Artikel Ekonom Soroti Insentif Bansos Sebagai Bantalan Kenaikan PPN 12 Persen pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Hal ini sesuai dengan ketentuan UU No. 7 Tahun 2021 tentang Peraturan Harmonisasi Perpajakan (UU HPP). Akhir-akhir ini mungkin saja terjadi penundaan. Demikian pernyataan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan.
Bhima mengingatkan masyarakat, pemerintah tidak membatalkan atau membatalkan begitu saja. Artinya, tarif PPN sebesar 12 persen akan terus berlaku pada tahun 2025.
Menurut dia, rencana pemerintah untuk memberikan bantuan sosial terlebih dahulu sebagai insentif atau subsidi kepada masyarakat menengah ke bawah masih merupakan kebijakan yang berisiko tinggi.
“Kalau dukungan diberikan, 2-3 bulan kemudian tarif PPN naik menjadi 12 persen, dampaknya terhadap perekonomian akan negatif. Dukungan tersebut hanya bersifat sementara, dan kenaikan tarif PPN sebesar 12 persen akan berdampak jangka panjang,” kata Bhima kepada Republika, Kamis (28/11/2024).
Ia menilai tidak semua kelompok masyarakat yang terdampak kenaikan PPN, khususnya masyarakat menengah, mendapat kompensasi. “Hampir tidak mungkin, jumlah masyarakat kelas menengah yang disebut kelas menengah yang hanya berkeinginan sebanyak 137,5 juta orang. Besaran alokasi dukungan sosialnya juga tidak jelas,” ujarnya.
Sementara itu, jelas Bhima, kenaikan inflasi terjadi bahkan sebelum kebijakan tarif PPN 12 persen berlaku pada Januari 2025. Situasi inflasi sebelum perjanjian atau inflasi sebelum tarif pajak baru. Pra-inflasi adalah akibat dari perilaku beberapa pengecer dan produsen yang mengubah label harga untuk mempertahankan margin keuntungan sebelum tarif PPN baru diterapkan.
Kekhawatiran terhadap pra-inflasi terlihat dari perkiraan kenaikan harga pada akhir tahun 2024 hingga triwulan I tahun 2025, serta laju musim libur Tahun Baru yang tercermin dari penerapan PPN 12 persen. . Inflasi preemptive akan membuat perkiraan inflasi lebih tinggi dibandingkan tahun 2024.
Direktur Kebijakan Publik CELIOS, Media Wahyu Askar pun turut angkat bicara. Menurutnya penundaan itu hanya tiga bulan. Ia menilai hal ini merupakan strategi pemerintah untuk meminimalisir kritik masyarakat.
“Tetapi pada dasarnya hanya mengubah waktu pelaksanaannya saja,” kata Wahyu.
Ia menjelaskan, bantuan sosial hibah yang diberikan sebagai kompensasi di awal penerapan kenaikan tersebut belum bisa sepenuhnya mengimbangi dampak negatif yang muncul terhadap masyarakat, khususnya masyarakat menengah ke bawah. Kenaikan PPN yang reaktif ini merupakan beban terbesar bagi kelompok rentan, karena sebagian besar pendapatannya dialokasikan untuk konsumsi kebutuhan pokok yang menyebabkan kenaikan harga.
Sebelumnya, Ketua DEN Luhut Pandjaitan mengatakan kenaikan PPN ditunda karena pemerintah berencana memberikan insentif kepada masyarakat terlebih dahulu. Lebih spesifiknya, berupa bantuan sosial kepada masyarakat menengah ke bawah. Kelompok inilah yang paling terkena dampak dari permasalahan ini.
Namun, dukungan sosial yang diberikan bukan berupa bantuan langsung finansial (BLT). Pemerintah ingin memberikan subsidi listrik.
Anggaran bansos ini disiapkan melalui APBN. Nantinya, rencana distribusinya akan segera siap. Dia mengerti ketika kesepakatan pro terjadi.
Kalangan menengah ke bawah dan berbagai elemen lainnya menolaknya. Menurut Luhut, hal ini dikarenakan banyak masyarakat yang belum sepenuhnya mengetahui bagaimana pengendalian kenaikan PPN ini.
Direktur Pengembangan Big Data Institute for Economic Development and Finance (INDEF) Eko Listiyanto merasa perlu mengkritisi hal tersebut. Ia sudah sering menyampaikan pandangannya ke publik. Ia akan terus melakukan hal yang sama jika tidak ada perubahan.
Menurut Eko, saat ini situasi perekonomian sedang melemah. Dia terkejut bahwa pemerintah masih mempertahankan apa yang diputuskannya. Kenaikan PPN berdampak pada banyak orang.
“Ibaratnya turun tangga, dan yang lebih penting, di mana sensitivitas para pengambil kebijakan terhadap keadaan perekonomian,” kata Eko dalam debat yang digagas INDEF bertajuk “Tantangan Kabinet” Tanah: Tingkatkan Daya Beli, Dukung Dunia Usaha. ”, di Jakarta, Kamis (21/11/2024).
Sebagai seorang analis data besar, dia peduli dengan operasi jaringan. Banyak netizen yang menentang rencana kenaikan PPN karena berbagai alasan.
Artikel Ekonom Soroti Insentif Bansos Sebagai Bantalan Kenaikan PPN 12 Persen pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel PPN 12 Persen, Ekonom: Kelas Menengah Kian Terhimpit pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Kenaikan PPN sebenarnya menyasar transaksi barang dan jasa yang terdaftar pada perusahaan sektor formal yang umumnya dilakukan oleh masyarakat kelas menengah dan atas. Namun dampaknya akan lebih parah pada masyarakat kelas menengah,” kata Faisal saat dihubungi Republik. co id di Jakarta, Senin (18/11/2024).
Faisal menilai pertumbuhan tersebut masih bisa ditanggung oleh masyarakat kelas atas, namun tidak demikian halnya dengan masyarakat kelas menengah yang daya belinya menurun signifikan. Menurut Faisal, kelas menengah mempunyai kontribusi besar terhadap konsumsi rumah tangga di Indonesia, mencapai 84 persen, termasuk kelompok calon kelas menengah.
Oleh karena itu, Faisal menilai kenaikan PPN akan semakin menekan daya beli yang pada akhirnya dapat memperlambat laju konsumsi dalam negeri. Faisal berharap kebijakan kenaikan PPN dapat dievaluasi agar tidak terlalu berdampak negatif terhadap perekonomian, terutama terhadap kelompok masyarakat yang menjadi penggerak utama konsumsi.
“Jika konsumsi melemah maka pertumbuhan ekonomi juga akan melambat. Yang paling tertekan juga adalah kelompok yang memiliki kontribusi terbesar terhadap konsumsi domestik,” lanjut Faisal.
Faisal juga menegaskan, tekanan terhadap masyarakat kelas menengah bukan hanya dari kenaikan PPN saja, melainkan kombinasi berbagai kebijakan lain, seperti kenaikan pajak lainnya dan rencana kenaikan tarif BPJS Kesehatan. Di sisi lain, kenaikan upah kelas menengah dinilai tidak signifikan, bahkan di beberapa sektor mengalami penurunan.
“Kondisi ini diperparah karena sektor yang paling banyak menciptakan lapangan kerja justru menghasilkan upah yang cenderung stagnan atau menurun. Kombinasi kebijakan ini dapat semakin membatasi ruang perekonomian kelas menengah,” kata Faisal.
Artikel PPN 12 Persen, Ekonom: Kelas Menengah Kian Terhimpit pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Bambang Brodjonegoro: Kelas Menengah Indonesia Tergerus oleh Biaya Hidup yang Melonjak pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Penurunan daya beli bisa terjadi dari dua sisi, yaitu dari sisi pendapatan atau pengeluaran. Jika daya beli menurun maka pendapatan kita bisa turun atau pengeluaran kita meningkat. Misalnya kenaikan harga pangan khususnya beras sangat besar. berpengaruh karena itu kebutuhan pokok. Jadi harga beras akan meruncing ke barang lain, sehingga daya beli masyarakat turun,” jelas Bambang di itu. Workshop Kader Muhammadiyah bertema ‘Prospek Perekonomian Indonesia 2025’ di Jakarta, Rabu (20/11/2024).
Bambang juga menyoroti inflasi pangan yang terkadang mencapai 10 persen menjadi beban terbesar. Selain itu, kenaikan harga barang impor akibat fluktuasi nilai tukar dolar juga memperburuk keadaan. Dengan nilai tukar yang menyentuh Rp16.000 per dolar AS, biaya produksi meningkat sehingga memicu kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.
Selain inflasi pangan, pengeluaran besar seperti perumahan dan transportasi juga memberikan tekanan pada kelas menengah. Menurut Bambang, harga BBM yang terus naik dan tingginya cicilan rumah menambah beban perekonomian masyarakat.
“Biaya hidup yang terus meningkat menyulitkan banyak orang, terutama mereka yang bergantung pada pendapatan tetap atau kecil. Jika pemerintah tidak memberikan subsidi atau solusi sosial yang memadai, keluarga-keluarga tersebut akan semakin menderita,” ujarnya.
Selain itu, perubahan pascapandemi juga mendorong banyak masyarakat keluar dari zona aman kelas menengah. Ia mencontohkan sebuah keluarga yang dulunya memiliki penghasilan Rp 30 juta per bulan dari bisnis jasa pernikahan, namun kini bertahan hanya dengan bekerja serabutan karena bisnisnya belum sepenuhnya pulih.
Menyikapi tantangan tersebut, Bambang menekankan perlunya kebijakan yang tidak hanya memberikan bantuan sosial tetapi juga memperbaiki struktur perekonomian.
“Kita perlu membuat kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan infrastruktur dasar, seperti transportasi umum dan perumahan. Kebijakan perpajakan juga harus adil, sehingga tidak hanya menguntungkan segelintir pihak, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat kelas menengah untuk bertahan dan untuk tumbuh, dan juga harus fokus pada peningkatan infrastruktur dasar, seperti transportasi umum dan perumahan,” kata Bambang.
Artikel Bambang Brodjonegoro: Kelas Menengah Indonesia Tergerus oleh Biaya Hidup yang Melonjak pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel PPN 12 Persen, Ekonom: Perlu Disiapkan Bansos, Perlinsos, dan Subsidi untuk Kelas Menengah pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel PPN 12 Persen, Ekonom: Perlu Disiapkan Bansos, Perlinsos, dan Subsidi untuk Kelas Menengah pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Ekonom Ingatkan Prabowo Atasi Masalah Penurunan Kelas Menengah pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Saya kira hal pertama yang harus diatasi adalah keruntuhan kelas menengah. Saya kira itu yang harus menjadi fokus utama,” kata Aviliani dalam debat virtual Indef, Selasa (22/10/2024). Kabinet Prabowo-Gibran,” kata di Jakarta
Permasalahan pertama yang perlu dipertimbangkan adalah lapangan kerja di sektor informal. Aviliani berpendapat, pemerintah seharusnya fokus tidak hanya pada pengalihan pekerja informal ke sektor formal, namun juga memastikan pekerja informal mendapatkan penghasilan yang layak.
“Selanjutnya, kelompok masyarakat miskin dan kurang beruntung menghabiskan lebih dari 64 persen untuk makanan. Kecenderungan untuk makan yang lain sangat sulit sehingga kita perlu meningkatkan pendapatannya agar mereka bisa mengonsumsi yang lain juga,” jelasnya.
Ia juga menyoroti rencana program yang diajukan pemerintahan Prabowo untuk membangun tiga ribu rumah dalam setahun. Stimulus perumahan yang dilakukan pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) adalah bagian dari upaya untuk mendukung kelas menengah, karena properti diyakini menyumbang sebagian besar pengeluaran kelompok tersebut.
“Pertanyaannya, apakah pihak yang menuntut mampu membayar cicilan? Mungkin ada tiga ribu rumah dengan pembeli potensial, tapi sebenarnya tidak ada daya beli. Jadi harus realistis juga,” jelasnya.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Aviliani meminta pemerintah memberikan kesempatan kerja kepada masyarakat.
Dengan digitalisasi yang mendorong efisiensi dan banyak usaha yang tutup akibat dampak Covid-19, peluang kerja kini relatif terbatas.
Situasi ini juga dibarengi dengan minimnya munculnya wirausaha baru. Menurut dia, kreditur usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM) diisi oleh orang yang sama, hal ini menunjukkan lambatnya pertumbuhan wirausaha muda. Jabatan ini merupakan salah satu tugas pokok Kementerian UKM.
“Jadi itu pekerjaan rumah yang menurut saya perlu diselesaikan sejak dini,” ujarnya.
Artikel Ekonom Ingatkan Prabowo Atasi Masalah Penurunan Kelas Menengah pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Legislator Golkar Harap Indonesia Lepas dari Middle Income Trap Lewat Hilirisasi Nikel pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Debat ini digelar pada Jumat (25/10/2024) di Kantor DPP Partai Golkar, Jalan Anggrek Neli Murni, Palmerah, Jakarta Barat.
Anggota Komite XII DPR RI dari Fraksi Golkar Bambang Patijaya hadir sebagai pembicara dalam diskusi ini.
Bambang mengatakan diskusi yang digelar BSNPG merupakan langkah baik untuk mendukung hilirisasi nikel.
“Selanjutnya kita mendengar pidato Presiden (Prabowo Subianto) saat pelantikan tanggal 20 Oktober, beliau dengan jelas menyampaikan bahwa salah satu agenda utamanya adalah hilirisasi mineral,” kata Bambang dalam pemaparannya.
Selain itu, kata dia, pada rapat kabinet pertama pada 23 Oktober 2024, Prabowo kembali menyinggung soal hilirisasi mineral.
“Tentunya mineral terpenting yang produksinya cukup tinggi dari Indonesia adalah nikel. Makanya kita hargai dan saya melihat BSNPG ingin melihatnya,” kata Bambang.
Selain itu, Bambang mengatakan Bahlil Lahadalia, Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), juga menyinggung pengelolaan nikel di Indonesia dalam tesis PhD-nya.
“Baiklah, saya kira ada hal yang sangat menarik untuk kita bahas hari ini dan saya berharap diskusi kita hari ini yang diinisiasi oleh BSN ini semoga dapat menghasilkan pemikiran-pemikiran baru atau mungkin nantinya akan menjadi informasi konstruktif yang akan kita bawa kepada pemerintah khususnya Menteri ESDM. Sumber Daya Mineral. “, katanya.
Ia berharap program hilirisasi dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian secara keseluruhan, serta meningkatkan pendapatan negara.
“Saat ini salah satu isu terpenting adalah bagaimana meningkatkan pendapatan negara dari sektor mineral,” kata Bambang.
Bambang mengatakan, langkah strategis pengawasan hilirisasi nikel membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) sibuk dan berlanjut di kabinet Prabowo Subianto.
BACA JUGA: Inilah Persamaan ISIS dan IDF Israel di Timur Tengah Menurut Para Ahli
Menurut dia, downscaling nikel merupakan langkah penting untuk mendorong transformasi perekonomian nasional.
“Penggerebekan tersebut merupakan isu seksi yang akan meningkatkan pendapatan pemerintah, mengatasi tantangan perekonomian yang berkelanjutan dan mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 8% sehingga kita dapat keluar dari jebakan berpendapatan menengah,” ujarnya.
Bambang berharap kebijakan ini dapat berkelanjutan sehingga hilirisasi mineral dapat memberikan nilai tambah perekonomian yang lebih signifikan bagi Indonesia.
Artikel Legislator Golkar Harap Indonesia Lepas dari Middle Income Trap Lewat Hilirisasi Nikel pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Ekonom Indef Minta Presiden Prabowo Manfaatkan APBN dengan Efektif, Jangan Sampai Bocor pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>“Masalah krusial dalam perekonomian sendiri, APBN kita ruang geraknya sangat terbatas.” Makanya kita harus kreatif sekali dan menghindari kebocoran-kebocoran yang menurut riset kita saat ini rata-rata bukan lagi 30 persen, tapi kebocoran APBN sudah berkisar 40 persen,” ujar Didin dalam diskusi Indef bertajuk “Ekonomi Politik. Kabinet Prabowo-Gibran”, yang berlangsung secara daring, Selasa (22 Oktober 2024).
Jadi jika mengacu pada angka APBN 2024 sebesar Rp 2.802,3 triliun, jumlah kebocoran anggaran bisa mencapai lebih dari Rp 1.100 triliun. Didin menegaskan, hal ini merupakan persoalan kritis yang harus menjadi perhatian Prabowo-Gibran dalam kepemimpinannya lima tahun ke depan.
Selain itu, ia menyebutkan banyak tanggung jawab yang harus diemban oleh Prabowo. Serta utang luar negeri pemerintah (ULN) yang mencapai Rp 8.500 triliun. Selain itu, status kekuasaan masyarakat bawah pun mengalami penurunan, bahkan jumlah masyarakat kelas menengah mengalami penurunan hampir 10 juta jiwa dalam lima tahun terakhir. Selain itu, terdapat permasalahan deindustrialisasi yang saat ini hanya menyumbang 18 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) industri.
“Saya kira ini tantangan berat yang dihadapi Presiden Prabowo dalam menerjemahkan kabinet gemuk saat ini,” kata Didin.
Selain itu, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) ini juga menyoroti kondisi kabinet Merah Putih yang masih penakut. Menurutnya, hal tersebut bisa menjadi langkah tepat bagi Bowo untuk memaksimalkan potensi yang ada melalui banyaknya sumber daya manusia (SDM) yang selama menjabat RI1 menjadi pendampingnya dalam mewujudkan visi dan misinya.
Setidaknya Didin mengungkapkan, tujuan yang ingin dicapai oleh Prabowo lebih jelas, hal ini juga tercermin dari isi pidatonya yang menekankan aspek yang lebih mendasar seperti bagaimana ia ingin mengurangi korupsi secara signifikan, mengentaskan kemiskinan, mencapai swasembada pangan pada empat tahun mendatang. lima tahun, menciptakan swasembada energi dan, dalam arti yang lebih luas, menerapkannya ke bawah. Pendekatan ini berbeda dengan pemerintahan sebelumnya yang lebih menekankan pada kebutuhan infrastruktur yang secara sistematis menghabiskan anggaran besar.
“Kalau kabinet gendut ini merupakan terjemahan untuk menjalankan pernyataan dasar dalam pidatonya, dari sudut pandangnya sebagai orang militer, banyak menteri dan wakil menteri yang sistem komandonya jelas, maka bisa efektif,” kata Didin. .
Artikel Ekonom Indef Minta Presiden Prabowo Manfaatkan APBN dengan Efektif, Jangan Sampai Bocor pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Kemenkeu Diminta Siapkan Anggaran untuk Pertebal Jaminan Sosial Hingga Kelas Menengah pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Anggota DPR RI terpilih periode 2024-2029, Edy Wuryanto, menyoroti fenomena kelas menengah yang mengalami tren penurunan sebanyak 9,48 juta orang dalam lima tahun terakhir, menurut Badan Pusat Statistik. (BPS). AD meminta pemerintah segera mengambil tindakan terhadap tren tersebut.
Laporan BPS ini harus segera direspon pemerintah. Jaminan sosial harus diberikan pada sektor ketenagakerjaan dan kesehatan, kata AD di Jakarta.
Aspek jaminan sosial ketenagakerjaan AD menekankan bahwa kelas menengah memerlukan perlindungan dari berbagai skema seperti jaminan kecelakaan kerja (JKK), jaminan kematian (JKM), dan jaminan hari tua (JHT).
Selain itu, pemerintah juga diminta merevisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 37 Tahun 2021 tentang Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).
Aturan tersebut menyebutkan bahwa peserta JKP akan mendapatkan bantuan keuangan, akses informasi ketenagakerjaan, dan pelatihan kerja selama maksimal enam bulan untuk mempersiapkan mereka kembali bekerja di sektor formal.
Dalam konteks ini, Edy meminta adanya penyederhanaan persyaratan mitra JKP dan perluasan cakupannya. “Sama seperti pekerja kontrak yang seharusnya mendapat manfaat JKP,” imbuhnya.
Edy juga meminta pemerintah membuka lapangan kerja formal untuk menghindari kekurangan tenaga kerja.
Menurut AD, Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teku Rifki juga menegaskan, jangkauan kebijakan jaminan sosial sebaiknya diperluas ke kelas menengah. Kelompok ini cenderung memiliki daya beli yang menurun.
“Alokasi anggarannya bisa diperluas, terutama untuk masyarakat menengah karena daya belinya sedang menurun. “Pada saat yang sama, pemerintah sedang menyusun strategi yang lebih terstruktur dan berjangka panjang seperti penciptaan lapangan kerja,” kata Rifki.
Terkait bidang kesehatan, Keputusan Presiden (Perpres) Nomor 36 Tahun 2023-2024, Rencana Jaminan Sosial Tahun 2023-2024, bertujuan untuk menambah kuota peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) PBI menjadi 113 juta orang pada tahun 2024. Sedangkan realisasi Agustus mencapai 96,7 juta orang pada tahun 2024. Edy berharap pemerintah mampu mencapai tujuan yang ditetapkan Presiden tersebut.
Untuk itu, dia menilai perlu penambahan anggaran dari Rp48,78 triliun menjadi Rp56,85 triliun. “Peningkatan alokasi menjadi Rp56,85 triliun diharapkan dapat memberikan jaminan kesehatan dan sosial bagi kelas menengah yang menurun,” kata AD.
Artikel Kemenkeu Diminta Siapkan Anggaran untuk Pertebal Jaminan Sosial Hingga Kelas Menengah pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel Survei Inventure: Kelas Menengah Indonesia Dalam Krisis, Apa Solusinya? pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Youswohadi, Managing Partner Inventure, mengatakan penurunan daya beli belum merata di kalangan kelas menengah. Padahal, di antara 49 persen yang merasakan penurunan tersebut, kepentingan kelompok kelas menengahlah yang paling terdampak.
“67 persen di antaranya (responden kelas menengah) melaporkan adanya penurunan daya beli, sedangkan kelompok menengah angkanya hanya 47 persen,” ujarnya dalam konferensi pers Indonesia Industry Outlook 2025, ‘Middle Class Destroyed, Is Business Still Menurun?’ Pelacakan online, Selasa (22/10/2024).
Temuan ini menunjukkan bahwa kelas menengah bawah atau calon kelas menengah akan menghadapi tantangan yang lebih besar dalam mempertahankan daya belinya. Yuswhadi kemudian menjelaskan tiga penyebab utama menurunnya daya beli.
Pertama, kenaikan biaya kebutuhan pokok yang dialami 85 persen responden, kedua biaya pendidikan dan kesehatan sebesar 52 persen, dan ketiga karena stagnasi pendapatan yang diterima 45 persen responden.
“Masyarakat kini memilih menunda pengeluaran besar seperti membeli mobil, 70% responden memilih itu. “Mereka merasa situasi ekonomi yang buruk membuat investasi pada aset mahal menjadi berbahaya,” jelasnya.
Situasi ini dibarengi dengan gelombang PHK di berbagai sektor, meningkatnya pengangguran, dan lemahnya permintaan domestik. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia mengalami penurunan sebesar 10 juta orang dalam lima tahun terakhir. Hal ini semakin mempertegas lemahnya posisi kelas menengah yang menjadi motor penggerak perekonomian negara. Oleh karena itu, diperlukan perhatian besar bagi pemerintahan baru untuk memulihkan daya beli masyarakat.
Kabinet baru yang dipimpin oleh Prabowo dan Gibran harus mengambil tindakan tegas untuk memastikan pemulihan ekonomi secara menyeluruh dan berkelanjutan, ujarnya.
Ekonom senior Dr. Aviliani juga mengatakan hal serupa. Menurutnya, pemerintahan baru sebaiknya fokus memberikan insentif kepada pelaku usaha, khususnya UMKM, agar daya beli masyarakat tetap terjaga.
“Perekonomian kita sangat bergantung pada industri konsumen, jika daya beli turun maka perekonomian akan berubah,” kata Avillini.
Situasi ini mendesak pemerintah untuk tidak hanya mengembangkan tetapi juga membuat kebijakan terkait keselamatan masyarakat. Mengingat menyusutnya kelas menengah, diperlukan langkah-langkah strategis untuk mencegah gejolak yang lebih besar di masa depan.
Dian Fath Risale
Artikel Survei Inventure: Kelas Menengah Indonesia Dalam Krisis, Apa Solusinya? pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Artikel JAHANGIR CIRCLE Transaksi Paylater Melonjak di Tengah Pelemahan Daya Beli, Ini Respons Asosiasi Fintech pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan piutang pembiayaan dari BNPL atau melalui skema Paylater meningkat menjadi Rp7,99 triliun pada Agustus 2024 atau 89,20 persen year-on-year (yoy). Peningkatan ini diikuti oleh terjaganya rasio non-performing financing (NPF) bruto sebesar 2,52 persen, dibandingkan pada bulan Juli sebesar 2,82 persen.
“Ini sangat positif bagi industri (fintech) kita karena berarti produknya dikenal masyarakat dan mudah-mudahan dapat dimanfaatkan dengan baik,” kata Direktur Pemasaran, Komunikasi & Pengembangan Komunitas AFTECH Abinprima Rizki saat temu media AFTECH di Jakarta. Selasa (8/10/2024).
OJK menyatakan total pinjaman masyarakat kepada pembayar mencapai Rp 26,37 triliun hingga Agustus 2024. Abynprima menjelaskan, meski pengguna Paylator banyak, namun tetap perlu adanya kesadaran bagaimana dana pinjaman tersebut digunakan.
Di tengah fenomena melemahnya daya beli masyarakat kelas menengah, ia mengimbau Gen-Z dan Milenial untuk menggunakan layanan Paylater untuk kebutuhan produktivitas.
Meski peningkatan penggunaan palatal dipandang positif, Abinprima tetap menekankan pentingnya edukasi tentang penggunaan yang benar. Dalam konteks ini, AFTECH akan terus mengkampanyekan literasi keuangan agar para pengguna pembayar dapat menggunakan layanan ini dengan bijak dan sesuai kebutuhannya.
“Kuncinya adalah perencanaan keuangan yang baik, matang bagi generasi muda, generasi milenial, generasi Gen-Z. “Bukan hanya tanggung jawab AFTECH, tapi juga tanggung jawab pemerintah, regulator, industri, akademisi, kita semua di sini bertanggung jawab atas keterampilan dan kemampuan individu dalam pengelolaan keuangan pribadi,” ujarnya.
Policy Associate AFTECH Hanadia Pasca Yurista mengatakan AFTECH BAKTI aktif menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat, termasuk Kominfo. Kerjasama tersebut bertujuan untuk menjangkau masyarakat yang tergolong unbanked, khususnya di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terpencil).
Diketahui, saat ini OJK sedang menyusun aturan skema pembiayaan Payator. AFTECH memandang hal ini sebagai upaya menjaga kesehatan industri dan melindungi konsumen. Meski AFTECH belum mendapat arahan khusus terkait aturan ini, pihaknya menyambut baik masukan dari regulator.
“Dengan peningkatan ini, kami berharap lebih banyak industri yang akan pergi ke sana dan ada permintaan pasar. “Dan itu juga salah satu hal yang harus kami sertakan dalam survei anggota tahunan tahun depan. (AMS),” jelas Hanadia.
Artikel JAHANGIR CIRCLE Transaksi Paylater Melonjak di Tengah Pelemahan Daya Beli, Ini Respons Asosiasi Fintech pertama kali tampil pada Jahangir Circle News.
]]>