Live score

sekolah ternak

puskesmas sumberrejo

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

ormastoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

benihtoto

dagelan4d

benihtoto

advanced building ltd

7 brenovation

whatsapp marketing yusoftware

Projects | LJR28 Realty

dagelan4d

Featured Trips & Itineraries - Gulliver Trips

Import & Export of premium Beverages

limonuk

Alert Care Ltd

Professional Service for Your Assets

Best Drop and Scratch Protection

The Best Valentine’s Gifts 2026

Комплексные поставки промышленного сырья

Барс - Каталог прицепов

ZBM Collections

IT SOLUTIONS & SERVICES

TEKNAS

ormastoto

venus beauty spa

near to me

Rapid Oilfield Services

Physio Rehabilitation

KeyZone

Best Healthy Meal Plans Provider in Dubai

pomeri

Superior cuts

dagelan4d

dagelan4d

TryIt

fly premi air

Goldtrust Insurance

Jardin de Fleurs 13894 22

my running coach

araamu hotels

atrimoniales El Santuario

truth turtle

Công Thức Gia Đình

six cent press

IADOWR GIS

dagelan4d

dagelan4d

HorecaInsider.nl

patrimoniales El Santuario

Vidhani Bauunternehmen

ani motor

ani cars

concept house digital

un tech digital

Shera Car Rental

iadowr teams

Professional Back-end and Front-end Development Services

Trang Chủ - Khánh Ly Shop

JAHANGIR CIRCLE 21 Persen Anak di Jakarta Alami Keterlambatan Bicara, Apa Penyebabnya? - Jahangir Circle News

Jahangir Circle News

berita dari seluruh kalangan dunia

Hiburan

JAHANGIR CIRCLE 21 Persen Anak di Jakarta Alami Keterlambatan Bicara, Apa Penyebabnya?

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat 5-8 persen anak prasekolah mengalami keterlambatan bicara atau keterlambatan bicara. Bahkan, di Jakarta khususnya, tercatat 21 persen anak menghadapi masalah tersebut.

Dokter Anak Dr. Fitri Hartanto menjelaskan, keterlambatan bicara sering terjadi ketika anak tidak mendapat rangsangan positif yang cukup pada masa kritis atau 1.000 hari pertama kehidupan. Pada usia nol hingga dua tahun, perkembangan otak anak mencapai 80 persen dari total kapasitasnya.

“Nah, bahayanya orang tua tidak memahami bahwa fase kritis hanya terjadi pada 2 tahun pertama. “Jika anak tidak mendapat rangsangan yang positif, tidak mendapat pola asuh yang baik, gizi yang cukup, maka hal ini akan mempengaruhi tumbuh kembang anak. perkembangannya, termasuk cara seorang anak berkomunikasi,” kata Dr Fitri saat debat media online di Jakarta, Selasa (15/10/2024).

Dijelaskannya, perkembangan otak anak yang kemudian akan mempengaruhi kemampuan komunikasinya sangat ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain pemenuhan kebutuhan gizi, imunisasi, pola pengasuhan yang tepat, kasih sayang orang tua, dan pemberian stimulasi yang positif. Stimulasi yang positif terhadap perkembangan bahasa anak berarti orang tua harus secara aktif mendorong anak untuk berkomunikasi secara verbal.

Stimulasi berupa komunikasi verbal sejak lahir berperan penting dalam membentuk sirkuit otak yang menunjang kemampuan berbahasa anak, kata Dr Fitri. Oleh karena itu, meski anak sudah menginjak usia satu bulan, Anda perlu berbicara dengannya. “Kalaupun anak belum tentu paham, namun akan diajarkan untuk memahami pola bicara, bunyi, ritme yang akan menjadi dasar keterampilan berbicara di kemudian hari,” kata Dr Fitri.

Di masa kritis ini, orang tua juga sebaiknya menjauhkan anak dari gadget. Fitri menjelaskan, paparan gadget dan TV termasuk rangsangan negatif yang dapat menghambat perkembangan otak anak dan berisiko menyebabkan keterlambatan bicara.

Dr Fitri mengatakan, mengidentifikasi dan menangani keterlambatan bicara pada periode ini akan jauh lebih efektif. Jika orang tua menunda pengobatan atau intervensi hingga anak berusia lebih dari dua tahun, upaya mengejar ketertinggalan bahasa menjadi lebih sulit karena otak anak sudah dibentuk oleh pengalaman sebelumnya.

“Kalau orang tua misalnya menunda pengobatan sampai anak berusia lebih dari 2 tahun, maka kurang efektif karena sel otaknya hanya berkembang 15 persen. “Apalagi jika orang tua menunda hingga anak berusia 5 tahun, akan sulit karena kita hanya bisa menggunakan 5 persen sel otak untuk mengejar ketertinggalan bicara tersebut,” kata Fitri.

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *