Artikel Daya Beli Lemah, Perbanas Proyeksikan Kredit Tumbuh di Kisaran 10,6 Persen pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Proyeksi adalah 13 persen dari pertumbuhan kredit kredit dari 4 13 persen di 17 persen dari minggu sebelumnya.
Sumber optimisme dalam pertumbuhan kredit bank telah dijelaskan bahwa sumber optimisme di bank adalah target pertumbuhan ekonomi 8% dari tujuan pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, ketersediaan uang yang sempit (lebar orang yang mencerminkan pertumbuhan kredit yang lebih tinggi, tetapi penurunan nilai box-stybox ketiga, masih lamban.
Selain faktor struktural seperti mengeluarkan daya, Helm menjelaskan bahwa pinjaman bank mempengaruhi ketidakpastian. Misalnya, dapat dilihat di bawah 2023 (YY) 2024.
Para aktor keuangan sedang menunggu para aktor keuangan, “mereka menunggu pemilihan presiden 2024”. Kemudian, setelah Brabu, putaran pada bulan Februari 2024 setelah Brabu dimenangkan oleh putaran angka ganda. “
Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan, pertumbuhan kredit rata -rata adalah 10,4% (YYY). Di sisi lain, data Ouchk adalah 10,3 persen, yaitu 10,3 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Nubuat Kantor Ekonom Senior tahun sebelumnya, pertumbuhan kredit adalah manfaat dari 2024, yaitu 10,4% (YoY), “Nay.
Hiranas juga menantikan kedatangan Ramadhan. Yoy). Seperti tahun lalu, tahun lalu, menurun dari 12 persen menjadi 13 persen pada bulan Maret April.
Dia juga menjelaskan bahwa kursus kredit untuk masyarakat biasanya tiga periode.
Selama periode Ramadhan, peringkat umumnya meningkat secara signifikan untuk konsumsi bulanan (ke / MTM). Ini adalah angka tertinggi sebagai angka tertinggi dibandingkan dengan perbandingan dengan 1,47 persen (MTM).
Namun, setelah orang-orang dari Idul Fitri, pertumbuhan konsumsi akan berkurang secara signifikan, dan selalu menyortirnya selalu dibandingkan untuk bulan-bulan lainnya. Pola anak ini akan menumbuhkan kredit sebelum Natal, liburan Tahun Baru, tetapi akan lambat setelah waktu itu.
Artikel Daya Beli Lemah, Perbanas Proyeksikan Kredit Tumbuh di Kisaran 10,6 Persen pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Ekonom: KHL, Inflasi, dan PE Jadi Pilar Utama Penetapan UMP yang Adil pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Penetapan UMP yang adil menjadi topik utama setiap akhir tahun, dan menurutnya KHL merupakan komponen penting dalam penentuan UMP.
“Sebagai standar bagi pekerja lajang untuk hidup layak selama satu bulan, KHL mencakup unsur pokok seperti pangan, sandang, perumahan, pendidikan, kesehatan, dan transportasi,” kata Ahmad di Jakarta, Senin, 25 November 2024. ).
Namun jika hanya mengandalkan KHL tanpa memperhitungkan inflasi, maka daya beli pekerja akan terpuruk sehingga berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa khususnya.
Sebab, inflasi khususnya pada produk pangan lebih tinggi dibandingkan inflasi pada umumnya. Hal ini mempunyai dampak yang signifikan terhadap biaya karyawan. UMP yang tidak memperhitungkan inflasi berisiko menimbulkan ketimpangan daya beli.
Selain itu, ia menekankan pentingnya memasukkan pertumbuhan ekonomi dalam rumusan UMP. Variabel pertumbuhan ekonomi mewakili kinerja perekonomian suatu negara secara keseluruhan.
“Agar adil, pekerja yang merupakan tulang punggung perekonomian juga berhak mendapatkan manfaat dari pertumbuhan ini. “Dengan memasukkan pertumbuhan ekonomi ke dalam formula UMP, kita dapat menciptakan hubungan yang lebih adil antara kontribusi pekerja terhadap perekonomian dan kompensasi yang mereka terima,” jelasnya.
Artikel Ekonom: KHL, Inflasi, dan PE Jadi Pilar Utama Penetapan UMP yang Adil pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Bambang Brodjonegoro: Kelas Menengah Indonesia Tergerus oleh Biaya Hidup yang Melonjak pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Penurunan daya beli bisa terjadi dari dua sisi, yaitu dari sisi pendapatan atau pengeluaran. Jika daya beli menurun maka pendapatan kita bisa turun atau pengeluaran kita meningkat. Misalnya kenaikan harga pangan khususnya beras sangat besar. berpengaruh karena itu kebutuhan pokok. Jadi harga beras akan meruncing ke barang lain, sehingga daya beli masyarakat turun,” jelas Bambang di itu. Workshop Kader Muhammadiyah bertema ‘Prospek Perekonomian Indonesia 2025’ di Jakarta, Rabu (20/11/2024).
Bambang juga menyoroti inflasi pangan yang terkadang mencapai 10 persen menjadi beban terbesar. Selain itu, kenaikan harga barang impor akibat fluktuasi nilai tukar dolar juga memperburuk keadaan. Dengan nilai tukar yang menyentuh Rp16.000 per dolar AS, biaya produksi meningkat sehingga memicu kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.
Selain inflasi pangan, pengeluaran besar seperti perumahan dan transportasi juga memberikan tekanan pada kelas menengah. Menurut Bambang, harga BBM yang terus naik dan tingginya cicilan rumah menambah beban perekonomian masyarakat.
“Biaya hidup yang terus meningkat menyulitkan banyak orang, terutama mereka yang bergantung pada pendapatan tetap atau kecil. Jika pemerintah tidak memberikan subsidi atau solusi sosial yang memadai, keluarga-keluarga tersebut akan semakin menderita,” ujarnya.
Selain itu, perubahan pascapandemi juga mendorong banyak masyarakat keluar dari zona aman kelas menengah. Ia mencontohkan sebuah keluarga yang dulunya memiliki penghasilan Rp 30 juta per bulan dari bisnis jasa pernikahan, namun kini bertahan hanya dengan bekerja serabutan karena bisnisnya belum sepenuhnya pulih.
Menyikapi tantangan tersebut, Bambang menekankan perlunya kebijakan yang tidak hanya memberikan bantuan sosial tetapi juga memperbaiki struktur perekonomian.
“Kita perlu membuat kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan infrastruktur dasar, seperti transportasi umum dan perumahan. Kebijakan perpajakan juga harus adil, sehingga tidak hanya menguntungkan segelintir pihak, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat kelas menengah untuk bertahan dan untuk tumbuh, dan juga harus fokus pada peningkatan infrastruktur dasar, seperti transportasi umum dan perumahan,” kata Bambang.
Artikel Bambang Brodjonegoro: Kelas Menengah Indonesia Tergerus oleh Biaya Hidup yang Melonjak pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Bank Indonesia Catat Indeks Keyakinan Konsumen Turun pada Oktober 2024 pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Survei konsumen perbankan Indonesia bulan Oktober 2024 menunjukkan kepercayaan konsumen terhadap kondisi perekonomian masih optimis. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (CII) Oktober 2024 yang tercatat sebesar 121,1,” kata Ramdan Danny Prakoso, Direktur Eksekutif Bank Indonesia. Departemen Komunikasi BI, demikian keterangan resmi, Senin (11/11/2024).
Denny mencatat, terjaganya kepercayaan konsumen pada Oktober 2024 ditopang oleh indeks kondisi perekonomian saat ini (IKE) dan indeks ekspektasi konsumen (IEK) masing-masing sebesar 109,9 dan 132,4.
Revisi IKE Oktober 2024 didukung oleh indeks pendapatan saat ini, indeks ketersediaan lapangan kerja, dan indeks pembelian barang tahan lama yang berada dalam wilayah menjanjikan masing-masing sebesar 117,9, 104,7 dan 107,0 – jelas.
Ekspektasi responden terhadap pendapatan saat ini masih kuat untuk semua pengeluaran dan kelompok umur. Tingkat tertinggi tercatat pada pengeluaran responden di atas Rp5 juta dan kelompok umur 20-30 tahun, demikian laporan BI.
Pada saat yang sama, pendapat responden tentang mencari pekerjaan kini berbeda-beda. Berdasarkan kelompok pendidikan, penurunan indeks secara keseluruhan terjadi pada jenjang pendidikan SMA, Perguruan Tinggi, Sarjana, dan Pascasarjana. Sementara itu, indeks tenaga kerja kelompok umur hanya meningkat pada kelompok umur 20-30 tahun dan di atas 60 tahun.
Terkait kepercayaan konsumen untuk membeli barang tahan lama, peningkatan pengeluaran hanya terjadi antara Rp 1 – Rp 2 juta, dan sisanya mengalami penurunan. Sementara itu, menurut kelompok umur, terjadi penurunan indeks pembelian barang tahan lama.
Laporan BI juga memperkirakan ekspektasi konsumen terhadap kondisi perekonomian akan tetap kuat selama enam bulan ke depan. Hal ini tercermin dari IEK Oktober 2024 yang berada pada zona menjanjikan 132,4. Indikator-indikator tersebut didukung oleh optimisme seluruh sektor, yaitu perkiraan pendapatan, lapangan kerja, dan kegiatan usaha masing-masing sebesar 138,4, 129,5, dan 129,2.
“Belanja responden antara Rp1 juta-Rp3 juta hingga lebih dari Rp5 juta pada Oktober 2024 mengalami peningkatan ekspektasi konsumen terhadap pendapatan di masa depan. Dari sisi usia, pertumbuhan indeks tercatat pada kelompok usia 20-an. 50,” tulisnya.
Sementara itu, ekspektasi konsumen terhadap perolehan pekerjaan dalam enam bulan ke depan dikatakan berada pada zona optimis untuk semua jenjang pendidikan. Perkiraan indeks tenaga kerja kelompok umur hanya meningkat pada kelompok umur 20-30 dan 41-50 tahun.
Setelah itu, ekspektasi nasabah terhadap pengembangan bisnis ke depan tercatat meningkat pada tingkat pembelanjaan Rp2,1 juta-Rp3 juta dan Rp4,1 juta-Rp5 juta. Usia puncak tercatat pada usia 20-30 tahun.
Artikel Bank Indonesia Catat Indeks Keyakinan Konsumen Turun pada Oktober 2024 pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Presiden dan Dewan Ekonomi Nasional Bahas Pertumbuhan Kuartal IV pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Diskusi lebih lanjut bagaimana cara memberikan pertumbuhan di kuartal keempat. Karena angka kuartal ketiga sudah diumumkan, memang benar angkanya sedikit di bawah 5 persen. “Jadi bagaimana kita bisa mengambil langkah di kuartal keempat untuk mempertahankan pertumbuhan. ,” kata Wakil Presiden DEN Mari Elka Pangestu di Istana Kepresidenan Jakarta.
Elka Mari mengatakan, pihaknya telah memberikan beberapa rekomendasi untuk menjaga daya beli masyarakat kelas menengah yang kini melemah. Berdasarkan analisis DEN, melemahnya daya beli masyarakat kelas menengah menyebabkan penurunan konsumsi pada kuartal III.
“Peningkatan konsumsinya sebesar 4,9 persen, relatif rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, kata dia, ini terendah dalam 13 tahun terakhir. Jadi menjaga daya beli menjadi salah satu rekomendasi kami,” jelasnya.
Selain itu, Elka Mari yang juga merupakan utusan khusus presiden untuk perdagangan internasional dan kerja sama multilateral mengatakan DEN juga merekomendasikan optimalisasi belanja pemerintah yang dapat mendorong pertumbuhan.
Dan yang terakhir, dalam jangka pendek dan menengah, bagaimana memperbaiki dan memperbaiki lingkungan investasi. Karena tentu saja harus tumbuh. – Kita butuh investasi lebih banyak – jelas Mari Elka.
Sementara untuk kebijakan yang berdampak langsung kepada masyarakat, Mari Elka mengatakan DEN akan mencari program insentif seperti bantuan langsung tunai (BLT) yang selama ini digunakan.
“Masalahnya, harga pangan masih tergolong tinggi dan kita khawatir inflasi akan meningkat jika harga minyak dunia naik. Dan yang penting, dari semua angka, daya beli sepertinya melemah. Jadi di level menengah sebagian besar adalah bagus, di tingkat bawah sudah ada bansos, itu BLT. Beginilah seharusnya kelas menengah diperlakukan. “Nanti bisa kita diskusikan programnya seperti apa,” ujarnya.
Lebih lanjut, terkait pengalihan subsidi ke BLT, Elka Mari mengatakan hal tersebut masih perlu dikaji guna mewujudkan tujuan utama subsidi untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah.
“Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa dukungan yang diberikan, yaitu membantu masyarakat berpenghasilan rendah, sesuai dengan peruntukannya. Baik itu penurunan harga melalui subsidi, bantuan langsung, atau kombinasi keduanya. dipelajari,” jelasnya.
Artikel Presiden dan Dewan Ekonomi Nasional Bahas Pertumbuhan Kuartal IV pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Soal PPN Naik Jadi 12 Persen, Pengamat Nilai Inflasi pada 2025 akan Menuju 3 Persen pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Menaikkan PPN menjadi 12 persen akan mendorong inflasi. Kalau perhitungan kami, tahun depan dampaknya sekitar 3 persen,” kata Joshua dalam acara Permata bertajuk “Redefining Wealth Development” di Jakarta Pusat, saat menghadiri Bank Wealth Wisdom. Wilayah, Senin (18/11/2024).
Angka tersebut masih dalam batas sasaran inflasi yang ditetapkan Bank Indonesia (BI). Jurus kebijakan moneter BI diketahui menetapkan sasaran inflasi sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen pada tahun 2024 dan 2025.
“Tetapi menurut perhitungan kami, kenaikan inflasi tidak akan signifikan. Masih dalam kisaran sasaran inflasi BI,” ujarnya.
Joshua mengatakan, kebijakan kenaikan PPN dari 11% menjadi 12% tidak signifikan menjadi faktor kenaikan inflasi akibat pengecualian perpajakan pada sektor primer.
“Tidak signifikan karena ada beberapa elemen yang dikecualikan, seperti pertama kebutuhan pokok, lalu layanan pendidikan, kemudian layanan kesehatan,” jelasnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Maliani memastikan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) akan ditetapkan sebesar 12 persen. Hal ini sesuai dengan ketentuan harmonisasi peraturan perundang-undangan perpajakan. Saat ini tarif PPN sebesar 11 persen.
Artikel Soal PPN Naik Jadi 12 Persen, Pengamat Nilai Inflasi pada 2025 akan Menuju 3 Persen pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Indef: Kenaikan Harga MinyaKita Bisa Berimbas ke Harga Barang Inflasi pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Esther, Senin (18 November 2024), mengatakan, “(Kenaikan harga MinyaKita) pasti berdampak pada kenaikan harga komoditas dan berpotensi meningkatkan inflasi.”
Esther menilai kenaikan harga Minya Kita berpotensi meningkatkan biaya produksi barang sehingga perlu dilakukan pengendalian harga, terutama menjelang Natal tahun 2024 dan Tahun Baru 2025, saat permintaan pangan meningkat.
Ia meyakini kenaikan biaya produksi kemungkinan besar akan meningkatkan harga jual produk di tingkat konsumen sehingga meningkatkan daya beli masyarakat.
Dampak kenaikan harga MinyaKita akan meningkatkan biaya produksi dan meningkatkan harga jual produknya, ujarnya.
Esther berpendapat fenomena tersebut merupakan salah satu bentuk cost-driven inflasi, dimana kenaikan biaya produksi menyebabkan harga komoditas naik dan memperparah inflasi.
Karena kenaikan harga komoditas tidak dapat dihindari, konsumen kemungkinan besar akan merasakan dampak lebih lanjut, terutama pada produk-produk yang mengandalkan minyak goreng. “Ini disebut inflasi dorongan biaya,” jelasnya.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Esther mengusulkan tiga langkah utama, yakni menjaga harga bahan bakar tetap stabil, memastikan kelancaran distribusi minyak, dan memastikan pasokan minyak goreng mencukupi.
Ia percaya bahwa menstabilkan harga pangan dan kelancaran distribusi adalah kunci untuk mengendalikan dampak inflasi, yang dapat merugikan pengusaha kecil dan konsumen pada umumnya.
Melalui langkah-langkah strategis tersebut, diharapkan pemerintah mampu menurunkan inflasi menjelang Natal dan Tahun Baru, menjaga kelangsungan usaha kecil, dan melindungi daya beli masyarakat.
Artikel Indef: Kenaikan Harga MinyaKita Bisa Berimbas ke Harga Barang Inflasi pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Kenaikan PPN 12 Persen, PHRI: Waktunya Tidak Tepat pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Saat dihubungi Republika.co.id di Jakarta, Senin (18), ia mengatakan, “Menurut kami, kenaikan PPN menjadi 12 persen bukanlah saat yang tepat karena situasi saat ini kurang baik, terutama dari sisi pembelian masyarakat. kekuasaan,” (11/2024).
Maulana mengingatkan pemerintah, sektor pariwisata sangat bergantung pada daya beli masyarakat. Maulana mengatakan kenaikan PPN sebesar 12 persen akan berdampak besar bagi dunia usaha dan masyarakat.
“Kenaikan PPN otomatis berdampak pada kenaikan harga. Permintaan hotel yang memiliki banyak rantai pasok pasti akan meningkat,” kata Maulana.
Maulana mengatakan kenaikan PPN sebesar 12 persen akan berdampak pada salah satu komponen penting industri pariwisata, khususnya penerbangan. Maulana menilai hal ini akan semakin menyurutkan semangat masyarakat untuk berlibur karena destinasi wisata memiliki biaya perjalanan yang tinggi pada sektor transportasi dan akomodasi.
“Bila berbicara tentang pariwisata,Harus berkaitan dengan sektor transportasi, terutama penerbangan, yang merupakan hambatan besar bagi pertumbuhan pariwisata Khususnya wisatawan dalam negeri (bisnis) dan ini pasti berdampak pada harga karena semuanya kena PPN, lanjut Maulana.
Maulana menyayangkan keputusan pemerintah yang tidak peka terhadap kondisi dunia usaha dan masyarakat saat ini. Maulana mengatakan, para pelaku usaha menantikan libur Natal dan Tahun Baru untuk meningkatkan pendapatan.
“Kenaikan PPN 12 persen baru berlaku mulai awal tahun 2025, namun PPN 11 persen yang berlaku saat ini menjadi kendala kenaikan harga tiket kereta api, udara, dan barang yang menghabiskan banyak uang. pemerintah juga,” kata Maulana.
Artikel Kenaikan PPN 12 Persen, PHRI: Waktunya Tidak Tepat pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Pemerintah Harus Pastikan Penerimaan PPN 12 Persen Kembali ke Rakyat pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Kenaikan tarif pajak menjadi 12 persen tentu akan mendatangkan tambahan pendapatan yang sangat besar. Untuk selanjutnya, pemerintah harus memastikan tambahan pendapatan berupa fasilitas umum dan kesejahteraan sosial tersalurkan kepada masyarakat kelas menengah ke bawah. “Saat itu akhir pekan saya menghubungi Fajri.
Menurut dia, pemerintah harusnya memberikan manfaat lebih kepada masyarakat menengah ke bawah setelah menerapkan kebijakan pajak 12 persen.
Misalnya, jika kenaikan pajak yang dibayarkan kepada pemerintah oleh kelas menengah sebesar Rp200, maka pemerintah harus mengembalikan manfaat senilai Rp250 kepada kelompok tersebut, ujarnya.
“Ini posisi yang bagus untuk kelas menengah,” katanya.
Direktur Eksekutif Institute for Economic Development and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengusulkan subsidi bunga pinjaman bank, beasiswa sekolah, dan insentif dunia usaha untuk mengurangi tekanan sosial akibat kebijakan pajak 12 persen.
Ia berpendapat bahwa mendorong kewirausahaan penting untuk menghindari risiko keruntuhan ekonomi.
Sementara itu, Kepala Ekonom Bank Parmata Joshua Parde menyarankan bantuan sosial dan insentif sebagai langkah untuk meringankan tekanan kenaikan PPN.
Kebijakan bantuan sosial diharapkan dapat membantu mengimbangi penurunan daya beli masyarakat akibat kenaikan harga barang dan jasa.
Artikel Pemerintah Harus Pastikan Penerimaan PPN 12 Persen Kembali ke Rakyat pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel PPN 12 Persen, Ekonom Minta Pemerintah Buat Kebijakan Pro Daya Beli pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Pemerintah harus mengambil kebijakan yang tepat untuk membeli listrik, bukan menekan daya beli masyarakat,” kata Hooda saat dihubungi di Jakarta, Jumat (15/11/2024).
Menurut dia, kenaikan tarif PPN pada tahun depan merupakan keputusan yang salah, karena daya beli masyarakat masih terdampak.
Penerapan PPN 12 persen berpotensi menurunkan pendapatan disposabel masyarakat. Hal ini dianggap berbanding terbalik dengan pertumbuhan ekonomi.
Ditambahkannya: “Daya beli masyarakat juga akan hilang. Dampak terburuknya adalah pengangguran akan meningkat. Kesejahteraan masyarakat akan sangat terbatas.”
Huda mengakui banyak negara Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) yang menerapkan tarif PPN lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Namun ada juga negara yang tarif PPNnya lebih rendah, seperti Kanada yang sebesar 5 persen.
“Jadi, Anda tidak perlu melihat tarif PPN yang tinggi. Ada banyak negara yang tarifnya lebih rendah.”
Ia berharap pemerintah membatalkan kebijakan PPN 12 persen pada tahun depan. Lebih lanjut dia mengatakan, pemerintah sebaiknya memberikan insentif kepada masyarakat kelas menengah berupa subsidi konsumsi.
“Jika diterapkan (kenaikan tarif PPN) akan meningkatkan kerentanan konsumsi rumah tangga,” kata Hooda. “Dalam jangka pendek, hal itu dapat mengganggu perekonomian makro.”
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulani Andrawati mengatakan rencana kenaikan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 12 persen pada 1 Januari 2025 akan dilaksanakan sesuai ketentuan Undang-Undang (UU).
Salah satu gagasannya adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus tetap sehat, sekaligus mampu bertindak merespons berbagai krisis.
Namun dalam penerapannya ke depan, Kementerian Keuangan (Kemenkyo) akan berhati-hati dan berupaya memberikan penjelasan yang lebih baik kepada masyarakat.
“UUnya sudah ada. Kita harus bersiap untuk melaksanakannya (PPN 12 persen) tapi dengan kejelasan yang baik,” ujarnya.
Artikel PPN 12 Persen, Ekonom Minta Pemerintah Buat Kebijakan Pro Daya Beli pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>