Artikel PLN Butuh 235 Miliar Dolar AS Bangun 100 Pembangkit Baru Hingga 2040 pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Persoalannya bukan hanya teknis tapi juga pendanaan. Berdasarkan proyek pengembangan energi terbarukan (EBT) terbaru di Indonesia, diharapkan pada tahun 2040 PLN akan membangun tambahan pembangkit listrik sekitar 100 gigawatt. Menurut Hashim Jojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden untuk Perubahan Iklim dan Energi, 75 persen di antaranya adalah EBT.
Volume investasi yang dibutuhkan mencapai 235 miliar dollar AS. Pertanyaannya, bagaimana PLN mendanai hal tersebut dengan tetap menjaga tiga tema besar yaitu keberlanjutan, keterjangkauan, dan keandalan?
CFO PLN Cynthia Rosley merinci apa yang dipertaruhkan. Awalnya dia berbicara terkait pembiayaan. Ia bersyukur perusahaannya mempunyai banyak pendukung.
“Jadi kami sangat mengapresiasi, kami menandatangani Memorandum of Understanding (MoU),” kata Cynthia di Paviliun Indonesia pada Conference of the Parties (COP) ke-29 di Baku, Azerbaijan, Rabu (13/11/2024).
Ia mencontohkan, hari ini PLN menandatangani nota kesepahaman senilai sekitar 1,2 miliar USD. Perusahaan ini membiayai beberapa proyek seperti sistem transmisi di Sulawesi dan stasiun pompa air di Sumatera dan Jawa. Ini adalah langkah penting dalam metabolisme energi.
Ia melanjutkan, jika pemotongan hanya dilakukan 10 tahun ke depan, maka PLN memerlukan dana sebesar $110 miliar. Tahun lalu, BUMN ini meraup sekitar USD 32 miliar. Tentu masih dibutuhkan dana yang besar.
“Kami akan melakukan segalanya untuk pembiayaan, kami memiliki mitra bilateral seperti KfW (Jerman), AFD (Prancis), JICA (Jepang) dan semua pihak yang mendukung PLN hingga saat ini. Juga lembaga multilateral seperti Bank Dunia, Asian Development Bank (ADB), Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB),” kata Cynthia.
Ia juga menyebut beberapa pihak lainnya. Menurut Cynthia, maksimalkan segala sesuatunya secepat mungkin. Mereka perlu menangkap permintaan dan meningkatkan sisi bisnis, baik dalam bentuk proyek PLN maupun IPP atau kemitraan swasta.
Dalam kasus serupa, Cynthia juga menyinggung aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang sudah menjadi praktik nyata di PLN. Selama empat tahun terakhir, PLN telah meningkatkan peringkat ESG-nya, memastikan bahwa pemberi pinjaman yakin dengan apa yang dilakukan perusahaan.
“Jadi kami tidak hanya menyelesaikan perencanaan, rencana pembangunan infrastruktur, tetapi kami juga membangun kapasitas organisasi untuk memiliki pola pikir yang benar tentang ESG,” kata CFO PLN.
Dia menegaskan, pihaknya memahami kekhawatiran investor dan kreditor terhadap hal tersebut. Rencana emisi karbon yang kredibel sangatlah penting.
Artikel PLN Butuh 235 Miliar Dolar AS Bangun 100 Pembangkit Baru Hingga 2040 pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel JAHANGIR CIRCLE Pemanfaatan Biomassa untuk Co-Firing di PLTU Bisa Jadi Peluang Ekonomi bagi Masyarakat pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Co-firing, proses pencampuran biomassa dan batu bara pada pembangkit listrik berbahan bakar fosil, dapat menciptakan lapangan kerja dan mendukung perekonomian lokal dengan memanfaatkan kembali limbah pertanian, kehutanan, atau perkebunan,” ujarnya, Rabu (16.10/). 2024).
Defian melanjutkan, co-firing tidak hanya mengurangi emisi karbon, namun juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal. Biomassa didaur ulang dari limbah pertanian, yang kemudian dijual masyarakat untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
“Jika masyarakat memahami nilai ekonomi dari sampah yang dihasilkan, maka dapat meningkatkan pendapatan utama daerah (PAD) dan membantu mengurangi emisi karbon,” ujarnya.
Oleh karena itu, Defian merekomendasikan pemerintah memberikan dukungan berupa subsidi dan insentif agar biomassa tetap kompetitif di pasar dalam negeri. Pasalnya pada tahun 2022 saja, Indonesia akan mengekspor sekitar 500.000 ton wood pellet dan 4,5 juta ton cangkang sawit.
“Jika harga di dalam negeri lebih menarik, bahan-bahan tersebut bisa digunakan untuk pembakaran bersama di dalam negeri,” tambahnya.
Defiyan menegaskan, dengan dukungan yang tepat, co-firing tidak hanya dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, namun juga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Oleh karena itu, pemerintah khususnya Kementerian ESDM harus mengambil langkah proaktif untuk memperluas pemanfaatan teknologi tersebut sebagai alternatif impor energi yang selama ini menguras devisa negara.
“Ini bisa menjadi alternatif impor minyak dan bahan bakar yang telah menguras devisa sebesar Rp126,4 triliun pada pertengahan tahun 2024,” tutupnya.
Kebetulan sebagian besar PLTU kini sudah menggunakan teknologi co-firing, yakni mencampurkan batu bara dengan sumber energi terbarukan seperti serbuk gergaji, sekam padi, dan sekam sawit.
Pada tahun 2023, pemanfaatan biomassa dalam co-firing akan memberikan hasil yang signifikan. Berkat penurunan emisi karbon dioksida sebesar 1,05 juta ton CO2 dan peningkatan produksi energi sebesar 1,04 terawatt-jam (TWh), angka tersebut meningkat sebesar 77 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Artikel JAHANGIR CIRCLE Pemanfaatan Biomassa untuk Co-Firing di PLTU Bisa Jadi Peluang Ekonomi bagi Masyarakat pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>