailnya, bahan bakunya sudah ada. Lalu perusahaannya bangkrut. Menurut Rachmat, sayang sekali jika produk hilir banyak dikonsumsi pihak luar.
Apalagi Indonesia mempunyai peluang terbaik untuk memanfaatkan hal tersebut. Di sinilah nilai tambah terbesar dapat ditemukan. Dia melihat tantangan ini lebih progresif. Bukan hanya arus hilirnya saja, tapi bagaimana menghasilkan energi untuk memaksimalkannya.
“Kebutuhan energi pasti akan meningkat. Mungkin perlu lebih banyak peraturan yang bisa dibuat pemerintah untuk memfasilitasi proses yang dapat menjamin keberlanjutan tambang, bukan hanya lapangan kerja,” kata Richmat.
Sebelumnya, Direktur Utama PT Freeport Indonesia (PTFI), Tony Vinas menjelaskan perkembangan hilirisasi di perusahaannya. Pada dasarnya PTFI sangat mendukung hal tersebut.
PTFI memiliki dua pabrik smelter tembaga. Yang pertama telah beroperasi sejak 1997. Kedua, konstruksinya baru saja selesai. Perusahaan ini memurnikan 1,7 ton konsentrat tembaga.
Tony menjelaskan, smelter kedua ini sudah mulai tahap produksi meski masih perlu beberapa penyesuaian. Inilah sebabnya mengapa pabrik ini merupakan pabrik peleburan tembaga jalur tunggal terbesar di dunia.
“Dengan segala tantangannya, dengan jadwal yang sangat padat dari pemerintah, pembayaran bea keluar juga, denda keterlambatan karena Covid-19, tapi semuanya sudah selesai,” kata Direktur Utama PTFI.
Lanjutnya, pada Januari 2025, PTFI akan memurnikan 100 persen konsentrat tembaganya di dalam negeri. Untuk memproduksi 900.000 – 1 juta ton katoda tembaga tergantung kualitasnya.
“Di situlah tugas para penambang hilir berakhir. PR kita bagaimana memastikan bisa digunakan di rumah,” kata Tony.
Dia menjelaskan, situasi saat ini, setiap tahunnya, separuh dari katoda tembaga yang dihasilkan dari peleburan PT masih diekspor. Sekitar 200 ribu ton dikonsumsi lokal, kemudian sekitar 150 ribu ton masih diekspor.
“Masalahnya mungkin bukan rendahnya konsumsi tembaga di Indonesia, tapi rendahnya konsumsi katoda tembaga di Indonesia,” kata Tony.
Kemudian, menurutnya, hilirisasi tembaga hasil PTFE akan sangat bermanfaat bagi energi terbarukan. Hal ini terkait dengan kemampuan PT PLN (Persero) membangun jalur transmisi baru sepanjang 47 ribu kilometer (KM).
“Kalau pakai katoda dalam negeri, akan sangat cocok untuk jalur transmisi. Selain itu, dengan produksi kita, sekitar 1 juta ton bisa menghasilkan 200 GW panel surya dalam setahun. Jadi semua kementerian, semua pemangku kepentingan. Memang semakin banyak industri hilir yang bermunculan di Indonesia. kata Presiden PTFI.
Pada dasarnya, Tony berharap produk hilirnya paling baik digunakan di rumah. Kemudian seluruh kementerian/lembaga perlu berkoordinasi agar semuanya berjalan efektif.
Artikel JAHANGIR CIRCLE IMA Dorong Pemerintah Maksimalkan Produk Hilirisasi untuk Kebutuhan Dalam Negeri pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>