Artikel Dokter RSCM: Ada Pergeseran Pola Penyakit Akibat Gaya Hidup tidak Sehat pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Wafa menjelaskan, perubahan pola penyakit ini disebabkan pola hidup manusia yang semakin dipandang kurang sehat.
“Ada perubahan pola penyakit, pada tahun 1990an banyak penyakit menular, namun seiring berjalannya waktu penyakit yang dominan kini adalah stroke, diabetes, dan penyakit lain yang berhubungan dengan gaya hidup,” kata Wafa dalam keterangannya, Sabtu di Jakarta. 11/2024).
Wafa menambahkan, perubahan ini mencerminkan peralihan penyakit menular ke penyakit akibat pola hidup tidak sehat. Menurutnya, beberapa contoh penyakit gaya hidup yang umum ditemui antara lain obesitas, diabetes melitus tipe 2, dislipidemia, hipertensi, jantung, ginjal, stroke, penyakit paru obstruktif kronik, kanker, dan sirosis hati.
Wafa berkata: “Penting bagi kita untuk mengetahui semua ini. Mari kita bersama-sama mengubah pola hidup sehat untuk mencegah penyakit. »
Artikel Dokter RSCM: Ada Pergeseran Pola Penyakit Akibat Gaya Hidup tidak Sehat pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Rutin Olahraga Kurangi Risiko Stroke, Mulai Sekarang Jangan Mager! pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Aktivitas fisik ternyata berperan penting dalam menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah sehingga menurunkan risiko stroke. Pakar kedokteran olahraga Caleb Leonardo Halim mengatakan aktivitas fisik dan olahraga teratur secara tidak langsung dapat menurunkan risiko stroke.
Ia mengatakan, aktivitas fisik ringan yang dibarengi dengan latihan fisik dapat membantu mengontrol gula darah untuk mencegah berkembangnya diabetes, serta membantu meningkatkan tekanan darah. Semua ini dapat mengarah pada upaya untuk mengurangi risiko stroke di masa depan.
“Stroke merupakan penyakit pada pembuluh darah. Penyakit pembuluh darah seringkali disebabkan oleh penyakit lain yang disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat, salah satunya adalah kurangnya aktivitas fisik,” kata Caleb dalam diskusi online Kementerian Kesehatan. (Kemenkes) di Jakarta pada Senin 11/2024).
Ia menjelaskan, aktivitas fisik dan olah raga memiliki arti yang berbeda. Secara teori, aktivitas fisik merupakan upaya sederhana menggerakkan tubuh dengan berjalan naik dan turun tangga. Sedangkan latihan fisik artinya tidak hanya ditandai dengan keluarnya keringat, tetapi juga dilakukan dengan program yang terukur dan diulang secara rutin.
“Misalnya naik turun tangga. Kalau hanya sesekali, ini berarti aktivitas fisik. Namun jika Anda memiliki kebiasaan naik turun tangga setiap hari, itu bisa menjadi latihan fisik. Jadi ada kemajuan, ujarnya.
Caleb sempat mengingatkan kita akan pentingnya gerak tubuh, baik seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari hanya dengan duduk dan menatap layar komputer atau laptop. Ia menyarankan untuk istirahat dari aktivitas layar (istirahat duduk) dengan berdiri dan berjalan-jalan setidaknya setiap satu hingga dua jam sekali. Dengan begitu, peredaran darah menjadi baik dan otot tidak kaku.
“Faktanya, penelitian mengatakan lebih baik berjalan kaki berapa pun lamanya. Kalaupun hanya jalan kaki 5-10 menit, misalnya cari makan siang di luar, tidak apa-apa. Sore atau malam hari, jalan kaki lagi selama 5-10 menit. Lalu pulang kantor, jalan kaki 5-10 menit. “Total 30 menit sehari,” katanya.
Mengenai latihan fisik, Caleb mengatakan ada rumusan yang perlu diingat dan diikuti masyarakat untuk mendapatkan manfaat yang efektif, yaitu FITT yang terdiri dari frekuensi, intensitas, timing (waktu atau durasi) dan Type (jenis latihan fisik). ) adalah untuk. Formula ini berlaku untuk latihan kardio dan otot.
Untuk latihan kardio, frekuensi yang disarankan adalah tiga hingga lima kali per minggu. Bagi pemula, latihan kardio bisa dimulai seminggu sekali dan kemudian ditingkatkan.
Intensitas atau tingkat kesulitan latihan fisik yang dianjurkan bagi pemula berkisar dari rendah hingga sedang (low to medium). Menurut Caleb, jalan santai sambil ngobrol saja sudah cukup bagi pemula.
Durasi yang dibutuhkan untuk latihan kardio yang efektif minimal 150 menit. Caleb mengatakan, jika latihan kardio dilakukan selama 30 menit setiap hari dan diulang secara rutin selama lima hari, maka upaya ini sangat baik.
Jenis atau tipe latihan kardio yang direkomendasikan untuk pemula adalah yang termasuk dalam kategori low impact. Jika persendian Anda dalam kondisi baik, Calem mengajak orang untuk menggabungkan latihan kardio low impact dengan high impact cardio.
Rumus FITT juga bisa diterapkan pada latihan otot atau latihan beban, meski dengan sedikit perbedaan dibandingkan latihan kardio. Untuk latihan otot, frekuensi yang disarankan adalah dua hingga tiga kali seminggu per kelompok otot dan intensitasnya berkisar dari sedang hingga berat.
Calem mengatakan sebenarnya tidak ada batasan khusus mengenai durasi latihan otot, asalkan tidak terlalu lama atau terlalu intens. Jenis latihan ototnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi, baik menggunakan barbel maupun tanpa barbel, seperti push up, sit up, dan lain-lain.
“Sedangkan dalam aktivitas fisik sebenarnya hanya ada satu (rumus). Kurangi waktu duduk. Jangan duduk terlalu lama. Sekalipun Anda sedang duduk, Anda perlu istirahat dari duduk. Belum ada konsensus mengenai durasi sidang. Ada yang bilang maksimal enam jam sehari, ada pula yang bilang delapan jam sehari. Tapi tetap jangan duduk lebih dari itu. “Perlu lebih banyak berdiri, lebih banyak gerakan,” kata Caleb.
Artikel Rutin Olahraga Kurangi Risiko Stroke, Mulai Sekarang Jangan Mager! pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Strok Harus Ditangani tak Lebih dari 4,5 Jam pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Persatuan Konsultan Neurologi Indonesia (Perdusani) mengingatkan dr. Dudak Tuskoro sebaiknya mengobati lukanya sesegera mungkin, atau 4,5 jam setelah timbulnya gejala.
“Saat sampai di RS, kami melakukan tes yang tidak lebih dari 4,5 jam untuk memasukkan obatnya, jadi kalau terkena serangan jantung jangan sampai lupa waktu,” kata Dodak dalam obrolan online yang diperiksa di Jakarta. . , Jumat (25/10/2024).
Ia menegaskan, kecepatan pengobatan stroke merupakan kunci untuk melawan penyakit stroke yang mematikan. Semakin cepat pasien stroke diobati, semakin baik kelangsungan hidup dan umur panjangnya.
Dijelaskannya, kecepatan pengobatan sangat penting karena ketika stroke terjadi, 32.000 sel saraf rusak setiap detiknya, dan semakin banyak sel saraf yang rusak maka umur pasien akan semakin pendek.
“Saat seseorang sakit, ada area – di otak – yang mati atau terkena dampaknya, dan ada area penumbra disekitarnya, dan itulah area penumbra yang kita lindungi,” katanya.
Oleh karena itu, ia mengatakan bila muncul gejala stroke sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit yang terdapat fasilitas pengobatan stroke. Menurut Dodak, gejala stroke harus dikenali sebagai singkatan dari slogan “SeGeRa Ke RS” yang artinya Se singkatan dari senyum asimetris, hilangnya gerakan secara tiba-tiba pada salah satu bagian tubuh, Ra (Ra) adalah cerita gila, Ke. kelebihannya. Untuk separuh badan, R adalah penglihatan dekat atau penglihatan kabur secara tiba-tiba, dan S adalah kepala besar yang muncul secara tiba-tiba.
“Jangan lupa, kata ‘syok’ artinya segala sesuatu yang muncul secara tiba-tiba merupakan tanda kelumpuhan,” ujarnya.
Selama dirawat di rumah sakit, pasien stroke menjalani prosedur diagnostik menggunakan CT scan dan menjalani trombolisis atau trombektomi untuk menghilangkan penyumbatan aliran darah ke otak.
“Jika obat ini bisa kita sediakan di puskesmas dan memiliki peralatan CT scan, kita bisa mengurangi gejala stroke atau kematian,” kata Dodak.
Artikel Strok Harus Ditangani tak Lebih dari 4,5 Jam pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>