Artikel Viral Video Pemukulan Siswa Saat Tanding Basket, KemenPPPA Tekankan Soal Sportivitas pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Keterampilan olahraga mengajarkan anak -anak tentang kejujuran, kerja sama, lawan dan protes dengan serangkaian saingan. Semoga bagi pengembangan anak -anak untuk mengembangkan anak -anak untuk anak -anak, yang kedua (2/200/2025) kami berharap nilainya sporty, selalu nilai -nilai yang sporty.
Dia mengatakan ini.
Pada titik ini, dianggap bahwa ia dapat mengobati serangan dalam pengembangan olahraga dalam pengembangan olahraga. Karena ini mungkin menjadi bagian dari alam semesta dan ini mungkin masalah serius dalam mempersiapkan atlet profesional di masa depan.
Hampir diatur dengan Papa dalam Layanan Wanita dan Anak -anak (SAAPA) dan memastikan bahwa korban telah didukung. Salah satu peserta, kami sedang dibangun kembali dengan Marti Walio Cbuong Mymoong antara Marpn 1.
Berpartisipasi dalam kontes bola basket di Amerika Serikat. Dalam waktu yang tepat, RC ditangkap di kamera.
Selain Amerika Serikat, pemain lain di perusahaan SMPN 1 juga terpengaruh dalam pertandingan, tetapi mereka belum terdaftar di kamera. Puisi itu terjadi pada posisi yang sesuai dan pemain dan grup segera terdaftar.
Hakim segera menghapus RC dengan menghapus RC dari Bush dan menghalangi permainan. Aplikasi tersebar di media sosial.
Artikel Viral Video Pemukulan Siswa Saat Tanding Basket, KemenPPPA Tekankan Soal Sportivitas pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel CIRCLE NEWS Cegah Kekerasan Seksual, Orang Tua dan Sekolah Diminta Lebih Awasi Anak pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Orang tua dan pimpinan sekolah, kepala sekolah, guru dan staf harus lebih memantau anak-anak dalam kegiatan belajar dan belajar karena anak-anak rentan sehingga sering menjadi sasaran pelecehan seksual,” kata Wakil Direktur Departemen Perlindungan Khusus Anak Kementerian PPPA . . , Siang. , saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (28 Mei 2024).
Baru-baru ini ada kasus pelecehan seksual terhadap dua anak yang dilakukan oleh seorang guru olahraga di Pariaman, Sumatera Barat. Kasus tersebut kini ditangani kepolisian Paris.
Pelaku ditangkap polisi dan ditetapkan sebagai tersangka, sedangkan kedua korban mendapat layanan dari Unit Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kota Pariaman. Nahar mengatakan: “Kami sangat prihatin dan mengutuk perilaku kekerasan guru olahraga di Kota Pariaman. Kekerasan terhadap anak merupakan pelanggaran hak anak yang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun.”
Sementara itu, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Pariaman sedang melakukan penyelidikan terhadap kemungkinan adanya korban lainnya. Nahar juga mendorong agar proses hukum terhadap pelaku kejahatan harus dilakukan secara cepat dan adil.
KemenPPPA akan mengawal penanganan kasus ini hingga anak korban mendapatkan keadilan yang setimpal. “KemenPPPA akan menindaklanjuti kasus ini hingga tuntas, apalagi korbannya masih anak-anak. Semua anak adalah anak kita dan harus kita jaga dan lindungi bersama-sama,” kata Nahar.
Artikel CIRCLE NEWS Cegah Kekerasan Seksual, Orang Tua dan Sekolah Diminta Lebih Awasi Anak pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel CIRCLE NEWS KPAI: Kesehatan Mental Anak Harus Diperhatikan Bersama pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Permasalahan kesehatan mental anak merupakan permasalahan yang perlu ditangani bersama,” kata Presiden KPAI Ai Mariati Solih di Jakarta, Senin (20 Mei 2024).
Mengingat, menurutnya, pemenuhan hak anak tidak sepenuhnya sejalan dengan hak kesehatan anak untuk mengakses layanan yang aman, berkualitas, ramah anak, dan tidak diskriminatif, sehingga hal ini dinilai penting. Salah satu permasalahan yang banyak dihadapi anak-anak saat ini adalah situasi kekerasan yang disebabkan oleh kesehatan mental anak yang tidak terkendali sehingga memerlukan rehabilitasi.
Ai Mariati Solih menyambut baik Nota Kesepahaman antara KPAI dan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) tentang Sinergi Perlindungan Anak, yang merupakan inisiatif berkelanjutan yang dimulai pada tahun 2018. Nota kesepahaman tersebut mencakup peningkatan atau peningkatan pengetahuan tentang perlindungan anak melalui pendekatan psikologis, penetapan kebijakan perlindungan anak dari sudut pandang psikologis, peningkatan layanan psikologis dalam pemantauan kasus anak, dan pertukaran data dan informasi mengenai perlindungan anak.
Ai Mariati Soliha mengatakan, kekerasan terhadap anak tidak hanya berdampak pada korbannya, namun juga pelaku dan lingkungannya. Melalui MOU ini, KPAI berharap HIMPSI terus memberikan dukungan reintegrasi berkelanjutan kepada korban dan pelaku kekerasan.
“Rehabilitasi seringkali hanya berfokus pada korban atau pelaku kekerasan, dan untuk meminimalkan kekerasan terhadap anak, rehabilitasi harus diberikan kepada kedua belah pihak,” ujarnya.
Artikel CIRCLE NEWS KPAI: Kesehatan Mental Anak Harus Diperhatikan Bersama pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel JAHANGIR CIRCLE Jadi Bapak Kasar di Film Terbaru, Surya Saputra: Ini Bukan Saya Banget pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Aktor Suriya Saputra berbagi pengalamannya memerankan ayah Pras yang kejam dalam film Hlaklah Sekali Saja Kumenangis. Menurut Surya, karakter tersebut sangat sulit karena bertolak belakang dengan kepribadiannya.
“Sebenarnya bukan aku. “Main fisik saja tidak bisa, apalagi membentak keluarga,” kata Suriya dalam jumpa pers di XXI Jakarta, Kamis (10/10/2024).
Namun Surya mengaku jatuh hati dengan cerita yang dituturkan dalam film tersebut sehingga menerima tawaran untuk tampil di Mai Once. Selain itu, Suriya menilai film tersebut bisa menjadi upaya untuk melawan racun maskulinitas yang masih ada di masyarakat.
Istilah maskulinitas beracun adalah tekanan budaya terhadap laki-laki untuk bertindak dan berperilaku dengan cara tertentu. Istilah tersebut biasanya dikaitkan dengan nilai-nilai yang dianggap maskulin, seperti laki-laki tidak boleh mengeluh, laki-laki harus menghindari kekerasan, unjuk kekuatan dan ekspresi emosi.
Seperti tokoh Pras, kata Suriya, laki-laki kerap menghadapi masalahnya sendirian dan tak mau mengungkapkan perasaannya. Akibatnya, ketika beban menjadi terlalu berat, mereka melimpahkan permasalahan tersebut kepada keluarga.
“Sebenarnya ada masalah dengan Pras tapi dia menolak, jadi dia menyalahkan keluarganya. Perlu dicatat di sini bahwa tidak apa-apa bagi pria untuk menangis dan membicarakan masalahnya. “Jangan takut terlihat lemah, jangan sampai kamu jadi seperti Pras,” kata Surya.
FYI, Once Kumenangis berkisah tentang Tara (Prily Latuconsina) yang harus berjuang sendirian menyelamatkan ibunya (Dominic Sanda) dari ayahnya yang kejam (Sur I Saputra) setelah kakak perempuannya meninggalkan rumah. Penari yang banyak menderita luka sejak kecil ini tidak mampu lagi menanggung beban tersebut. Ditemani Bhaskara (Dikto Wichakson), Tari berusaha mengatasi traumanya.
Disutradarai oleh Rec Vijay, film ini juga dibintangi oleh Vidi Mulia sebagai Nina, Umi Quari sebagai Iki, Christa Emmanuel sebagai Agoya, Gracia JKT48 sebagai Sara, dan Antonio Blanco sebagai Dimash. Ide cerita “Hanya Kumenangis” diciptakan oleh Umay Shahab, Prili Latukonsina dan Eunice Aurelita. Sedangkan skenarionya ditulis oleh Eunice Aurelita.
Artikel JAHANGIR CIRCLE Jadi Bapak Kasar di Film Terbaru, Surya Saputra: Ini Bukan Saya Banget pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel JAHANGIR CIRCLE KemenPPPA: Sosialisasi Sanksi Hukum Kekerasan Terhadap Anak Perlu Digencarkan pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Deputi Bidang Khusus Anak menambahkan, “Perlu diupayakan untuk mendorong sanksi hukum yang lebih kuat jika kekerasan dilakukan oleh orang tua terhadap anak, sehingga diharapkan dapat menimbulkan dampak kontra produktif dan mencegah kasus serupa terulang kembali di kemudian hari. Bisa,” kata Wakil Khusus Anak. Pengamanan di Kementerian PPPA di Jakarta, Jumat (17/5/2024).
Hal itu ia sampaikan menanggapi kasus kekerasan terhadap anak yang mengakibatkan kematian anak oleh salah satu orang tuanya yang baru-baru ini terungkap.
Nahar mengatakan setiap anak mempunyai kerentanan, termasuk mengalami kekerasan dari orang tuanya. Hal ini disebabkan oleh faktor internal dan eksternal.
“Dari dua kasus tersebut, ternyata orang tua tidak bisa mengendalikan emosinya dengan baik ketika menerima pemicu, dimana pemicunya bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti ekonomi, sosial (kecemburuan, hubungan antar pasangan), atau karakter/psikologis. . katanya.
Sebelumnya, ayah bernama Rendra Adi Prasetyo (29) menganiaya anak semata wayangnya bernama M (3) hingga korban meninggal dunia di Tulungagung, Jawa Timur, Minggu (12/5/2024) sore.
Pembunuhan itu terjadi setelah tersangka kembali dari Taiwan. Diduga tersangka mengalami depresi saat bekerja sebagai buruh migran dan merasakan keinginan untuk membunuh anaknya.
Sementara di Sumut juga terdapat kasus kekerasan terhadap anak yang menyebabkan meninggalnya anak korban berinisial A (5) di tangan ayahnya, Baginda Siregar (26). Tersangka Baginda ditolong istrinya, ibu kandung korban, dan adik pelaku, setelah membuang jenazah korban di Tapanuli Utara untuk menghilangkan bekas lukanya.
Peristiwa tersebut terjadi pada 9 Maret 2023 dan terungkap setelah ibu korban menyerahkan diri ke polisi pada 6 Mei 2024.
Mulanya terjadi pertengkaran antara Maharaj dan istrinya. Perkelahian terjadi karena korban bercerita kepada ayah tirinya bahwa ibunya sering video call dengan pria lain.
Ibunya membantahnya. Pelaku emosi dan terus menganiaya korban hingga tewas.
Artikel JAHANGIR CIRCLE KemenPPPA: Sosialisasi Sanksi Hukum Kekerasan Terhadap Anak Perlu Digencarkan pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>